Ilustrasi Ijazah Palsu. Foto: Kriminologi.id

Ijazah Palsu Terungkap Saat Reuni, Guru SMP Divonis Penjara 

Estimasi Baca:
Kamis, 11 Jan 2018 08:05:50 WIB

Kriminologi.id - Seorang guru SMP di Ambon bernama Tety Sriyenti divonis 1,8 tahun penjara setelah terbukti memalsukan ijazah dari jenjang pendidikan SD sampai SMA untuk Suwardi menggunakan nama Ahmad Irfansyah Riyadi. Selain Tety, Suwardi turut divonis penjara oleh hakim selama 1,2 tahun oleh Pengadilan Negeri Ambon.

“Terdakwa dan Jaksa Penuntut Umum menyatakan menerima putusan ini maka perkaranya dinyatakan selesai dan sudah memiliki kekuatan hukum tetap,” kata Ketua Majelis Hakim Pengadilan Negeri Ambon, Amaye Yambeyabdi yang didampingi Jimmy Wally dan Leo Sukarno sebagai hakim anggota di Ambon, pada Rabu, 10 Januari 2018.

Berdasarkan hasil persidangan, terdakwa Tety divonis penjara karena terbukti bersalah melanngar pasal 263 ayat (1) KUH Pidana. Sedangkan Suwardy dinyatakan terbukti melanggar pasal 263 ayat (2) KUH Pidana tentang pemalsuan surat. 

Baca: Sindikat Pemalsu Ijazah Terbongkar Berkat Pemilihan Kepala Dusun

Putusan majelis hakim terhadap kedua terdakwa lebih ringan dari tuntutan Jaksa Evi Hattu dan Senia Pentury yang menginginkan terdakwa Tety Sriyenti dihukum tiga tahun penjara. Sedangkan Suwardi awalnya dituntut dua tahun penjara.

Terungkapnya kasus ijazah palsu ini bermula ketika seorang bernama Ahmad Irfansyah Riyadi yang asli mengikuti sebuah acara reuni sekolah. Di acara itu, dia mendapati identitasnya sebagai seorang anggota polisi yang bertugas di Polda Maluku.

Karena tak merasa demikian, Ahmad Irfansyah Riyadi kemudian melaporkan temuannya itu kepada polisi. Dari situ baru diketahui kalau data identitas pribadinya diberikan oleh Napsiah, seorang guru SMP Negeri 16 Ambon bersama suaminya Taher yang berprofesi sebagai pekerja bengkel.

Dalam persidangan sebelumnya, terdakwa Tety menuturkan blanko ijazah palsu itu disediakan oleh Napsiah. Sedangkan Tety hanya diminta Napsiah dan Taher untuk melayani Suwardi memasang pas foto dan stempel tiga jari pada lembaran ijazah palsu yang telah disediakan atas nama Ahmad Irfiansyah Riyadi.

Baca: Begini Nasib Kades Pengguna Ijazah Palsu di Lebak

"Kami hanya menempelken foto milik terdakwa Suwardi ke blanko ijazah SD hingga SMA dan memegang tangannya untuk cap tiga jari," kata Tety.

Menurut Tety, dirinya mengenal Suwardi melalui Taher, suami dari Napsiah yang merupakan rekannnya sebagai guru di SMP Negeri 16 Waiheru Ambon dan mengajar mata pelajaran PPKN.

"Awalnya saya diberikan tiga blanko ijazah atas nama Ahmad Irfiansah Riyadi yang sudah tertera cap dan tanda tangan kepala sekolah, serta daftar nilainya juga lengkap tetapi tidak diketahui siapa yang menulisnya," kata Tety.

Kemudian, lanjut Tety, istri Napsiah memberikan uang Rp 500 ribu dengan alasan untuk keperluan foto kopi ijazah. Menurutnya, apa yang dilakukannya hanya ingin membantu rekannya menempelkan foto Suwardi dan mengarahkan tangannya untuk cap tiga jari. 

Sementara Suwardi saat diperiksa sebagai terdakwa mengaku telah empat kali mengirimkan uang melalui tranbsfer bank dengan total keseluruhan mencapai Rp 265 juta kepada Taher.

Baca: Ijazah Palsu Polisi di Ambon Terungkap dari Tandatangan yang Berbeda

"Untuk penyetoran pertama sebesar Rp 25 juta yang akan dipakai Taher dalam proses pembuatan ijazah SD-SMA dan transfer kedua senilai Rp30 juta untuk biaya administrasi," kata Suwardi.

Ketika mengikuti proses seleksi calon bintara Polri di Polda Maluku, Taher kembali meminta uang senilai Rp 170 juta. Terakhir, Suwardi diminta memberikan uang Rp 40 juta setelah dinyatakan lulus seleksi dan mengikuti pendidikan Secaba Polri.

Meskipun Taher saat ini sudah ditetapkan sebagai tersangka, namun penasihat hukum Tety Sriyeni, Abdusyukur dan Rizal Ely juga meminta majelis hakim menetapkan isteri Taher sebagai tersangka karena menyediakan blanko ijazah palsu. TD

Penulis: Tito Dirhantoro
Sumber: Antara
KOMENTAR
500/500