Spanduk larangan peredaran obat terlarang di Pasar Pramuka

Pil PCC dan Hari yang Janggal di Pasar Pramuka

Estimasi Baca:
Selasa, 19 Sep 2017 07:46:32 WIB

Kriminologi.id - Senin siang, 18 September 2017. Pasar Pramuka, Matraman, Jakarta Timur tak ramai seperti biasanya. Sejumlah kios obat tertutup rapat. Hanya belasan toko, yang kebanyakan menjual perlengkapan medis, melayani pembeli. Itupun pengunjung bisa dihitung dengan jari.

Pasar Pramuka dikenal sebagai tempat penjualan obat berharga miring. Dibangun pada 1975, Pasar Pramuka  memiliki empat lantai. Bangunan itu berada persis di Jalan Pramuka, Matraman, Jakarta Timur, sekitar 400 meter dari kantor Kepolisian Sektor Matraman.

Baca: Kepala Pasar Pramuka Jamin Tak Ada Penjual Pil PCC

Lazimnya, saban kali pengunjung datang, mereka diserbu sapaan 'Mau cari apa!' dari mulut penjual atau calo yang berkeliaran. Teriakan dan gumaman antara pedagang dan pembeli riuh-rendah memenuhi toko yang rata-rata berukuran 2x3 meter itu.

"Kemarin ada razia," kata petugas keamanan Pasar Pramuka yang tak mau menyebutkan identitasnya kepada Kriminologi. Jawaban si petugas anonim seolah menjawab teka-teki di balik ketidaklaziman yang terjadi di pasar tersebut.

Baca: Pengedar Pil Mirip PCC Incar Remaja di Sumedang

Kepolisian Resor Jakarta Timur rupanya baru menggelar razia di tempat ini dan dua pasar lain di Jakarta Timur, yakni Pasar Kramat Jati dan Pasar Rawa Bening. Sejatinya Pasar Pramuka mengharamkan jual-beli obat milegal.

Aksi penggeledahan petugas tersebut buntut dari peredaran pil paracetamol, caffeine, dan carisoprodol atau PCC. Namun, hasil perburuan polisi nihil. Meski tidak mendapatkan obat yang mereka cari, polisi menyita 26 ribu butir obat tak layak jual atau kedaluwarsa. Selusin penjual dikeler ke kantor polisi untuk dimintai pertanggungjawaban.

Baca: Tersangka Pengedar Pil PCC di Papua 3 Kali Terima Pasokan

Efek pil ‘maut’ itu memang ampun-ampunan. Seperti tayangan video yang kemudian viral di jagat maya, sejumlah bocah di Kendari, Sulawesi Tenggara, nungging-nungging sebelum akhirnya nyungsep seusai menenggak pil setan itu. Tiga orang dilaporkan meregang nyawa.

Polisi menyebutkan, para pedagang di Pasar Pramuka diduga pemain kunci dalam peredaran PCC. Dari pasar inilah pil PCC menyebar ke kawasan Timur Indonesia, seperti Papua, Sulawesi Barat, dan Sulawesi Tenggara, lokasi tiga bocah itu bertemu maut.

Baca: BPOM Makassar Sita Ribuan Pil PCC dari Perusahan Farmasi

Hal itu terungkap dari penyitaan 29 ribu butir pil PCC oleh Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan (BB POM) di Makassar, Sabtu, 16 September 2017. Saat disita, ribuan pil PCC tersebut masih dikemas dalam bungkusan plastik dan siap edar.

***

Salah seorang pemilik toko, sebut saja namanya Wati, menolak mentah-mentah bahwa Pasar Pramuka dituding sebagai biang kerok peredaran pil PCC. Ia mengatakan informasi di media tidak sepenuhnya benar, dan menyudutkan pedagang.

"Di media itu katanya pil PCC pabriknya di sini (Pasar Pramuka). Kata keponakan saya obat-obat yang ada di sini berasal dari Kementerian Kesehatan semua. Jadi tidak mungkin ada pil PCC," kata Wati, menegaskan.

Kepala Pasar Pramuka, Jakarta Timur, Ruslan membantah jika ada pedagang yang menjual obat PCC di tempatnya.

"Soal pemberitaan di media yang memberitakan obat PCC di Kendari berasal dari Pasar Pramuka, itu tidak benar. Pasar Pramuka tidak memperjualbelikan obat PCC," kata Ruslan kepada Rahmat Kurnia dari Kriminologi.

Ruslan tidak menampik jika ada pedagang nakal yang menjual obat keras yang telah ditarik dari peredaran sejak 2013 itu. Namun, dia tidak secara tegas menyebutkan sanksi terhadap pedagang degil yang kepergok menjual pil PCC.

Baca: KPAI Desak Pengedar Pil PCC Dijerat Pasal Berlapis, Ini Alasannya

Kriminologi pun berusaha menelusuri keberadan pil PCC di Pasar Pramuka. Informasi yang beredar, masih ada penjual yang menyimpan obat termasuk daftar G (terlarang) itu. Mereka akan menawarkan kepada pembeli dengan mengendap-endap.

"Mau cari apa?" ujar salah seorang penjual.

"Obat penenang, ada?" jawab Kriminologi.

Mendengar nama obat yang dicari, roman wajah penjual itu lantas berubah. Tak ada lagi senyum seperti awal dia bertanya.

"Oh tidak ada, tidak ada...," jawabnya sembari memalingkan muka.                       

Pengakuan Jordy, warga setempat yang berprofesi sebagai penagih utang, mengatakan, suasana sepi di Pasar Pramuka sifatnya musiman. Setiap kali razia digelar, pasar akan sepi. Namun, suasana kembali normal jika razia atau inspeksi mendadak  mereda.

Baca: Selain PCC, Obat Carnophen Diselundupkan ke Jakarta

"Dulu juga pernah razia. Kios pada ditutup. Kalau tidak ada ya ramai lagi," katanya. Jordy mengaku dia tidak mengetahui apakah ada penjualan PCC di tempat ini. "Saya mah hanya tukang nagih doang.”

"Ini seperti hari Minggu. Sepi sekali," kata seorang pengunjung warung di sudut kiri Pasar Pramuka. Kelopak matanya meredup, tak ada senyum di bibir. Sepertinya dia gusar. "Pasti ada yang bocorin," ujar pengunjung itu lagi.

Matahari nyaris terbenam di ufuk barat ketika Kriminologi meninggalkan pasar itu. Suasana kian hening. Gembok-gembok terkunci rapat. Mulut-mulut terkatup erat. BC

Reporter: Marselinus Gual
Penulis: Marselinus Gual
KOMENTAR
500/500