Para korban tindak pidana perdagangan orang dengan modus jasa pengiriman Tenaga Kerja Indonesia (TKI). Foto: Rahmat Kurnia/Kriminologi.id

Perdagangan Orang Modus Kawin Kontrak, Pelaku M Lihai Melobi Korban

Estimasi Baca:
Minggu, 29 Jul 2018 13:05:32 WIB

Kriminologi.id - Tersangka TDD alias M selaku broker yang merekrut wanita dalam kasus perdagangan orang atau human Trafficking  di Polda Jawa Barat, dikenal lihai dalam melobi para korbannya. TDD mendapatkan keuntungan sebesar RP 5 juta untuk setiap orang dan rela meninggalkan pekerjaannya.

Sejak berkenalan dengan dua orang asal Cina melalui media sosial, kehidupan TDD berubah seketika.

Dalam rentang Januari 2018 hingga Mei 2018, M melakukan pencarian wanita yang mau menjadi tenaga kerja wanita sebagai pekerja seni di Cina.

"M ini sangat lihai melobi calon korban, bahkan M ini langsung menemui orang tua korban dan membawa kompensasi uang bagi keluarga pekerja tersebut," kata Direskrimum Polda Jabar, Kombes Umar Surya Fana, Minggu, 29 Juli 2018.

Menurut Umar, dengan profesi baru tersebut, M mendapatkan keuntungan yang cukup lumayan.

"M ini dapat keuntungan sampai Rp 5 Juta per kepala, sehingga M meninggalkan pekerjaan lamanya sebagai pegawai swasta," kata Umar.

Penyidik Polda Jawa Barat menurut Umar, pihaknya terus menggali peran M. Termasuk  menelusuri transaksi uang yang masuk ke rekening M.

"Kami sita buku rekening beserta ATM-nya, dan ini untuk membuktikan bahwa M mendapat uang dari dua tersangka asal Cina dan uang dari para calon korban," kata Umar.

Namun Umar mengaku tidak mendalami pekerjaan M sebelum menjadi broker para korban.

"M bekerja di perusahaan swasta, penyidik tidak mendalami pekerjaannya apa, namun mendalami peran dari M dalam kasus penjualan wanita ke Cina," jelasnya.

Diberitakan sebelumnya, perdagangan orang atau human trafficking diungkap Polda Jawa Barat. Belasan perempuan yang menjadi korban diketahui berasal dari Kabupaten Purwakarta, Kota Sukabumi, Tangerang, dan Kabupaten Bandung.

Menurut pihak kepolisian, pelaku menggunakan modus kawin kontrak kepada para korbannya. Modus tersebut diyakini polisi sebagai modus baru dalam perdagangan manusia yang dibawa ke Cina.

Kasus itu terungkap karena salah seorang korban berhasil melarikan diri dari lokasi penampungan di sebuah apartemen di Jakarta.

Para pelaku dijerat Pasal 2, 4, 6, 10 dan 11 Undang-undang Nomor 21 Tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang juncto Pasal 88 Undang-undang Nomor 35 Tahun 2014 Tentang Perlindungan Anak dengan ancaman pidana penjara paling singkat 3 tahun dan maksimal 15 tahun atau denda minimal Rp 120 juta dan paling banyak Rp 600 juta.AS

Reporter: Arief Pratama
Redaktur: Achmad Sakirin
KOMENTAR
500/500