Foto: Ilustrasi/Pixabay

Kasus Pencabulan di Bekasi, Cerita Teguh dan Teman Bermain Bola

Estimasi Baca:
Selasa, 29 Ags 2017 18:07:12 WIB

Kriminologi.id - Tidak tampak raut sedih di paras Teguh, sebutlah demikian namanya. Bersama anak-anak sebayanya, bocah empat tahun itu asyik bermain gundu di teras rumah seluas meja pingpong milik orang tuanya, Kamis, 24 Agustus 2017.

Kondisi Teguh yang seperti cuek dengan dunia berbeda dari sepekan sebelumnya. Menurut Anita, demikian ibunya ingin dipanggil, ketika itu sikap Teguh berubah drastis dari sosok yang kalem sekonyong-konyong temperamental, mudah marah, dan tak betah di rumah.    

"Sifatnya memang berubah, namun kalau disuruh sekolah atau pun mengaji dia tetap mau berangkat," ujar Anita saat ditemui Kriminologi.id di kediamannya, Kampung Ciketing, Mustikajaya, Kota Bekasi, Jumat, 24 Agustus 2017.

Semua bermula pada Kamis, 23 Agustus 2017. "Saya lagi memandikan anak saya, sewaktu mau disabuni dia bilang, ‘Pak, bagian  belakang jangan digosok, soalnya sakit’,” kata Nano, nama samaran untuk ayah Teguh, saat melaporkan kasus itu di Unit Perlindungan Anak dan Perempuan Kepolisian Resor Metro Bekasi Kota, Rabu, 23 Agustus 2017.

Dihinggapi rasa penasaran bercampur khawatir, Nano yang mendengar anaknya kesakitan di bagian dubur langsung mencecar Teguh. Singkat kata, Teguh akhirnya mengaku jika dia diduga diperlakukan senonoh oleh Fiki, tetangga keluarga tersebut, sepekan sebelumnya.

Sebelum melakukan aksinya, Nano berkisah, pelaku terlebih dahulu mengiming-imingi Teguh dengan hadiah jika mengikuti keinginannya. Bahkan, sebelum ditengarai mencabuli Teguh, Fiki mengajak anaknya menonton video porno dulu.

 

***

 

Korban dugaan pencabulan yang dilakukan Fiki belakangan kembali bertambah. Kamis, 24 Agustus 2017, orang tua korban berinisial A melaporkan perbuatan pria 19 tahun itu ke Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Metro Bekasi Kota.

Komisioner Bidang Pengaduan Hukum dan Advokasi Komisi Perlindungan Anak Daerah  Kota Bekasi Rury Arief Rianto mengatakan hingga Kamis itu jumlah korban dugaan pencabulan Fiki yang melapor ke Polres Metro Bekasi Kota tercatat dua orang.

“Korban dan ayahnya serta saksi yang masih berumur empat tahun saat ini masih diperiksa oleh polisi,” kata Rury di Polres Metro Bekasi Kota, Kamis, 24 Agustus 2017.

Rury, yang mendampingi korban di Unit Perlindungan Perempuan dan Anak, mengatakan korban dugaan pencabulan Fiki berinisal A yang berusia 5 tahun itu mengalami trauma. “Dia tidak mau ke luar rumah, tidak mau sekolah," ucap Rury.

Warga Ciketing, Mustikajaya, menyangka jika Fiki yang keseharian dekat dengan anak kecil tega mencabuli bocah-bocah malang itu. Menurut Silvi, tetangga korban, Fiki sering bermain sepak bola dengan anak-anak di depan jalan rumahnya.

Silvi mengaku tidak melihat gerak-gerik atau gelagat aneh dari Fiki saat bermain dengan anak-anak. Fiki terlihat normal dan suka dengan anak-anak. “Saya tidak menyangka, kalau dia bisa berbuat seperti itu," ujar Silvi.

Warga lain yang enggan menyebut namanya mengaku heran dengan tingkah laku Fiki. Padahal ia kerap melihat Fiki berjalan dengan wanita. “Saya juga bingung dengan kasus ini, saya sering melihat dia membonceng cewek, entah itu buat kamuflase, atau ada maksud yang lain.”

Sejak peristiwa dugaan pencabulan tersebut mencuat, rumah orang tua Fiki yang berlantai dua merangkap warung tersebut selalu tertutup. Penghuninya tidak pernah lagi kelihatan, hanya ada asisten rumah tangga di dalam rumah.

"Biasanya pintu rumah terbuka, sekarang tertutup sejak kejadian itu. Fiki juga jarang kelihatan, biasanya dia sore bermain sepak bola. Cuma sekarang dia tidak kelihatan lagi. Pernah melihat kemarin pagi, dia mau kuliah kayaknya," kata Silvi, menambahkan.

Kriminologi.id yang berusaha mengkonfirmasi dugaan pencabulan ini kepada Fiki, belum berhasil mendapat tanggapan. Fiki tak dapat ditemui di rumahnya di Kampung Ciketing. Begitu pun dia tak dapat ditemui di kampusnya di bilangan Jakarta Barat.

