Sosok Martin Luther King. Foto: Biografi.com

FBI: Marthin Luther King Pernah Pesta Seks Sepanjang Malam

Estimasi Baca:
Sabtu, 11 Nov 2017 16:10:10 WIB

Kriminologi.id - Belum lama ini, Biro Penyelidik Federal Amerika Serikat atau FBI mempublikasikan sebagian dokumen pembunuhan John Fitzgerald Kennedy. Meski atas nama Kennedy, dokumen yang dipublikasikan itu tak melulu membahas sang presiden, tetapi juga sosok penting lainnya. Salah satunya Marthin Luther King Jr. Dalam laporan tersebut, FBI menyebu King pernah mengadakan pesta seks sepanjang malam di sebuah pelatihan lokakarya.

Laporan yang dirilis pada Jumat, 3 November 2017 itu ditulis mengatakan pesta seks digelar hanya beberapa pekan sebelum pemimpin hak sipil yang dihormati di Amerika Serikat itu dibunuh di Memphis pada 4 April 1968. Rincian dokumen itu menyebut, penyelenggaraan lokakarya oleh oleh MLK--panggilan singkatnya--diadakan awal tahun di Miami, Amerika Serikat.

Diketahui, FBI membidik King atas tuduhan seks telah berlangsung selama bertahun-tahun. Namun, laporan 20 halaman yang baru dirilis itu menjelaskan perspektif baru yang mengulas potret kehidupan King, terutama saat dia berkampanye untuk hak-hak sipil dan reformasi ekonomi.

Baca: Misteri Telepon 25 Menit Sebelum Pembunuhan Kennedy

Meski tertulis demikian, belum jelas apakah FBI telah mengkonfirmasi kebenaran klaim tersebut atau tidak. Yang jelas, mereka tidak dapat memverifikasi laporan itu secara independen. Dalam pendahuluan laporan yang dibuat pada 12 Maret 1968 itu, menjelaskan tentang gagasan, perspektif, tujuan, sasaran, taktik dan sejumlah alasan King.

"Kursus yang diberikan King saat itu bisa berdampak penting bagi masa depan hubungan ras di Amerika Serikat,' bunyi laporan yang termuat pada bab pendahuluan tersebut, seperti dikutip dari Dailymail.

Di bagian dalam laporan yang berjudul King's Personal Conduct, tertulis kegiatan King dimulai dari dana yang dapatkannya dari Ford Foundation. Dari dua lokakarya yang akan diadakannya itu, King pertama kali mengadakan lokakarya di Miami, Florida pada Februari 1968. Agendanya, melatih para menteri kulit hitam memimpin kota.

Baca: Trump Akan Ungkap Dokumen Pembunuhan Kennedy

"Seorang menteri kulit hitam yang hadir kemudian mengungkapkan rasa jijiknya dengan suguhan minuman, percabulan, dan homoseksual di balik lokakarya itu," tulis dokumen tersebut.

"Beberapa pelacur kulit hitam dan kulit putih dibawa masuk dari daerah Miami. Pesta seks pada malam hari itu diadakan dengan pelacur dan ada beberapa delegasi yang hadir."

Aktivitas di lokakarya itu, berdasarkan laporan yang sama, menyebut ada sebuah meja besar di acara tersebut yang dipenuhi wiski. Di atasnya, dua pelacur kulit hitam yang dibayar US$ 50 atau sekitar Rp 700 ribu mempertunjukkan hiburan seks untuk para tamu.

"Berbagai tindakan seks menyimpang ditemui di sana," kata laporan tersebut, yang kemudian mengklaim bahwa kegiatan semacam itu biasa dilakukan untuk King.

Baca: Bos CIA Dalang Penggulingan John F. Kennedy dan Sukarno?

Selanjutnya, menurut laporan itu, “pada awal Januari 1964, King terlibat dalam pesta seks selama dua hari dalam keadaan mabuk di Washington D.C. Banyak dari mereka yang hadir mengalami tindakan seksual yang tak wajar untuk hiburan para penonton.

"Ketika salah satu wanita menghindari tindakan tidak wajar, King dan laki-laki lain yang hadir di sana mendiskusikan bagaimana agar wanita yang menghindar itu bisa diikutsertakan dalam aktivitas itu," tulis dokumen selanjutnya.

Meskipun tidak ada sumber valid mengenai tuduhan itu, dalam sebuah dokumentasi menyebutkan, King berada di DC pada Januari 1964. Kala itu, dia bertemu Presiden Lyndon Johnson untuk membahas undang-undang yang akan menjadi Undang-Undang Hak Sipil.

Baca: Bukan Kanker, Ahli Forensik Sebut Pablo Neruda Mati Terbunuh

"Di tahun-tahun berikutnya dan sampai saat ini, King terus melanjutkan penyimpangan seksualnya secara diam-diam, sambil menahan diri agar publik tetap memandangnya sebagai pemimpin yang memiliki moral dan keyakinan religius," bunyi laporan FBI itu.

