Ilustrasi Gula Rafinasi: Dwiangga Perwira/Kriminologi.id

Menguak Jejak Distribusi Gula Rafinasi PT Crown Pratama

Estimasi Baca:
Selasa, 7 Nov 2017 19:55:23 WIB

Kriminologi.id - Direktorat Tindak Pidana Ekonomi dan Khusus Badan Reserse Kriminal atau Bareskrim Mabes Polri mengungkap kasus penyimpangan distribusi gula kristal rafinasi yang diduga dilakukan PT Crown Pratama. Penyimpangan itu terungkap karena PT Crown mendistribusikan gula rafinasi ke sejumlah hotel dan kafe. Padahal, semestinya gula rafinasi diperuntukan bagi industri makanan.

“Terdapat tiga alur dalam penyimpangan pendistribusian gula kristal rafinasi dari produsen, PT Crown Pratama, hingga ke pihak konsumen,” kata Direktur Tindak Pidana Ekonomi dan Khusus Bareskrim Polri, Brigadir Jenderal Agung Setya Imam Effendi, melalui pesan singkat kepada Kriminologi di Jakarta, 7 November 2017.

Dalam tiga alur itu, kata Agung, pertama, PT Crown Pratama memesan gula kristal rafinasi kepada dua perusahaan selaku distributor. Kedua distributor itu lalu mengirimkan pesanan gula kristal rafinasi seberat 50 kilogram per karung kepada PT Crown Pratama.

Baca: Kasus Gula Rafinasi, Bareskrim Periksa Hotel Aliya dan Grand Aliya

Kedua, PT Crown Pratama kemudian mengemas gula rafinasi itu ke dalam bentuk sachet dengan berat 6 sampai 8 gram. Ketiga, terdapat pemesanan gula rafinasi untuk dikemas dalam bentuk sachet dari grup perhotelan atau kafe kepada PT Crown Pratama.

Pengemasan dalam bentuk sachet inilah, kata Agung, yang disalurkan kepada sejumlah hotel dan kafe untuk keperluan konsumsi. Pengemasannya dalam bentuk sachet bahkan menggunakan nama hotel pemesan gula tersebut. Hotel Aston salah satu yang tertera namanya dalam kemasan sachet gula rafinasi tersebut. 

"Atas dasar itu, PT CP kemudian mendistribusikan gula rafinasi yang telah dikemas ke beberapa hotel dan kafe," tuturnya.

Baca: Infografik: Bahaya Mengintai di Balik Gula Rafinasi

Kriminologi mencoba mengkonfirmasi dugaan penggunaan gula rafinasi kemasan oleh Hotel Aston dengan mengunjungi salah satu hotelnya yang berada di bilangan Simatupang, Jakarta Selatan. Ketika ditemui, pihak hotel tersebut menolak memberi pernyataan. 

Seseorang bernama Nita dari pihak Hotel Aston menyarankan untuk menghubungi melalui email. Namun, hingga kini belum ada jawaban. Kriminologi kemudian mencoba mengkonfirmasi ke Aston Pusat yang ada di bilangan Kota Kasablanka, Kuningan, Jakarta Selatan. Namun, pihak Aston pusat menolak diwawancara.

Selain Hotel Aston, Kriminologi juga telah menghubungi pihak Hotel Aliya, yang sebelumnya telah diperiksa oleh Bareskrim. Mewakili pihak hotel, Abu Bakar, salah satu manajer di Hotel Aliya menolak bicara ketika Kriminologi mencoba mengkonfirmasi terkait penggunaan gula rafinasi untuk konsumsi di hotel tersebut.

Infografik alur distribusi gula rafinasi. ilustrasi: Dwiangga Perwira/Kriminologi.id

Dalam kasus penyimpangan distribusi gula rafinasi, penyidik Bareskrim telah menetapkan Direktur Utama PT Crown Pratama Benyamin Budiman sebagai tersangka. Penetapan tersebut karena Benyamin melanggar Pasal 62 tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen. Akibat perbuatannya, tersangka diancam hukuman 5 tahun penjara.

Baca: Beredar di 56 Hotel, Begini Bahaya Gula Rafinasi

Namun, saat akan diperiksa, tersangka Benyamin Budiman tidak memenuhi panggilan penyidik Bareskrim Polri yang dijadwalkan Senin, 6 November 2017. Tersangka tak hadir lantaran mengaku sakit dan sedang dirawat di Rumah Sakit Omni, Tangerang, Banten. Informasi ini disampaikan oleh penasihat hukumnya yang mewakili tersangka datang memenuhi panggilan tersebut sembari membawa surat penundaan dengan keterangan sakit. 

Sementara penyidik yang telah menggeledah PT Crown Pratama, telah menyita barang bukti 20 sak gula kristal rafinasi seberat 50 kilogram dan 82.500 sachet gula rafinasi siap konsumsi. Selain itu, juga ditemukan bungkus kosong kemasan sachet bertuliskan nama hotel dan kafe.

Berdasarkan keterangan pihak kepolisian, PT Crown Pratama sudah beroperasi sejak 2008. Perusahaan ini awalnya mengemas gula rafinasi untuk konsumsi sebanyak dua ton per bulan. Delapan tahun kemudian atau 2016, produksi PT Crown Pratama meningkat menjadi 20 ton per bulan. 

Baca: Polisi: Gula Rafinasi Mengalir ke 56 Hotel di Jakarta

Kepolisian mencatat, PT Crown Pratama membeli gula kristal rafinasi seharga Rp 10 ribu per kilogram. Gula rafinasi itu kemudian dikemas dalam sachet seberat 6 sampai 8 gram untuk dijual ke pihak hotel dan kafe seharga Rp 130. 

Bila PT Crown Pratama menjual kemasan gula 6 gram dalam bentuk sachet, keuntungan yang diperoleh PT Crown Pratama senilai Rp 11.600 per kilogram. Sementara untuk kemasan 8 gram, keuntungannya Rp 6.250 per kilogram. Bila dikalkulasi dalam sebulan, keuntungan yang diperoleh PT Crown Pratama bisa mencapai lebih dari Rp 200 juta per bulan. 

Menurut laman Badan Pengawas Obat dan Makanan BPOM, gula rafinasi merupakan gula mentah yang telah mengalami proses pemurnian untuk menghilangkan molase, sehingga gula rafinasi berwarna lebih putih dibandingkan gula mentah yang lebih berwarna kecokelatan. 

Baca: Jual Gula Rafinasi ke Hotel dan Kafe, Polisi Periksa Distributor

Pemerintah melarang mengonsumsi gula rafinasi karena dapat menimbulkan berbagai masalah kesehatan. Sebab, kata dokter spesialis penyakit dalam Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta Pusat, Ari Fahrial Syam, gula rafinasi mengandung indeks glikemik lebih tinggi sehingga bila dikonsumsi dapat meningkatkan gula darah seseorang.

Dengan meningkatnya gula darah, lanjut Ari, maka bisa berdampak pada timbulnya beragam penyakit, di antaranya kolesterol tinggi dan risiko terjadinya kencing manis. TD

KOMENTAR
500/500