Foto: Ilustrasi Bendera Terbalik /Istimewa

Kasus Bendera Terbalik, Muncul Dugaan Sabotase

Estimasi Baca:
Selasa, 22 Ags 2017 06:25:48 WIB

Kriminologi.id - Kepolisian Malaysia menyatakan pihaknya bakal menyelidiki secara mendalam termasuk apakah ada unsur sabotase dalam masalah yang melibatkan bendera Indonesia terbalik di dalam buku cinderamata SEA Games Kuala Lumpur 2017. Peristiwa yang memicu kemarahan publik Indonesia itu terjadi saat pembukaan pesta olah raga bangsa-bangsa Asia Tenggara ke-29,  yang kini tengah berlangsung di Kuala Lumpur.

Kepala Kepolisian Malaysia Inspektur Jenderal Khalid Abu Bakar mengatakan, laporan kepada polisi telah diterima mengenai masalah tersebut. "Kami akan menyelidiki apakah ada unsur sabotase atau tidak. Marilah kita melakukan penyelidikan terlebih dahulu sebelum melakukan tindakan selanjutnya," kata Khalid seperti yang dikutip dari laman Free Malaysia Today di Kuala Lumpur, Senin, 21 Agustus 2017.

Sabtu, 19 Agustus 2017, Menteri Pemuda dan Olah Raga Indonesia, Imam Nahrawi, memprotes panitia penyelenggara SEA Games Kuala Lumpur 2017 setelah menemukan bendera Merah Putih dicetak terbalik dalam buku cindera mata khusus KL2017. Di dalam buku itu menunjukkan warna merah dari simbol negara Indonesia itu berada di bawah, sedangkan warna putih berada di atas menyerupai bendera Polandia dan Monako.

Imam Nahrawi meminta Menteri Pemuda dan Olah Raga Malaysia Khairy Jamaluddin agar segera memerintahkan panitia penyelenggara agar tidak menyebarkan lagi semua salinan buku resmi SEA Games Kuala Lumpur 2017 dan menariknya dari peredaran. “Peristiwa ini sangat memalukan di tengah acara yang ditonton jutaan orang. Ini benar-benar kecerobohan yang luar biasa, san sebagai bangsa yang besar kami sangat kecewa.”

Khairy, yang mengawasi Komite Penyelenggara SEA Games Malaysia 2017, sudah bertemu Iman dan meminta maaf kepada seluruh masyarakat Indonesia. Khairy bahkaan, seperti yang dilansir Channel News Asia, sebelumnya menelepon Imam untuk menegaskan permintaan maaf itu. “Kami benar-benar menyesali kekeliruan itu, dan saya berharap kasus ini tidak mengurangi persahabatan kedua negara,” ucap Khairy.

Meski permintaan maaf sudah dilayangkan pemerintah Malaysia, kasus Merah Putih terbalik terlanjur memantik kemurkaan masyarakat Indonesia. Di dunia maya, para netizen mencurahkan kekesalan mereka lewat tagar #ShameOn YouMAlaysia, yang sempat menjadi trending topic di Twitter. “Kami kecewa, Merah Putih diperjuangkan dengan darah dan air mata, bukan pemberian dari negara lain,” kata salah satu akun.

Di Jakarta, gelombang protes dilaungkan ratusan anggota organisasi kemasyarakatan Laskar Merah Putih di luar kedutaan besar Malaysia di Jakarta. Mereka menuduh panitia KL2017, nama lain pesta multi-event itu, sengaja mencetak Merah Putih secara terbalik. “Kami menilai Malaysia keterlaluan, ini tidak boleh dibiarkan. Ini memalukan bangsa kita,” kata Ketua Laskar Merah Putih, Adek Ervil Manurung, Senin, 21 Agustus 2017.

Adek berkata, seperti yang dilansir Free Malaysia Today, Kepolisian Malaysia perlu mengusut insiden itu walau sudah ada permohonan maaf secara terbuka dari Malaysia. “Kasus ini ini harus dibuka sehingga dihukum,” katanya. Bernama melaporkan Adek dan dua lagi wakil demonstran diizinkan memasuki kompleks kedutaan untuk menyerahkan nota protes, yang diterima Wakil Duta Malaysia Zamshari Shaharan.

Permintaan maaf pun tampaknya belm mendamaikan politikus Indonesia, termasuk Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo. Ia mengklaim Malaysia tidak memperhatikan Indonesia sebagai "tetangga dekat" atas insiden bendera Indonesia yang terbalik. “Malaysia adalah tetangga kita, negara sahabat Indonesia yang dikatakan sebagai negara serumpun. Namun perhatian terhadap Indonesia dalam masalah prinsip diabaikan.

"Masalah bendera salah, harus ada kajian materi oleh pemerintah sebelum mencetaknya. Ternyata tidak ada perhatian, cukupkan saja," kata Tjahjo. Dia mengatakan, sebagai "tetangga dekat", Malaysia pasti tahu warna merah-putih adalah bendera Indonesia. Insiden ini  menunjukkan Malaysia kurang peduli dengan tetangganya. "Kami mengerti jika nama yang salah. Tapi kekeliruan ini tidak bisa kita pahami bahkan dengan alasan lalai,” katanya.

Tjahjo Kumolo menambahkan, kendati permintaan maaf telah dilakukan secara terbuka oleh negeri jiran kepada Jakarta, Malaysia harus menjelaskan penyebab kesalahan cetak tersebut. Politikus PDI Perjuangan itu juga berencana mengirimkan surat protes kepada Kementerian Dalam Negeri Malaysia dan Duta Besar Malaysia untuk Indonesia agar insiden semacam itu tidak terulang kembali di masa mendatang. BC

KOMENTAR
500/500