Ilustrasi vonis hukum (Amin H. Al Bakki/Kriminologi.id)

Dua Vonis Hakim Terhadap Anak yang Mencengangkan

Estimasi Baca:
Senin, 23 Jul 2018 20:05:26 WIB

Kriminologi.id - Anak sepatutnya tidak perlu duduk sebagai pesakitan di meja hijau persidangan. Apalagi harus menjalani hari-harinya di balik jeruji besi. Sebab segala tindakan buruk yang mereka lakukan ada tanggung jawab orang dewasa di dalamnya, khususnya keluarga. Seringkali anak tidak tahu apa yang dilakukannya adalah kejahatan atau pun mereka melakukan tindakan tersebut karena disuruh orang dewasa.

Akan tetapi hukum di Indonesia masih memungkinkan untuk memberikan hukuman kepada anak jika tindakan yang dilakukannya memiliki ancaman lebih dari tujuh tahun penjara. Hal ini sesuai dengan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2012. Berdasarkan penelusuran kriminologi.id selama 2017 hingga 2018, terdapat dua vonis mencengangkan yang dijatuhkan hakim terhadap anak.

1. Vonis 6 Bulan Terhadap Anak Korban Perkosaan yang Melakukan Aborsi

Pengadilan Negeri Muara Bulian, Jambi memutuskan anak perempuan berusia 15 tahun berinisial WA harus menjalani hukuman penjara selama enam bulan karena melakukan aborsi terhadap janinnya. Padahal WA hamil lantaran diperkosa kakak kandungnya sendiri.

Kakak kandungnya telah delapan kali memperkosa WA hingga akhirnya hamil. Selama itu, WA sama sekali tidak menceritakan kepada orang tuanya karena takut. Hingga akhirnya kehamilan WA diketahui ibundanya dan kemudian diputuskan untuk melakukan aborsi janinnya yang berusia delapan bulan tersebut pada 30 Mei 2018. Aborsi dilakukan dengan dibantu ibunda WA tanpa mengunjungi klinik bersalin atau pun didampingi tenaga medis.

Peristiwa ini terungkap ketika warga menemukan janin bayi tanpa kepala di perkebunan sawit milik warga. Ibunda WA memang membuang janin bayi tersebut ke kebun sawit milik tetangganya. Inilah kemudian yang mengungkap hubungan sedarah antara WA dengan kakaknya.

Keputusan hakim yang memvonis WA sangat disayangkan lembaga perlindungan anak seperti Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI). Bagi KPAI, seharusnya WA adalah korban, baik korban pemerkosaan kakak kandungnya dan bahkan korban keputusan ibunya untuk melakukan aborsi. Sehingga tidak sepatutnya WA dijatuhi hukuman penjara yang semakin menambah penderitaannya.

Masalah aborsi memang masih menjadi perdebatan di dalam hukum Indonesia. Ada kelompok yang mendukung aborsi boleh dilakukan dengan beberapa syarat seperti kehamilan akibat pemerkosaan dan kehamilan pada anak. Akan tetapi ada kelompok lain yang menganggap aborsi artinya mengambil nyawa makhluk hidup lain sehingga sama saja dengan melakukan pembunuhan. Perdebatan itu hingga kini juga belum menemukan titik terang.

2. Vonis 10 Tahun Terhadap Anak Pelaku Pemerkosaan

Kasus pemerkosaan dan pembunuhan terhadap Enno Farihah yang dilakukan tiga pelaku telah diputus majelis hakim Pengadilan Negeri Tangerang. Di antara ketiga pelaku, salah satunya adalah anak berusia 16 tahun.

Tidak hanya memperkosa korban, ketiganya juga melakukan kekerasan yang mengakibatkan korban meninggal dunia. Wajah korban sempat dipukul dengan cangkul sehingga mengakibatkan luka. Selain itu, pelaku juga memasukkan gagang cangkul tersebut ke dalam kemaluan korban. Tindakan inilah yang menyebabkan korban menghembuskan nafas terakhirnya.

Pelaku berinisial RA yang masih belum genap 18 tahun itu akhirnya mendapatkan vonis 10 tahun penjara. Berdasarkan kronologi peristiwa yang dipaparkan kepolisian, diketahui RA sebenarnya menerima ajakan kedua pelaku lainnya untuk masuk dan memastikan siapa nama korban sebenarnya. Sebab RA mengenal korban dengan nama Indah. Akan tetapi setelah di dalam kamar korban, kedua pelaku lainnya justru langsung membekap dan menyetubuhi korban.

Saat itu, RA yang sempat ditolak berhubungan badan dengan korban jadi ikut melampiaskan kekesalannya dan ikut memperkosa korban. Berdasarkan kronologi tersebut terlihat bahwa keterlibatan RA dalam peristiwa kejahatan bukan murni kehendaknya, akan tetapi mendapatkan pengaruh dari orang dewasa.

Hukuman 10 tahun penjara sebenarnya adalah hukuman maksimal yang dapat dijatuhkan kepada anak. Ini sesuai dengan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1997 tentang Pengadilan Anak. Anak-anak hanya bisa dikenai hukuman setengah dari hukuman orang dewasa. Sebenarnya hukuman yang dijatuhkan kepada RA terhitung sangat berat, sehingga sempat diajukan banding namun tenyata banding tersebut ditolak.

Infografik 2 vonis terhadap anak yang mencengangkan. Infografik: Dwiangga Perwira/Kriminologi.id

KOMENTAR
500/500