Fredrich Yunadi. Foto: Dimeitri Marilyn/Kriminologi.id

Fredrich Nilai Vonis 7 Tahun Lebih Tinggi Dibanding Hukuman Koruptor

Estimasi Baca:
Kamis, 28 Jun 2018 18:45:12 WIB

Kriminologi.id - Fredrich Yunadi menyatakan akan mengajukan banding terhadap vonis 7 tahun penjara dan denda Rp 500 ribu subsider 5 bulan yang diputuskan Ketua Majelis Hakim Syaifuddin Zuhri di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor), Kamis, 28 Juni 2018. 

Mantan kuasa hukum Setya Novanto ini menilai vonis hakim itu lebih tinggi di bandingkan dengan pelaku utama korupsi. 

"Iya kalau putusannya sih puas lebih rendah. Tapi saya rasa cukup tinggi. Karena pelaku korupsi yang utama saja bisa lebih ringan dari saya bisa empat tahun," ujar Fredrich Yunadi, Kamis, 28 Juni 2018. 

Fredrich mengaku puas dengan keputusan 7 tahun penjara itu lebih rendah dari tuntutan yang diajukan Jaksa Penuntut Umum dengan hukuman 12 tahun penjara.

Akan tetapi, kepuasan itu tidak menghalangi dirinya untuk kembali menempuh jalur lebih tinggi untuk mencari keadian dengan banding ke Pengadilan Tinggi (PT). 

"Saya menyatakan akan banding. Saya sudah berkonsultasi dengan pihak kuasa hukum untuk memberikan hari ini juga memori banding," ujar Fredrich Yunadi menjawab pertanyaan Ketua Majelis Hakim Syaifuddin Zuhri di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor), Kamis, 28 Juni 2018.
  
Fredrich mengatakan tepat di hari ini juga Kamis, 28 Juni 2018 dirinya akan membawa rekomendasi surat putusan hakim di Pengadilan Tipikor dan akan dibawa ke Pengadilan Tinggi sebagai langkah menempuh banding.

"Iya hari ini juga kita minta bukti vonis dan akan membawanya juga ke PT DKI Jakarta," ujar Fredrich Yunadi.

Jaksa Penuntut Umum KPK menuntut Fredrich hukuman selama 12 tahun penjara dan denda RP 600 ribu subsider 6 bulan pada Kamis, 31 Mei 2018. 

Hukuman maksimal diberikan kepada Fredrich karena Jaksa menilai bahwa Fredrich terbukti mengondisikan agar Novanto dirawat di RS Medika Permata Hijau. 

Ia meminta tolong kepada dr Bimanesh Sutardjo untuk membantu skenario perawatan Setya Novanto. Fredrich berusaha mengondisikan ruang perawatan Setya Novanto di RS Medika Permata Hijau. Hal itu dilakukan agar Novanto tidak bisa diperiksa dengan diagnosis penyakit hipertensi. 

Hal lain yang menjadi pertimbangan JPU KPK bahwa selama persidangan Fredrich sering kali menimbulkan kegaduhan, tidak kooperatif dan sering berselisih paham dengan Ketua JPU Mochammad Takdir Suhan.

Maka, JPU menilai bahwa Fredrich tidak memiliki itikad baik dalam persidangan yang berlangsung selama 3 bulan lebih tersebut.

Jaksa Penuntut Umum KPK menilai Fredrich telah melanggar Pasal 21 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dalam UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 Ayat (1) ke-1 KUHP.

Reporter: Dimeitri Marilyn
Redaktur: Syahrul Munir
KOMENTAR
500/500