Ilustrasi vonis. Foto: Pixabay.com

Bos Saracen Jasriadi Divonis 10 Bulan Penjara

Estimasi Baca:
Jumat, 6 Apr 2018 17:25:26 WIB

Kriminologi.id - Jasriadi, ketua sindikat Saracen divonis Majelis Hakim Pengadilan Negeri Pekanbaru, Provinsi Riau, 10 bulan penjara. Jasriadi menurut hakim terbukti melanggar Undang-undang Transaksi Elektronik dengan mengendalikan akun Facebook milik Sri Rahayu Ningsih, yang merupakan terpidana ujaran kebencian.

Hakim Asep Koswara sebagai pimpinan majelis menyatakan terdakwa dengan sengaja dan tanpa hak mengakses komputer atau sistem elektronik milik orang lain.

"Menyatakan terdakwa Jasriadi terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindakan pidana dengan sengaja dan tanpa hak mengakses komputer atau sistem elektronik milik orang lain dengan cara apapun. Menjatuhkan pidana terhadap jasriadi dengan pidana penjara selama sepuluh bulan," kata Hakim Asep di Pengadilan Negeri Pekanbaru, Provinsi Riau, Jumat, 6 April 2018.

Jasriadi terbukti melanggar Pasal 46 ayat (2) jo pasal 30 ayat (2) undang-undang No 19 tahun 2016 tentang perubahan atas undang-undang No 11 Tahun 2008 tentang informasi elektronik.

Menurut hakim, Jasriadi terbukti bersalah dalam mengendalikan akun Facebook milik Sri Rahayu Ningsih, terpidana ujaran kebencian. Saat Jasriadi mengakses akun itu, Mabes Polri telah menjadikan akun Facebook milik Sri sebagai salah satu barang bukti penyidikan ujaran kebencian. 

Jasriadi terbukti mengkases akun tersebut pada 5 Agustus 2017. Akses itu dilakukan Jasriadi tanpa seizin Sri yang sebelumnya telah divonis satu tahun penjara oleh Pengadilan Negeri Cianjur, Jawa Barat, Desember 2017.

Selain itu, Jasriadi tidak terbukti memanipulasi kartu tanda pendudukan seperti yang dituduhkan Jaksa Penuntut Umum (JPU). Jaksa sebelumnya menuduh Jasriadi memalsukan Kartu Tanda Penduduk atas nama Suarni lalu merubah nama saksi Suarni menggunakan aplikasi Photoshop menjadi Saracen.

Kemudian Jasriadi menggunakan identitas KTP saksi Suarni yang telah diubah menjadi identitas atas nama Saracen seolah-olah data otentik milik Saracen sebagai syarat verifikasi akun Facebook Saracen. Namun hakim menyatakan tuduhan itu tidak terbukti.

Vonis tersebut jauh lebih rendah dibanding tuntutan jaksa yang menuntut Jasriadi dengan hukuman dua tahun penjara. Namun, Jasriadi dan kuasa hukumnya menyatakan banding. Begitu juga JPU juga menyatakan banding atas vonis tersebut.

Jasriadi mengatakan kepada awak media menilai putusan hakim tidak relevan dengan fakta persidangan bahwa sebenarnya dia memperoleh izin dari Sri untuk mengakses akun Facebook itu. 

Izin itu diberikan Sri setelah dirinya diminta memulihkan akun tersebut. Terlebih kata Jasriadi, saat mengakses akun Facebook Sri Rahayu ia tidak pernah sama sekali menghilangkan bukti-bukti unggahan ujaran kebencian yang menjadi alat bukti polisi dalam menangani kasus Sri Rahayu atas ujaran kebencian.

"Saya menolak atas putusan ini karena banyak hal yang bertolak belakang, ini akan saya perjuangkan, karena ini menyangkut jasa penyedia layanan dan jasa penggunanya," ujarnya.

"Sebelumnya saya sudah diberikan izin mengakses akun Sri Rahayu untuk perbaikan akunnya. Saya tidak menghilangkan bukti-bukti ujaran kebencian, itu artinya saya tidak menghalang-halangi penegak hukum," lanjutnya.

Sementara Sri terbukti bersalah melakukan ujaran kebencian dengan sengaja menyebarkan informasi menimbulkan kebencian individu dan kelompok berkaitan suku, agama, Ras antara golongan (SARA).

Sri ditangkap bersama Muhammad Tonong oleh Mabes Polri atas tuduhan penyedia jasa ujaran kebencian pada Agustus 2017 lalu. Beberapa hari kemudian, Mabes Polri juga menangkap Jasriadi di Pekanbaru yang juga dituduh sebagai ketua sindikat Saracen tersebut.

Redaktur: Achmad Sakirin
Sumber: Antara
KOMENTAR
500/500