Penipuan token listrik. Ilustrasi: Kriminologi.id

Modus Iming-iming Bonus Investasi, 11 Ribu Korban Tertipu

Estimasi Baca:
Jumat, 3 Nov 2017 22:02:51 WIB

Kriminologi.id - Iming-iming investasi kerap dijadikan modus bagi pelaku kejahatan untuk mengeruk keuntungan. Pelaku memperdaya korbannya yang dinilai tergiur keuntungan berlimpah.

Sebut saja praktik penipuan yang dilakukan Direksi PT Mione Global Indonesia (PT MGI). Penyidik Direktorat Tindak Pidana Ekonomi Khusus Bareskrim Polri menangkap dua pelaku berinisial DH dan ES yang merupakan Direksi PT Mione Global Indonesia.

Dalam menjalankan aksinya, menurut polisi keduanya menawarkan kepada masyarakat untuk berbisnis penjualan token, baik pulsa ponsel ataupun token listrik.

Untuk menawarkan kepada calon korbannya, sindikat ini menawarkan harga empat paket yang bervariasi. Mulai dari Rp 3 juta hingga Rp 72 juta kepada calon korbannya.

BACA: Penipuan Berkedok Jual Token Listrik Terungkap, Kerugian Rp 400 M

“Sebagai contoh apabila masyarakat menempatkan uang sebesar Rp 72 juta, maka setiap 10 hari akan mendapatkan 300 poin yang bisa ditukar dengan pulsa HP atau listrik sebesar Rp 3 juta," kata Direktur Tindak Pidana Ekonomi Khusus Bareskrim Polri Brigjen Pol Agung Setya di Bareskrim Polri, Jakarta, Jumat, 3 November 2017.

Daya tarik ini yang menjadikan korbannya tergiur keuntungan. Warga dijanjikan mendapat untung besar dengan membeli saldo untuk pulsa seluler atau token listrik yang dijual.

Bahkan menurut penulusuran Kriminologi di sejumlah situs dan blog, para calon korbannya ditawarkan bonus hingga 200 persen. Ada pula janji bonus berupa rumah mewah, mobil mewah, dan sejumlah barang berharga lainnya dengan total bonus mencapai Rp 2 miliar.

Selain bonus tersebut, sindikat ini juga mengiming-imingi bonus sponsor sebesar 8 persen jika mengajak orang lain untuk menjadi member. Ada pula bonus sebesar 5 persen apabila membantu mempresentasikan produk tersebut kepada orang lain.

BACA: Kisah Konsumen Rumah Syariah, Niat Hindari Bank Berakhir Perkara

Tak hanya itu, ada pula bonus pasangan dari downline yang diberikan sebesar 10 persen. Yang membuat lebih menggiurkan lagi, jika downline bertransaksi akan diberikan bonus maksimal sebesar 18 persen. Sehingga bisnis ini disebarkan para pelaku dengan jargon Pasif Saja Untung Apalagi Aktif.

Berdasarkan data yang diperoleh penyidik polisi, total kerugian dari para korbannya mencapai Rp 400 miliar lebih. Sindikat penipuan itu, menurut polisi diduga berasal dari tersangka utama yang diketahui bernama LKC warga negara Malaysia. 

Awalnya, bisnis ini mentargetkan para tenaga kerja Indonesia di Malaysia. Kemudian tersangka membuka kantor di Indonesia untuk melakukan penipuan kepada masyarakat.

Banyaknya jumlah korban yang mencapai 11.800 orang, membuat pihak kepolisian membuka pengaduan masyarakat yang merasa tertipu dengan sindikat tersebut. Pihak kepolisian mempersilakan melaporkan langsung ke Direktorat Tipideksus Bareskrim Polri dengan membawa dokumen.

Atau bagi yang merasa menjadi korban, warga juga bisa mengadukan lewat surat elektronik atau  email ke tipideksus.bareskrim@polri.go.id.

Polisi kini tengah berkoordinasi dengan pihak interpol guna mengeluarkan red notice untuk satu tersangka utama yakni berinisial KCL, warga negara Malaysia.

Redaktur: Achmad Sakirin
KOMENTAR
500/500