Ilustrasi uang palsu. Ilustrasi Dwiangga Perwira/Kriminologi.id

Peredaran Upal di Solok, Beli Rokok untuk Dapat Kembalian Uang Asli

Estimasi Baca:
Selasa, 3 Jul 2018 09:30:06 WIB

Kriminologi.id - Peredaran uang palsu melibatkan dua orang pelajar di Kota Solok, Sumatera Barat berhasil terungkap. Pelaku membuat uang palsu pecahan Rp 100 ribu yang digunakan untuk membeli rokok dengan tujuan mendapatkan kembalian uang asli.

Kapolres Solok Kota Ajun Komisaris Besar Pol Dony Setiawan mengatakan uang palsu tersebut ditemukan di lima tempat berbeda di Polsek Solok Kota pada Minggu, 1 Juli 2018. 

"Uang tersebut kami temukan dari lima TKP di wilayah hukum Polres Solok, dua di Sungai Lasi dan Aripan Kabupaten Solok, selebihnya di Laing, Ampang Kualo Kota Solok yang digunakan pelaku untuk membeli rokok," kata Dony Setiawan, Senin, 1 Juli 2018.

Empat pelaku pemalsuan uang tersebut yakni AF (18) pelajar SMKN 2 Aur Gading, JF (15) warga Nagari Limo Koto, Pb dan To. Dua pelaku yakni AF dan JF ditangkap petugas di Kota Tujuah, Kabupaten Sijunjung. Sedangkan pelaku Pb dan To ditangkap petugas di Ampang Kualo, Kota Solok.

Modus kejahatan ini, kata Dony, yakni salah seorang pelaku berinisial AF mengambil gambar dan ukuran uang dari internet. Kemudian, ia mengedit menggunakan photoscape lalu mencetaknya.

Sedangkan tiga pelaku lainnya bertugas untuk mengedarkan uang tersebut dengan cara membeli rokok. Hasil dari pembelian rokok itu membuat para pelaku bisa mendapatkan kembalian uang asli dari transaksi tersebut.

Dari hasil penangkapan keempat tersangka ini, petugas mengamankan uang palsu sebanyak 184 lembar pecahan 100 ribu, telepon genggam untuk menggungah gambar, seperangkat komputer, serta mesin pencetak merek Canon.

"Nantinya, uang kembalian rupiah asli dibagi rata pada setiap anggota," kata Dony.

Tersangka mengakui telah melakukan pemalsuan uang itu dan mengedarkannya sebelum hari raya Idul Fitri kemarin.

Kasat Reskrim Zamri Elfino menambahkan, tindakan pelaku ini diketahui karena saat pedagang mengecek uang yang mereka berikan terlihat tidak seperti uang asli. Korban lalu langsung menelepon kepolisian setempat.

"Kami langsung mengejar pelaku dan melakukan penyelidikan di TKP sementara korban masih membuat laporan," kata Zamri.

Menurut pengakuan tersangka, kata Zamri, mereka juga melakukan hal yang sama di sepuluh TKP Sawahlunto, 14 TKP Sijunjung. Saat ini, kepolisian setempat masih mengembangkan penyelidikan atas kasus pembuatan dan pengedaran uang palsu tersebut.

Atas perbuatannya, para pelaku terjerat dengan UU Nomor 7 tahun 2011 tentang mata uang. Dari Undang-undang tersebut, terkait dengan pemalsuan, para pelaku terjerat dengan Pasal 36 ayat 1 dengan ancaman hukuman 10 tahun pencara.

Sedangkan atas aksi pengedarannya, mereka terjerat dengan Pasal 36 pasal 3 dengan ancaman hukuman selama 15 tahun penjara. Namun, karena dua tersangka masih berusia di bawah umur maka akan diberlakukan sistem peradilan anak.

Penulis: Yenny Hardiyanti
Redaktur: Reza Yunanto
KOMENTAR
500/500