Daphne Caruana Galizia Foto: Istimewa

Ungkap Panama Papers, Jurnalis Malta Daphne Caruana Galizia Dibunuh

Estimasi Baca:
Rabu, 18 Okt 2017 07:05:13 WIB

Kriminologi.id - Seorang wartawan investigasi terkemuka di Malta, Daphne Caruana Galizia, tewas dalam sebuah ledakan bom yang terpasang di mobilnya. Bom tersebut meledak pada Senin, 16 Oktober 2017 waktu setempat. Peristiwa itu terjadi setelah Galizia baru saja keluar dari rumahnya di Mosta, sebuah kota di luar ibukota Malta, Valetta.

Ledakan bom yang cukup kuat itu menewaskan Galizia seketika. Sementara mobilnya hancur akibat ledakan tersebut. Sebagian kepingan mobil malah ada yang membubung tinggi melewati dinding pagar. Galizia meninggalkan seorang suami dan tiga anak laki-laki.

Baca: Kasus E-KTP, 11 Pengakuan Johannes Marliem Sebelum Tewas

Galizia dikenal publik Malta bahkan dunia berkat blog pribadinya. Di blognya itu, dia banyak menulis artikel tentang sejumlah politisi terkemuka dari berbagai partai dan pemangku kepentingan di negaranya yang tersangkut kasus korupsi tingkat tinggi. 

Selain itu, dia juga menemukan hubungan antara negaranya dan dokumen Panama Papers yang bocor ke publik, yang belakangan terungkap identitas orang-orang kaya dan berkuasa di seluruh dunia dengan kepemilikan lepas pantai di negara Amerika Tengah.

Baca: Jurnalis Dianiaya Polisi Saat Liput Demo di Purwokerto

Berbekal dokumen Panama Papers yang bocor pada 2016 itu, Caruana Galizia mengungkapkan bahwa Michelle, istri Perdana Menteri Malta, Joseph Muscat, serta menteri energi dan kepala staf pemerintahan Malta memiliki perusahaan fiktif di Panama. Namun, Muscat dan istrinya telah menyangkal memiliki perusahaan semacam itu.

"Ada penjahat di manapun Anda berada sekarang. Situasinya sangat menyedihkan," tulis Caruana Galizia dalam blog pribadinya yang diterbitkan hanya setengah jam sebelum sebuah ledakan bom mobil membunuhnya.

Baca: Kasus E-KTP, Johannes Marliem Setor US$ 200 Ribu untuk Siapa?

Karena berbagai tulisan di bloknya itu, Caruana Galizia kemudian dituntut secara hukum. Dia dianggap telah melakukan perbuatan fitnah. Dua minggu sebelum kematiannya, Galizia telah melapor kepada kepolisian Malta bahwa dirinya kerap menerima ancaman.

Menanggapi pembunuhan tersebut, Joseph Muscat, orang yang juga dituduh Galizia terseret dalam skandal Panama Papers, mengecam aksi itu. Muscat menyebut pembunuhan itu sebagai serangan barbar terhadap kebebasan pers. Untuk mengungkap kasus ini, dia mengatakan akan menggandeng FBI untuk membantu penyelidikan pembunuhan Caruana Galizia.

Baca: Kapolda Jateng Turunkan Tim Terkait Insiden Penganiayaan Jurnalis

"Saya tidak akan beristirahat sampai saya melihat keadilan dilakukan dalam kasus ini," kata Muscat dalam sebuah pernyataan yang menyerukan persatuan nasional.

Sementara pemimpin oposisi, Adrian Delia, menyebut pembunuhan tersebut sebagai pembunuhan politik.

Dalam laporan Malta Independent, keluarga Caruana Galizia tak sepakat dengan penunjukan hakim yang menangani kasus pembunuhan tersebut. Sebab, hakim yang ditunjuk itu pernah menjadi sasaran dalam pemberitaan yang ditulis Caruana Galizia di masa lalu. Agar persidangan kasus ini tak jalan di tempat, karena itu keluarga Caruana Galizia meminta pergantian hakim. TD

Penulis: Tito Dirhantoro
Redaktur: Nula
Sumber: BBC
KOMENTAR
500/500