Ilustrasi: Pengadilan Foto: Pixabay

Bunuh Ribuan Tahanan, Mantan Pejabat Etiopia Dibui Seumur Hidup

Estimasi Baca:
Sabtu, 16 Des 2017 14:05:23 WIB

Kriminologi.id - Mantan pejabat Etiopia, Eshetu Alemu, divonis penjara seumur hidup oleh hakim Pengadilan negeri Belanda setelah dinyatakan terbukti bersalah atas kejahatan perang saat menjadi pejabat daerah pada tahun 1978. Alemu memerintahkan pembunuhan, termasuk terhadap 75 tahanan muda di bawah kekuasaan komunis Mengistu Haile Mariam.

“Kenyataan bahwa sebagian besar korban adalah anak-anak di bawah 18 tahun membuat semua kejahatan tersebut menjadi lebih kejam,” kata Hakim Mariette Renckens, dalam membacakan vonis di pengadilan HAM di Den Haag, Belanda, Jumat, 15 Desember 2017 waktu setempat.

Baca: Terbukti Genosida, Mantan Jenderal Divonis Penjara Seumur Hidup

Persidangan yang diadakan berdasarkan atas undang-undang yurisdiksi universal Belanda, vonis terhadap Alemu semua atas tuntutan jaksa. Dalam persidangan, Alemu yang datang ke Belanda sebagai pencari suaka pada 1990 itu terbukti melakukan penahanan sewenang-wenang, perlakuan tidak manusiawi, penyiksaan hingga pembunuhan besar-besaran.

Atas vonis yang dijatuhkan oleh Hakim Renckens, salah satu bekas tahanan yang dipenjara dalam sebuah kamp di bawah kendali Alemu, yakni Negus Gebeyehu, mengapresiasi langkah putusan hakim menjatuhkan hukuman kepada Alemu. 

“Keadilan telah terselesaikan untuk Etiopia,” kata Gebeyehu yang turut menghadiri persidangan tersebut.

Baca: Wapres Ekuador Dihukum 6 Tahun Penjara karena Korupsi

Selain Alemu, mantan pemimpin komunis Etiopia, Mengistu Haile Mariam, juga telah diadili. Oleh Pengadilan Etiopia, Mengistu Haile Mariam divonis hukuman mati. Persidangan terhadap Mengistu terjadi pada 2007 secara in absentia.

Ia didakwa karena perannya terlibat kejahatan kemanusiaan dengan membunuh ribuan orang selama 17 tahun masa pemerintahannya. Peristiwa ini kemudian dikenal sebagai Teror Merah. Kejahatan oleh Mengistu dilakukan setelah berhasil menggulingkan Kaisar Etiopia, Haile Selassie pada 1974. TD

Penulis: Tito Dirhantoro
Redaktur: Nula
Sumber: Antara
KOMENTAR
500/500