Kriminologi

Al Setnov

Estimasi Baca:
Sabtu, 18 Nov 2017 07:35:00 WIB

Kriminologi.id - Setya Novanto mendaku tidak pernah mangkir terhadap panggilan KPK. Dia menyatakan, sudah tiga kali memberikan keterangan secara tertulis, dan merasa tidak menerima sepeserpun duit dari proyek e-KTP. 

Itulah antara lain keterangan dari Setya Novanto atau Setnov saat menjawab pertanyaan wartawan Metro TV lewat sambungan telepon, beberapa hari lalu. Beberapa saat setelah wawancara, pengacaranya mengabarkan Setnov kecelakaan lalu-lintas. Mobilnya menabrak tiang listrik. Dia dikabarkan gegar otak, hanya sehari setelah KPK kembali menjadikannya sebagai tersangka dalam kasus dugaan korupsi e-KTP dan menggerebek rumahnya. 

Beberapa pekan sebelumnya, jantung Setnov juga dikabarkan bermasalah setelah KPK menjadikannya tersangka pada kasus yang sama. Dia pulih dari jantungan sesudah pengadilan memenangkan gugatan pra-peradilannya terhadap KPK. Dia lolos dari jeratan KPK. 

Lalu, apakah kali ini, Ketua DPR itu bisa kembali lolos dari jeratan KPK?

Suatu hari di pertengahan musim semi 1931, sekompi polisi dan selusin reserse mengepung sebuah rumah di West End Avenue, di pinggiran New York. Polisi mendapat kabar, di rumah kekasihnya itulah, Crowley, pembunuh terkenal yang tidak merokok dan tidak minum minuman beralkohol itu bersembunyi.

Polisi segera mengasapi rumah itu. Senjata otomatis dipasang di sekeliling, begitu pula dengan para penembak jitu. Hasilnya: tembak-menembak tak bisa terhindari. Kejadian itu ditonton ribuan orang, tapi ajaib, Crowley tidak tewas. Dia berlindung di balik meja yang kokoh. Polisi berhasil menangkapnya. 

Kombes Mulrooney, Humas Polisi New York menyatakan, Crowley adalah pembunuh paling berbahaya. Crowley bisa membunuh untuk hal-hal sepele. Seorang polisi yang memberhentikan kendaraannya dan menanyakan SIM, langsung ditembak begitu saja. Tak hanya itu, Crowley kemudian melompat dari mobilnya dan merampas pistol si polisi yang malang, lalu menembaknya berulangkali. 

Tapi apa kata Crowley? Dia menulis surat, “Di balik rompiku yang kasar, berdetak jantung yang kasar tetapi ramah. Jantung yang tidak mengizinkan untuk menjahati orang”.

Sebelum tewas ditembak kawan-kawannya, Dutch Schults, penjahat tersohor di New York mengaku kepada seorang wartawan, dia mencintai kemanusiaan. 

Dengarlah kemudian pengakuan dari penjahat paling ulung dan paling terkenal yang pernah hidup di Chicago, Al Capone. “Selama saya hidup berkecukupan, saya senantiasa berusaha menolong dan menggembirakan orang lain. Tapi sebagai tanda terima kasih mereka, saya menerima cercaan dan menderita sebagai orang buruan.” 

Lewat surat itu, Al Capone memandang dirinya sebagai seorang budiman dan dermawan, meskipun hal itu, mungkin akan sulit dipahami orang lain.

Semua kisah itu ditulis oleh Dale Carnegies dalam bukunya “How to Win Friends and Influence People.” Sebuah buku yang banyak mengisahkan kebajikan, saling menghormati dan bergaul baik dengan banyak orang --- dengan contoh-contoh antara lain kisah-kisah para kriminal, para penjahat. 

Tapi apakah, Setnov ysng ketua umum Partai Golkar itu orang jahat seperti Crowley, Schultz, dan Al Capone?

Dia hanya tersangka dugaan korupsi e-KTP yang mengaku tak bersalah namun sering menghindari pemeriksaan dengan beribu dalih; sakit jantung, mengajukan gugatan praperadilan, meminta ijin presiden dan kembali gegar otak setelah mobilnya menabrak tiang. 
 

Reporter: Rusdi Mathari
Redaktur: Nuruddin Lazuardi
KOMENTAR
500/500