Lima Modus Kejahatan Seksual WNA Terhadap Anak di Indonesia

Estimasi Baca :

Pencabulan anak di Singkawang Tertangkap, Ilustrasi: Pixabay - Kriminologi.id
Ilustrasi Kejahatan Seksual Pada Anak, Foto: Pixabay.com

Kriminologi.id - Banyaknya kasus kekerasan seksual terhadap anak di daerah pariwisata. Ini menjadi daya tarik sendiri bagi para pelaku kejahatan seksual terhadap anak untuk berkunjung dan merasakan layanan tersebut yang kemudian disebut dengan child sex tourism.

The Sydney Morning Herald menyatakan pada tahun 2014, Indonesia merupakan tujuan utama bagi masyarakat Australia yang bertujuan untuk melakukan child sex tourism. Data yang dilansir The Global Study Report pada tahun 2016 ada beberapa daerah destinasi wisata di Indonesia yang rentan terjadi eksploitasi dan kekerasan seksual terhadap anak. Daerah-daerah tersebut adalah Bali, Lombok, Jakarta, Bandung, Medan, dan Batam.

Selanjutnya End Child Prostitution, Child Pornography & Trafficking of Children for Sexual Purposes (ECPAT) Indonesia menyampaikan ada beberapa bentuk tindakan eksploitasi anak yang dapat terjadi di daerah destinasi wisata. Misalnya saja prostitusi anak, perdagangan anak untuk tujuan seksual, perkawinan anak, pornografi anak, dan pencabulan terhadap anak di bawah umur.

Baca: Waspada, 10 Kawasan Destinasi Wisata Rawan Eksploitasi Seks Anak

Memang menurut pantauan ECPAT Indonesia, selama 2017 Direktorat Jenderal Imigrasi Republik Indonesia telah mendeportasi 107 warga negara asing yang diduga sebagai pelaku kekerasan seksual pada anak.

Infografik Modus Warga Asing Lakukan Kejahatan Seksual Pada Anak. Infografik: S. Dwiangga Perwira/Kriminologi.id

Rio Hendra, perwakilan ECPAT Indonesia dalam acara Diskusi Publik Meluruskan Narasi Pedofilia & Kejahatan Seksual Terhadap Anak pada 30 Januari 2017 di Universitas Indonesia menyatakan ada beberapa modus yang biasa dilakukan para pelaku kejahatan seksual terhadap anak yaitu sebagai berikut;

1. Mendekati Masyarakat Lokal

Biasanya pelaku kejahatan seksual akan melakukan komunikasi dengan masyarakat lokal. Masyarakat lokal yang terlibat bisa saja sudah mengetahui maksud tujuan wisatawan untuk child sex tourism atau bisa saja tidak mengetahui maksud yang sebenarnya.

Baca: Pelecehan Seksual WN Jepang, Sosok Diah Tak Banyak Dikenal di Blok M

Masyarakat lokal ini berfungsi sebagai guide keeper yang membantu pelaku kejahatan seksual pada anak masuk ke lingkungan masyarakat disana. Sehingga masyarakat tidak akan mencurigai pelaku tersebut.

2. Memiliki Jaringan Sesama Pelaku

Biasanya pelaku kekerasan seksual terhadap anak memiliki jaringan tersendiri. Fungsi jaringan ini adalah untuk saling sharing informasi terkait dengan daerah mana atau orang-orang siapa saja yang dapat membantu melancarkan niatan mereka.

Jaringan ini bisa saja beranggotakan masyarakat lokal dan juga warga negara asing yang melakukan kejahatan seksual terhadap anak.

3. Berperan Sebagai Penyelamat

Warga negara asing yang berniat melakukan kejahatan seksual terhadap anak biasanya akan berperan sebagai “penyelamat” bagi anak ataupun bagi komunitas di lingkungannya.

Baca: Tips Agar Anak Terhindar dari Kekerasan Seksual

Misalnya saja membangun tempat bermain, membantu perbaikan tempat ibadah, ataupun membantu biaya pendidikan dan biaya hidup anak. Tidak jarang pelaku kejahatan seksual berperan sebagai orang tua asuh bagi si anak. Ini juga yang menyebabkan anak, keluarga, dan masyarakat sekitar tidak mencurigai pelaku tersebut.

4. Mengajak Anak ke Tempat Tinggal Pelaku

Jurus selanjutnya yang dilakukan oleh pelaku kejahatan seksual pada anak adalah dengan mengajak anak untuk mengunjungi tempat tinggal pelaku. Berbagai alasan dan tipu daya dapat dilakukan oleh pelaku.

Salah satu alasan yang sering digunakan oleh pelaku kejahatan seksual pada anak adalah dengan alasan minta dipijat. Selain itu juga sering pelaku mengajak anak bermain ke rumahnya dengan iming-iming diberikan uang jajan ataupun dipinjami permainan video game.

5. Meracuni Anak dengan Konten Porno

Pelaku biasanya juga akan mencekoki anak dengan konten-konten pornografi seperti foto maupun video. Anak akan terbiasa dengan perilaku-perilaku seksual yang dilihatnya sehingga ketika pelaku meminta anak melakukannya, dia akan merasa perilaku tersebut bukan perilaku yang salah dan biasa saja.

Baca Selengkapnya

Home Investigasi Modus Lima Modus Kejahatan Seksual WNA Terhadap Anak di Indonesia

KOMENTAR

Tulis Komentar Kamu

Silahkan masuk terlebih dahulu
Silahkan tulis komentar kamu