Abi Qowi Suparto korban Persekusi, Foto: Istimewa

Firasat Ibunda Sebelum Abi Tewas Dipersekusi

Estimasi Baca:
Sabtu, 9 Sep 2017 19:12:52 WIB

Kriminologi.id - Abi Qowi Suparto sekonyong-konyong meraih tangan Rosani Nina Sari. Pria 20 tahun itu langsung menciumi tangan Rosani.

“Ma, aku mintaa maaf ya, aku sudah bekerja sekarang, jadi sopir angkot,” kata perempuan 50 tahun ini mengenang pertemuannya dengan Abi.

Seraya memeluk si sulung dua bersaudara itu, Rosani memaafkan Abi. “Alhamdulillah saya bilang. Satu jujur, dan salat lima waktu," kata Rosani berpesan kepada Abi.

Baca: Dituduh Curi Vape dan Motor, Abi Tewas Dipersekusi

Rosani mengingat, sebelum pergi dari rumah mereka di kawasan Tanah Abang, Jakarta Pusat, Abi berjanji kembali menyambangi sang ibu.

Pertemuan tiba-tiba anak dan ibu tersebut seolah firasat bagi Rosani. Sepekan setelahnya, 29 Agustus 2017, Abi ditemukan kritis di pinggir Jalan Penjernihan, Jakarta Pusat.

Hampir sepekan menanggung luka di sekujur badan, Abi akhirnya mengembuskan nafas terakhir di Rumah Sakit Umum Daerah Tarakan, Jakarta Pusat, 3 September 2017.

Tragedi yang menimpa Abi diceritakan kembali oleh Rosani saat melaporkan dugaan persekusi yang menimpa anaknya ke Kepolisian Metro Jaya, Jumat, 8 September 2017.

Senin tengah malam, 28 Agustus 2017, sebelum Abi ditemukan Rosani mengaku suaminya menerima telepon dari seseorang bernama Firman. “Firman mengatakan anakku kritis.”

Mendengar kabar mengagetkan itu, suami Rosiana langsung bergegas ke lokasi kejadian di Rumah Tua Vape, Jalan Penjernihan I, Tanah Abang, Jakarta Pusat.

Sesampainya di sana, kondisi Abi sudah kritis dengan luka lebam di muka dan badan. Saking paniknya, ayah Abi sampai lupa menanyakan apa yang terjadi dengan Abi.

Abi lantas diboyong oleh sang ayah ke Rumah Sakit Tanah Abang. Namun, karena perawatannya tidak memadai, Abi dirujuk ke RSUD Tarakan di Gambir, Jakarta Pusat.

Satu hari di ruang UGD, Abi dipindahkan ke ICU selama enam hari. Kondisinya koma karena kata dokter ada pendarahan di otak dan melebar akibat pukulan benda tumpul.

Baca: Rosani Berduka, Anaknya Abi Tewas Dipersekusi

Abi menjemput maut pada Minggu, 3 September 2017, pukul 18.00 WIB. Hingga saat itu, Rosani dan keluarga bingung anaknya meninggal tanpa alasan yang jelas.

Semula Rosani mengaku ikhlas dengan kepergian Abi. Namun, niatan tersebut dia tarik kembali setelah muncul kabar mengejutkan dari rekan-rekan anaknya.

"Tiba-tiba dua hari setelah kami mengadakan tahlilan, ada temannya yang bilang, ‘Bu, ini ada videonya’. Tapi aku tidak mau melihat karena tidak sanggup," ucap Rosani.

Video yang tersebar lewat aplikasi obrolan WhatsApp itu merekam detik-detik persekusi terhadap seorang pria mirip Abi. Bermula dari video inilah misteri kematian Abi terkuak.

Berbekal video itu, Rosani melaporkan dugaan persekusi terhadap Abi kepada Kepolisian Daerah Metro Jaya, Kamis siang, 7 September 2017.

Polisi yang mendapat informasi tersebut tak tinggal diam. Penyidik kemudian menetapkan tujuh tersangka pelaku persekusi Abi.

Empat tersangka sudah dicokok polisi, di antaranya Fachmi Kurnia Firmansyah alias Firman, yang sempat menelepon suami Rosani di malam durjana itu.

Tiga tersangka lain yang ditahan adalah Rajasa Sri Herlambang, Armyando Azmir, dan Aditya Putra Wiyanto. Tiga tersangka lain masih diburon aparat.

Kepala Subdirektorat Kejahatan dan Kekerasan Polda Metro Jaya Ajun Komisaris Besar Hendy F. Kurniawan mengatakan, pihaknya masih mendalami motif kematian Abi.

Namun, kata Hendy, menurut pengakuan tersangka mereka menganiaya Abi karena diduga mencuri vape (rokok elektronik) seharga Rp 1,6 juta dan motor milik pengojek setempat. 

Baca: Foto: Di Tempat Ini Abi Diduga Alami Persekusi

Para pelaku yang geram melihat tingkah Abi langsung mencarinya. Firman dan rekan-rekannya akhirnya menemukan keberadaan Abi.

Mereka menggiring Abi yang malang ke lokasi kejadian di salah satu ruangan di Rumah Tua Vape, Jalan Penjernihan. Abi dihabisi tanpa ampun sampai tidak sadarkan diri.

Dari para tersangka, polisi menyita barang bukti seperti tongkat besi, ponsel yang merekam kejadian, sehelai jaket, sehelai celana jins, sepasang sepatu, sehelai kaos, dan gelang. 

Akibat perbuatannya, para pelaku terancam dijerat Pasal 170 tentang Tindak Pidana Pengeroyokan dan atau Pasal 340 KUHP tentang Pembunuhan Berencana.

Adapun Rosani mengakui Abi sering meninggalkan rumah tanpa mengabari orang tuanya sedang di mana atau sedang berbuat apa. Tapi dia tidak yakin Abi sudah mencuri.

"Di mata saya, Abi anak yang baik. Jadi saya tidak tahu kalau ada kabar dia mencuri sepeda motor, saya tidak tahu,” tutur Rosani sebelum diperiksa penyidik Polda Metro Jaya, Jumat, 8 September 2017.

Namun, yang Rosani tahu Abi pernah berjanji untuk mengunjunginya kembali, janji yang tak pernah ditepati Abi. BC | DP

KOMENTAR
500/500