Ilustrasi putusan hakim. Foto: Pixabay

Dituduh Teror Warga, 24 Anggota Ikhwanul Muslimin Divonis Seumur Hidup

Estimasi Baca:
Minggu, 15 Jul 2018 09:05:52 WIB

Kriminologi.id - Sebanyak 24 anggota kelompok Ikhwanul Muslimin divonis penjara seumur hidup oleh pengadilan Mesir. Mereka divonis atas dakwaan menyulut kekerasan dan meneror para warga negara dalam demonstrasi di provinsi Sharqiya sejak Mohammed Mursi ditumbangkan pada 2013.

Dalam konstitusi Mesir, hukuman penjara seumur hidup adalah selama 25 tahun, seperti laporan kantor berita resmi Mesir, MENA, yang dilansir dari Antara, Minggu, 15 Juli 2018. Sementara tiga anggota Ikhwanul Muslimin lainnya dijatuhi hukuman penjara tiga tahun atas dakwaan yang sama.

Kasus tersebut bermula pada 2014. Saat itu 27 orang yang tergabung dalam kelompok Ikhwanul Muslimin menyelenggarakan demonstrasi di provinsi Sharqiya.

Massa tersebut dituduh melemparkan bom molotov, melakukan sabotase, dan menutup lalu lintas serta menyebarkan brosur-brosur yang berisi penentangan terhadap angkatan bersenjata dan kepolisian.

Mesir mengalami sejumlah serangan antipasukan keamanan sejak mantan pemimpin Islamis Mohammed Mursi ditumbangkan pada 2013 melalui gerakan yang dipimpin militer. Mursi merupakan Presiden ke-5 Mesir yang menjabat dari 30 Juni 2012 hingga 3 Juli 2013.

Ikhwanul Muslimin pimpinan Mursi dimasukkan ke dalam daftar teroris pada 2014 oleh pemerintah. Dia dijatuhi hukuman tambahan 3 tahun penjara oleh pengadilan kriminal di Kairo, bersama dengan 19 orang lainnya. 

Mursi dan sejumlah sosok terkemuka di kelompoknya telah dijatuhi hukuman, dari hukuman mati hingga penjara seumur hidup atas dakwaan pembunuhan, kekerasan dan spionase.

Mursi juga diharuskan membayar denda sebesar 2 juta pound Mesir atau sekitar Rp 1,5 miliar karena dianggap menghina pengadilan.

Tahanan lain yang dijatuhi hukuman bersama Mursi atas tuduhan yang sama adalah aktivis Alaa Abdel Fattah dan penyiar televisi yang juga politikus Tawfik Okasha. Namun hukuman keduanya lebih ringan dari pada Mursi. AS

Redaktur: Achmad Sakirin
Sumber: Antara
KOMENTAR
500/500