Ilustrasi kartu kredit, Ilustrasi: S Dwiangga Perwira/Krimnologi.id

Ngaku Pemilik Hingga CS, Sindikat Leluasa Bobol Kartu Kredit Nasabah

Estimasi Baca:
Senin, 16 Apr 2018 19:25:50 WIB
Sindikat pembobol kartu kredit mengaku sebagai pemilik hingga customer service kuras kartu kredit nasabah sejumlah bank.

Kriminologi.id - Sebanyak empat pria berinisial NM (27), TA (24), AN (36), dan IS (32) ditangkap Tim Subdit Umum Jatanras Ditreskrimum Polda Metro Jaya. Mereka ditangkap karena melakukan tindak pidana penipuan dan pencurian atau pembobolan kartu kredit milik sejumlah nasabah perbankan.

“Sindikat tersebut melakukan pembobolan kartu kredit melalui berbagai modus. Dari berpura-pura sebagai pemilik kartu kredit sampai customer service,” kata Kasubdit Penmas Polda Metro Jaya, Ajun Komisaris Besar I Gede Nyeneng di Jakarta, Senin, 16 April 2018. 

I Gede menjelaskan, sindikat berjumlah empat orang itu leluasa membobol kartu kredit milik nasabah setelah tersangka NM membeli database kartu kredit nasabah bank-bank tertentu dari tersangka IS, yang dibantu oleh tersangka TA. Sementara IS, selaku ahli teknologi informasi, mengaku mendapat database tersebut setelah membelinya secara online di situs TemanMarketing.com. 

“Dari data-data tersebut, dicari data nasabah yang masih aktif. Setelah mendapatkan data yang masih aktif, mereka menghubungi pihak bank dan mengaku sebagai pemilik kartu kredit untuk mengubah data nasabah,” ujar I Gede Nyeneng.

Sementara itu, Panit II Subdit Jatanras Ditreskrimum Polda Metro Jaya, Ajun Komisaris Abdul Rahman, mengatakan IS membeli 1000 data nasabah seharga Rp 1 sampai 1,5 juta. Dari jumlah tersebut, beberapa data nasabah antara lain atas nama Dicky S, Iwan Taslim, Frengky, dab Agustina ternyata dapat diaktifkan kembali. 

“Selanjutnya, mereka menghubungi Call Center setiap bank penerbit kartu kredit. Mereka mengaku sebagai pemilik kartu kredit tersebut, dan meminta pergantian nomor HP sekaligus meminta penerbitan kartu kredit yang baru," ujar Abdul Rahman.

Sementara itu, usai mendapat data nasabah yang masih aktif, pelaku NM menghubungi para korban dengan mengaku sebagai call center bank. Kepada korban, NM mengatakan terdapat transaksi melalui kartu kredit korban. Setelah itu, NM yang dibantu AN meminta para korban menyebutkan 3 digit angka yang ada di belakang kartu dan tanggal masa kadaluarsa kartu kredit miliknya. 

"Setelah tersangka mendapatkan tiga digit angka yang ada di belakang kartu dan tanggal kadaluarsanya, mereka akan mengambil alih penggunaan kartu kredit tersebut dan membelanjakannya secara tunai maupun online," kata Abdul Rahman.

Usai menghubungi nasabah, giliran pihak bank yang kemudian dihubungi oleh pelaku NM untuk mempermudah transaksi via kartu kredit milik para korban. Saat dihubungi pelaku, pihak sempat melakukan verifikasi. Namun karena telah mengantongi data para nasabah kartu kredit, NM bisa dengan mudah menjawab pertanyaan konfirmasi yang diajukan pihak bank. Setelah lolos verifikasi, pihak bank akan memberikan OTP (One Time Password) terhadap pelaku.

Tersangka NM kemudian meminta kepada customer service tiap bank yang dihubunginya untuk menerbitkan kartu kredit baru dan diantarkan ke rumahnya. Setelah NM mendapatkan kartu kredit baru, ia akan melakukan transaksi tarik tunai atau secara online. Atas perbuatannya, para tersangka diganjar Pasal 373 KUHP dan atau Pasal 362 KUHP dengan ancaman hukuman pidana penjara maksimal 5 tahun.

Reporter: Erwin Maulana
Penulis: Tito Dirhantoro
KOMENTAR
500/500