Polda Metro Jaya merilis kasus mafia tanah libatkan kepala desa hingga camat di wilayah Bekasi, Jawa Barat. Foto: M.Rizqi Ghiffari/Kriminologi.id

Pakai Data Warga Meninggal, Modus Mafia Tanah Bekasi Rampas Lahan

Estimasi Baca:
Rabu, 5 Sep 2018 22:35:03 WIB

Kriminologi.id - Aksi perampasan lahan milik warga Desa Segara Makmur, Bekasi yang dilakukan oleh belasan perangkat desa memanfaatkan data warga yang sudah meninggal. Dengan cara sedemikian rupa, para mafia ini membuat dokumen atas nama Raci dan mengklaim sejumlah lahan warga sebagai hak warisan milik Raci.

"Setelah Dagul, Jaba dan Agus berhasil mengklaim tanah di Desa Segara Makmur tersebut dengan dalih pemindahan hak waris tanah dari seseorang bernama Raci, ketiganya kemudian akan menjual tanah tersebut kepada seorang perempuan bernama Melly Siti Fatimah dengan harga Rp 600 juta," kata Wakil Direktur Ditreskrimum Polda Metro Jaya, AKBP Ade Ary Syam Indradi, Rabu, 5 September 2018.

Ade mengatakan, pelaku yaitu Dagul, Jaba, dan Agus bertugas untuk mengklaim tanah di Desa Segara Makmur.

Dokumen-dokumen palsu itu bisa keluar karena hasil kongkalikong antara perangkat Desa Segara Makmur yaitu Amran, Agus Sopyan dan Syafii, dan perangkat Kecamatan Tarumajaya yaitu Herman Sujito, Suhermansyah, dan staf pemerintahan Barif.

"Dokumen-dokumen palsu yang digunakan para pelaku antara lain seperti alas hak tanah berupa girik, surat penguasaan fisik, keterangan tidak sengketa, dan surat-surat klaim lainnya," ujar Ade.

Ade menjelaskan, seorang staf pemerintahan setempat yakni Barif ditugaskan untuk menyiapkan semua dokumen penting tersebut.

Dokumen-dokumen itu akan dilegalisir dan disahkan oleh perangkat Desa Segara Makmur. Sedangkan Amir, sebagai Kepala Desa Segara Makmur, Agus Sopyan selaku sekretaris desa, dan Syafii salah satu staf desa, ketiganya bertugas melegalisir semua dokumen palsu tersebut. Dokumen-dokumen tersebut dirancang oleh Barif.

Pembuatan surat kematian dan keterangan waris tanah palsu itu juga dibantu oleh Camat Tarumajaya yakni Herman Sujito dan staf kecamatan setempat yakni Suhermansyah.

"Kemudian, dokumen berupa surat kematian dan keterangan waris tanah palsu yang diajukan oleh Dagul, Jaba dan Agus tersebut akan diperkuat oleh dokumen yang sudah dirancang oleh Barif sebelumnya, seperti alas hak tanah berupa girik, surat penguasaan fisik, keterangan tidak sengketa dan surat-surat klaim lainnya," kata Ade.

Namun, berdasarkan hasil penyelidikan, Ade menjelaskan, Raci tidak mempunyai tanah sepetak pun di Kampung Kelapa Desa Segara Makmur, Tarumajaya. Bahkan, ia sudah meninggal sejak tahun 2006.

"Selain ditemukan bahwa tidak ada warga yang bernama Raci tersebut, modus mereka juga terbongkar kala polisi menerima laporan dari salah satu warga setempat bernama Lilis Suryani. Karena, selaku pemilik tanah yang sah dan terbukti, Lilis merasa keberatan begitu tiba-tiba melihat terbitnya akta jual beli atas tanah yang dimilikinya sendiri," kata Ade.

Dari penangkapan sebelas mafia tanah tersebut, terungkap bahwa mereka diduga membuat 163 akta jual beli tanah palsu. Aksi ini, sudah mereka lakukan sejak lama. Jika diakumulasikan, total tanah dari 163 akta jual beli palsu tersebut bisa mencapai seluas 7.700 meter persegi dengan perkiraan harga taksiran mencapai Rp 23 Miliar.

"Yang lebih menarik lagi adalah bahwa dokumen-dokumen palsu yang dibuat oleh Herman tersebut dicatat di buku resmi yang disimpan di kantor kecamatan. Setiap tahunnya, Herman kerap menutup administrasi buku tersebut di halaman terakhir," kata Ade.

Atas aksi busuknya, semua anggota jaringan mafia tanah tersebut akan diganjar pasal berlapis mulai dari Pasal 263, 264 dan Pasal 266 KUHP dengan ancaman hukuman 6 tahun penjara. 

Hingga saat ini, kepolisian masih mengembangkan kasus tersebut untuk mengetahui kemungkinan muncul warga setempat lainnya yang menjadi korban.

Reporter: Erwin Maulana
Penulis: Yenny Hardiyanti
Redaktur: Reza Yunanto
KOMENTAR
500/500