Ilustrasi pencabulan siswi oleh supir angkot, Ilustrasi: Pixabay

Dua Hari Cabuli ABG, Tukang Ojek Divonis Penjara 5 Tahun

Estimasi Baca:
Selasa, 10 Okt 2017 00:00:44 WIB

Kriminologi.id - Majelis hakim Pengadian Negeri Ambon menjatuhkan vonis lima tahun penjara terhadap Chrismon Uratman, pelaku pencabulan terhadap anak usia 14 tahun. Chrismon terbukti melanggar pasal 81 ayat (2) Undang-Undang nomor 35 tahun 2014 tentang perubahan atas UU nomor 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak.

"Menyatakan terdakwa terbukti bersalah melakukan tindak pidana pencabulan terhadap anak yang masih berusia 14 tahun dan menjatuhkan vonis lima tahun penjara," kata Ketua Majelis Hakim Pengadilan Negeri Ambon, Hery Setyobudi, seperti dikutip dari Antara, Senin, 9 Oktober 2017

Baca: Tukang Becak Saksi Pencabulan Siswi SD di Atas Motor

Berdasarkan penelusuran polisi, peristiwa terjadi pada April 2017. Saat itu, terdakwa Chrismon yang setiap hari berprofesi sebagai tukang ojek, awalnya dihubungi korban melalui telepon selular. Chrismon diminta untuk menjemput korban pada malam hari sekitar pukul 24.00 WIT.

Korban yang sedang memiliki masalah di rumah bertemu dengan terdakwa hingga pukul 04.00 WIT. Namun, mereka tidak pulang ke rumah masing-masing. Keduanya pergi ke rumah kerabat terdakwa di Passo, Baguala, Ambon. Di sana, mereka menginap.

Baca: Seorang Kakek Tega Cabuli Anak Berusia 9 Tahun

Saat itulah, terdakwa kemudian merayu korban untuk hubungan intim layaknya suami istri. Orang tua korban yang cemas dengan kondisi putrinya, karena tak pulang selama dua hari, kemudian melapor kepada polisi.

Dalam amar putusannya, majelis hakim menyatakan yang memberatkan terdakwa dijatuhi hukuman penjara karena perbuatannya dilakukan terhadap anak yang masih di bawah umur, sehingga menimbulkan trauma mendalam. Sedangkan yang meringankan, karena terdakwa mengakui dan menyesali perbuatannya. Juga karena yang bersangkutan belum pernah dihukum sebelumnya.

Baca: Cabuli Santri di Bawah Umur, Pimpinan Pesantren Serahkan Diri

Putusan majelis hakim juga lebih ringan dari tuntutan jaksa penuntut umum Kejaksaan Negeri Ambon, Caterina Lesbata, yang dalam persidangan sebelumnya meminta majelis hakim menyatakan terdakwa bersalah dan dihukum tujuh tahun penjara.

Adapun Jaksa Penuntut Umum maupun terdakwa melalui penasihat hukumnya menyatakan menerima putusan majelis hakim, sehingga putusan atas perkara ini dinyatakan inkrah dan memiliki kekuatan hukum tetap. TD

Penulis: Tito Dirhantoro
Redaktur: Nuruddin Lazuardi
Sumber: Antara
KOMENTAR
500/500