Bareskrim Ungkap Peredaran Narkoba Dengan Modus Baru. Foto: Rahmat Kurnia/Kriminologi.id

Modus Baru Peredaran Serbuk Ekstasi, 1 Bungkus Dipakai 4 Orang

Estimasi Baca:
Jumat, 31 Ags 2018 18:50:41 WIB

Kriminologi.id - Direktorat Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri mengungkap modus baru peredaran narkoba jenis serbuk ekstasi  atau happy water yang dibungkus menyerupai kemasan obat tradisional.

"Kemasannya itu seperti kemasan obat Cina. Peredarannya di tempat hiburan malam di Jakarta, belum ke wilayah lain," kata Direktur Tindak Pidana Bareskrim Polris, Brigjen Pol Eko Daniyanto di Gedung Dirtipid Narkoba Mabes Polri,Cawang, Jakarta Timur, Jumat, 31 Agustus 2018.

Kasus tersebut terungkap setelah anggota mendapat informasi adanya peredaran narkoba jenis serbuk ekstasi yang diedarkan di tempat hiburan malam di wilayah Jakarta. Dari penyelidikan tersebut kepolisian meringkus satu tersangka di Apartemen daerah Jakarta, Jumat, 24 Agustus 2018.

"Penggerebekan di apartemen di Jakarta skala home industri. Kami juga tangkap satu WN Malaysia berinisial SI sebagai koki, sementara pemilik masih DPO," kata Eko.

Dari penangkapan itu diketahui SI mendapatkan bahan baku pembuatan serbuk ekstasi yang dikemas dalam kemasan obat dari Cina.

"Koki Malaysia ini meracik tiga bahan yaitu Ketamine, Metapitami dan serbuk stroberi kemudian dibelender jadi satu, dimasukan ke dalam kemasan seperti obat tradisional. Dia sudah bekerja selama enam bulan di Jakarta," katanya.

Ekstasi tersebut kemudian dipasarkan ke diskotik di Jakarta dengan harga Rp 2 juta. Cara pemakaiannya sederhana hanya tinggal memasukan happy water ke dalam gelas.

"Tinggal diseduh pakai air biasa, bisa juga air teh. Keistimewaannya efek ekstasi ini lebih lama dari ekstasi sebelumnya. Satu bungkus itu bisa dipakai untuk 3 sampai 4 orang," katanya.

Menurut Eko, pemasaran serbuk ekstasi atau happy water dengan modus baru tersebut masih belum menyebar ke wilayah lain. Penyebaranya hanya di Jakarta.

"Pemesannya hanya orang-orang tertentu dan tidak banyak yang tahu," jelas Eko.

Reporter: Rahmat Kurnia
Redaktur: Djibril Muhammad
KOMENTAR
500/500