Ilustrasi pencabulan anak, Ilustrasi: Dwiangga Perwira/Kriminologi.id

Lima Modus Pencabulan Anak, Dari Nonton Film Horor Hingga Ajari Wudu

Estimasi Baca:
Senin, 23 Jul 2018 13:05:08 WIB

Kriminologi.id - Kejahatan seksual masih terus mengintai anak-anak di Indonesia. Seakan tak ada habisnya, kasus demi kasus terus terungkap. Keluguan anak kerap dimanfaatkan para pelaku kejahatan seksual untuk memuaskan hasrat bejatnya. Seperti halnya dalam kasus pencabulan, beragam modus dilakukan para pelaku guna melancarkan aksinya.

Beberapa waktu yang lalu, terungkap salah satu modus pelaku pencabulan anak, yakni dengan mengajak anak berenang dan mengiming-iminginya sejumlah uang.

Adalah DR (38) pelaku pencabulan yang berhasil ditangkap jajaran Polres Purwakarta pada Kamis, 5 Juli 2018, yang menggunakan modus tersebut. Pelampiasan nafsu bejat DR itu memakan korban enam anak kecil.

DR mengaku telah menjalankan aksinya sejak Mei 2018, dengan cara memberikan iming-iming uang sebesar Rp 50 ribu lalu mengajak renang korban.

Selain modus di atas, Kriminologi.id mencatat pernah terungkap empat bentuk modus pelaku pencabulan lainnya selama lima bulan terakhir. Mirisnya, perilaku cabul tidak hanya dilakukan oleh orang dewasa, anak-anak pun juga terlibat dalamnya.

	Infografik Aneka Modus Pencabulan Anak. Infografik: Amin H. Al Bakki/Kriminologi.id

Berikut modus pencabulan yang pernah terungkap dan wajib diwaspadai orang tua dan anak.

1. Main Kawin-kawinan

Modus mengajak korban untuk main kawin-kawinan berhasil diungkap jajaran Polres Kabupaten Karawang, Jawa Barat, pada 4 Juli 2018. Mirisnya, aksi cabul dengan modus ini melibatkan anak-anak. Sebanyak empat tersangka ditetapkan, tiga tersangka masih anak-anak, yakni di bawah usia 12 tahun. Sementara satu pelaku lain berusia di bawah 18 tahun.

Kasus pencabulan ini terungkap setelah pihak kepolisian mendapatkan laporan dari pihak keluarga korban. Dari hasil pemeriksaan sejumlah saksi, teridentifikasi empat pelaku. Tiga pelaku yang masih di bawah usia 12 tahun diketahui menggunakan modus main kawin-kawinan. Sedangkan untuk tersangka lain berinisial W, melakukan modus bujuk rayu.

Tersangka W tinggal di satu kampung dengan korban. Aksi pencabulan itu dilakukan selama kurun waktu 2016 sampai 2017, dan tidak dilakukan secara berurutan waktu.

Pihak kepolisian menjelaskan dalam menangani kasus ini mereka memerlukan waktu lebih dan melibatkan pihak lain, seperti dinas sosial dan psikolog.

2. Mengajak Nonton Film Horor

Modus ini terungkap pada kasus pencabulan terhadap anak-anak di bawah umur yang terjadi di kawasan Cakung, Jakarta Timur, awal April 2018 silam. Terungkapnya kasus ini berawal dari pengakuan M yang telah menjadi korban pencabulan yang dilakukan Imam Sulaiman.

Pengakuan anak perempuan berusia tujuh tahun itu mendorong warga setempat untuk melaporkan kejadian itu. Selain M, ada korban lainnya yakni T (7), F (7), SO (8) dan N (6). 

Saat dibawa ke Polsek Cakung, Imam tak bisa berkelit. Ia mengakui perbuatannya telah melecehkan anak-anak perempuan berusia enam sampai tujuh tahun di dalam kontrakannya. 

Untuk melancarkan aksinya, Imam mengajak anak-anak menonton film horor yang dibintangi Suzanna yang berisi adegan seksi. Saat menonton itulah Imam mulai melakukan aksi cabulnya. Usai melakukan aksinya, korban kemudian disuruh pulang dan dikasih uang Rp 1.000 sampai Rp 5.000.

3. Melakukan Rukiah

Rukiah atau metode penyembuhan dengan cara keagamaan menjadi salah satu modus pencabulan yang disoroti Komisioner Bidang Pendidikan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Retno Listyarti. Modus ini kerap dilakukan oknum guru terhadap muridnya, dan diakui ampuh memperdaya korban sehingga pelaku bisa melampiaskan nafsu bejatnya.

Pada kasus pencabulan ini, sedikitnya 25 murid sekolah diduga menjadi korban salah satu guru berinisial EA di SMPN 6 Jombang. Untuk memuluskan aksinya, EA yang merupakan guru berstatus PNS pindahan dari sekolah lain itu menggunakan modus rukiah. 

Pelaku berdalih ada jin di dalam tubuh para korbannya, lalu mengaku bisa mengobati mengeluarkan jin itu dengan rukiah. Pelaku mengatakan ke korban bahwa jin itu ada di bagian-bagian tubuh tertentu. Pelaku pun meminta korban untuk melepas pakaiannya. Saat itulah pelaku menjalankan aksi bejatnya.

Mirisnya, pelaku dikenal sebagai guru yang rajin mendampingi kegiatan kesiswaan dan menjadi imam salat berjamaah. Selain itu, juga dikenal baik dan dekat dengan murid.

4. Mengajari Wudu

Penangkapan seorang ustaz pondok pesantren di Kecamatan Kopo, Kabupaten Serang, Banten, mengungkap modus pencabulan ini. HH (45) ditangkap petugas Polsek Kopo pada Rabu, 7 Februari 2018, karena diguga melakukan pencabulan terhadap 17 santriwati di pondok pesantren tersebut.

Dugaan pencabulan tersebut dilakukan pada Jumat, 3 Februari 2018. Saat itu, HH memanggil satu persatu santriwati yang masih di bawah umur ke salah satu ruangan pondok pesantren.

Dalam menjalankan aksinya, HH menjelaskan berbagai hal yang dapat membatalkan wudu. Ia pun langsung memberikan contoh dengan meraba-raba bagian sensitif korban satu per satu.

Salah satu santriwati yang menjadi korban perbuatan bejat sang ustaz itu tidak tinggal diam. Perbuatan HH tersebut dilaporkan korban kepada orang tuanya. Pihak orang tua pun langsung melaporkan kasus ini ke Polsek Kopo. Alhasil, sang ustaz pun harus mempertanggungjawabkan perilaku bejatnya di depan hukum.

Penulis: Aditia Tjandra
Redaktur: Djibril Muhammad
KOMENTAR
500/500