 

***

 

Dua hari setelah Nano, ayah Teguh, melaporkan dugaan pencabulan yang dilakukan Fiki ke Polres Bekasi Kota, polisi pun bertindak. Aparat mencokok Fiki di rumahnya tanpa perlawanan, Jumat malam, 25 Agustus 2017. Polisi segera mencecar Fiki.

Rury sempat mengisahkan suasana pemeriksaan terhadap Fiki. “Saat diperiksa Fiki santai banget, tidak ada penyesalan dari wajahnya. Dia juga menyangkal sudah mencabuli. Alasanya saat kejadian dia di kampus," kata Rury.

Namun dengan alasan yang tidak jelas, Fiki dilepaskan polisi, Sabtu sore. “Tidak tahu alasannya,” kata Rury.

Misteri dilepasnya Fiki terjawab pada Senin, 28 Agustus 2017. Juru bicara Kepolisian Resor Metro Bekasi Kota Komisaris Erna Ruswing mengatakan alasan Fiki dilepaskan lantaran ada ketidaksesuaian antara kesaksian korban dan alibi pelaku.

"Korban mengaku dia dicabuli pelaku pada 11 Agustus 2017 sehabis salat Jumat. Tapi pada jam itu terduga pelaku ini berada di kampus. Alibi ini diperkuat bukti absensi dan keterangan dari rekan terduga pelaku,” tutur Erna.

Selain itu, menurut Erna, hasil visum kian menguatkan niat polisi membebaskan Fiki dari tudingan. “Hasil visum negatif. Kami belum bisa menahannya, karena belum punya bukti kuat. Kami terus mengusut kasus ini karena korban dan saksi selalu menyebut nama pelaku.”

Pengacara keluarga Teguh, Griyo Mandraguna, terkesan hati-hati mengomentari pembebasan Fiki. “Mungkin kepolisian enggan terburu-buru, kalau salah malu juga polisinya. Tentunya Kepolisian mengedepankan asas praduga tak bersalah," kata Griyo di Bekasi, Senin sore, 28 Agustus 2017.

Griyo menyayangkan tindakan kepolisian yang tidak cepat melakukan visum terhadap kliennya. Menurut dia, sebelum mengadukan Fiki pada 23 Agustus, keluarga Teguh sudah melaporkan Fiki pada 14 Agustus 2017, dan korban minta divisum.

Namun polisi mengatakan tidak ada dokter yang bertugas saat itu. Dia menyarankan agar Teguh divisum pada 16 Agustus 2017. Setelah kepolisian melakukan visum, ternyata luka di dubur korban sudah tidak ada atau bersih.

Bersih yang dimaksud Griyo adalah kondisi saat dubur divisum oleh dokter. Griyo menjelaskan, dokter tidak berhak menjelaskan keadaan dubur sebelum divisum. "Apa yang dilihat dokter hari itu, itu yang dijelaskan, tidak boleh melihat kondisi hari kemarin.”

***

Tidak puas dengan hasil visum dokter kepolisian dan lambat penanganan kasus ini oleh Polres Metro Bekasi Kota, keluarga korban berinisatif membawa Teguh ke Klinik dan Rumah Bersalin Paramitra Medika, Bekasi, untuk dilakukan visum ulang.

“Saat dibawa ke klinik tersebut, dokter langsung meminta korban divisum, dan memang ada luka di dubur korban. Bukti visum di klinik tidak dijadikan bukti, namun sebagai petunjuk kepolisian saja, dokter siap dipanggil untuk bersaksi,” kata Griyo.

Dilepasnya Fiki membuat Nano geram. Dia merasa kepolisian seperti memihak pelaku. Dari awal dia mengaku disepelekan polisi. “Saat laporan pertama pada 14 Agustus, kami minta Teguh divisum. Polisi bilang dokternya tidak ada. Visum pada Rabu, 16 Agustus, lukanya telanjur kering. Kami minta surat visum di luar, polisi tidak mengizinkan.”

Nano juga mengaku heran dengan pemanggilan saksi pelaku begitu cepat, tidak seperti pemanggilan saksi dari korban. "Saat laporan, polisi memanggil saksi korban keesokan harinya. Lain hal sama pelaku, dia ke Polres langsung bawa saksi teman sekampusnya, sudah seperti disiapkan sama dia," kata Nano.

Kini Fiki sudah menghirup udara bebas. Sementara ini Fiki terbebas dari kasus pencabulan yang membelitnya. Namun di luar sana tetap ada yang khawatir.  

Nano, ayah Teguh, ingin kasus ini tetap diproses secara hukum. Ia resah dengan masa depan buah hatinya. “Saya membaca di media, kasus ini terjadi gara-gara korban pernah diperlakukan senonoh di masa lalu. Saya takut jika anak saya kelak melakukan hal serupa.” BC

Reporter: Rahmat Kurnia
KOMENTAR
500/500