Menurut dokumen itu pula, King berselingkuh dengan seorang wanita yang sudah menikah. Dari hubungan terlarangnya itu diduga telah melahirkan seorang anak. Laporan tersebut diklaim oleh seorang berkulit hitam terkemuka yang punya keterkaitan dengan istri King.

"Dikutip pada Februari 1968, dari seseorang berasal dari Los Angeles yang bisa dipertanggungjawabkan posisinya bahwa ia mengetahui King telah memiliki hubungan asmara dengan istri seorang dokter gigi kulit hitam terkemuka di Los Angeles, California, sejak 1962. Dia percaya King adalah ayah seorang bayi perempuan yang lahir dari wanita tersebut, karena suaminya diduga steril," tulis dokumen 20 halaman itu.

Baca: Ungkap Panama Papers, Jurnalis Malta Daphne Caruana Galizia Dibunuh

"Anak itu menyerupai King. Dan King memberi kontribusi sebagai dukungan kepada anak ini. Dia (King) memanggil wanita ini setiap Rabu dan sering bertemu dengannya di berbagai kota di negeri ini."

Dari laporan itu menyebutkan, “orang kulit hitam terkemuka yang melengkapi informasi tersebut mengatakan, dirinya terkejut bahwa King yang mempunyai karakter rendah hati, namun dapat menyebabkan begitu banyak masalah bagi kelompok kulit hitam dan pemerintah.”

Selain dengan istri sang dokter gigi, laporan tersebut juga mengklaim bahwa King berhubungan gelap dengan setidaknya tiga wanita lainnya, termasuk penyanyi Joan Baez. Terkait tuduhan ini, seorang asisten Baez tidak segera memberikan pernyataan.

“Seperti yang tertulis di atas sebelumnya, ini adalah fakta bahwa King tidak hanya secara teratur memanjakan diri dalam kegiatan mesum, tapi juga menyukai hal yang tidak normal yakni terlibat dengan kelompok pesta seks.” 

Baca: Terinspirasi Tayangan Televisi, Remaja Perempuan Bunuh Kakeknya

Selanjutnya, laporan tersebut diakhiri dengan refleksi pidato penerimaan Nobel Perdamaian King pada 1964, bahwa ucapan King kepada publik tidak sesuai atau kontras dengan aktivitas cabul yang dituduhkan kepadanya.

Adapun terkait laporan penyelidikan pembunuhan Kennedy pada 1963 tidak jelas. Namun, dokumen tersebut yang awalnya diklasifikasikan sebagai rahasia dan ditinjau oleh Satuan Tugas FBI/JFK pada 1994, namun kini ketika ditandai sebagai penyangkalan total telah dipublikasikan.

J. Edgar Hoover, pimpinan FBI dari 1935 sampai 1972, dikenal memusuhi King. Hoover menganggap King sebagai penghasut potensial ajaran Komunis. Pada 1964, FBI mengirim surat peringatan kepada King. Dalam surat itu, FBI memperingatkan sekaligus mendorong agar King bunuh diri saja. 

Baca: 7 Buronan FBI yang Masih Misterius hingga Kini

Laporan tahun 1968 itu juga menjelaskan hubungan dekat antara King dan pengacara Stanley Levinson. FBI menyebut Levinson adalah guru komunis bagi King. Selain itu, laporan tersebut menuduh Levinson mengatakan kepada penasihat lain, bahwa pemimpin hak-hak sipil seperti King, adalah pemikir yang lamban.

Dalam situasi tertentu, King tidak boleh mengatakan apapun tanpa persetujuan mereka. Analisis dalam laporan tersebut juga mengatakan, pada awal 1960-an, Partai Komunis berusaha mendapatkan koalisi pekerja kulit hitam untuk mencapai tujuannya di Amerika Serikat.

Informasi demikian terungkap berdasarkan sebuah surat kabar komunis pada Mei 1961, yang menyatakan Komunis akan melakukan yang terbaik untuk memperkuat dan mempersatukan gerakan kulit hitam dan dukungan para pekerja. FBI mengatakan bahwa King dan organisasinya sejalan dengan  tujuan Partai Komunis.

Baca: FBI: Tak Ada Kaitan Penembakan Brutal Las Vegas dengan Terorisme

Dokumen lain yang dikeluarkan oleh Arsip Nasional pada Jumat itu juga termasuk laporan FBI pada Mei 1967 yang berjudul Racial Violence Potential In The United States This Summer.

"Semua tanda menunjukkan kejanggalan rasial berulang di seluruh negeri pada musim panas ini—kemungkinannya lebih besar dalam skala yang lebih luas daripada tahun-tahun sebelumnya—yang ditandai dengan perampasan, pembakaran, penghancuran, dan serangan terhadap petugas penegak hukum," demikian tulis laporan tersebut.

Pada musim panas 1967 memang terlihat sejumlah kerusuhan besar terkait ras di kota-kota Amerika, yang kemudian hilang pada musim panas berikutnya oleh kerusuhan di 125 kota di Amerika Serikat sebagai tanggapan atas pembunuhan King. TD

Penulis: Tito Dirhantoro
Redaktur: Nula
Sumber: www.google.com
KOMENTAR
500/500