Keluarga Polisi Histeris Saat Otak Pembunuh Ayahnya Dihukum 17 Tahun

Estimasi Baca :

I Gede Ngurah Astika (31) yang merupakan otak pembunuhan pensiuan polisi, Aiptu I Made Suanda, Foto: Facebook/Kriminologi.id - Kriminologi.id
I Gede Ngurah Astika (31) yang merupakan otak pembunuhan pensiunan polisi, Aiptu I Made Suanda, Foto: Facebook/Kriminologi.id

Kriminologi.id - Putusan majelis hakim Pengadilan Negeri Denpasar, Bali terhadap I Gede Ngurah Astika (31), otak pembunuhan pensiunan polisi bernama Aiptu I Made Suanda divonis selama 17 tahun penjara ditanggapi keluarga korban dengan tangisan histeris.

Keluarga pensiunan polisi tidak puas dengan putusan hakim Pengadilan Negeri Denpasar, Bali, Selasa, 3 Juli 2018. 

Sementara tiga terdakwa lainnya yang ikut membantu pembunuhan, yakni Dewa Putu Alit Sudiasa (38), Putu Veri Permadi (29), dan Dewa Made Budianto (32) divonis hukuman lebih rendah, yakni masing-masing 14 tahun penjara.

Putusan majelis hakim yang diketuai hakim Gde Ginarsa itu memang lebih tinggi dari tuntutan jaksa penuntut umum. Oleh JPU, Astika dituntut hukuman 15 tahun penjara, sementara tiga terdakwa lainnya dituntut masing-masing 12 tahun penjara.

"Terdakwa I Gede Ngurah Astika terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah menghabisi nyawa orang lain dengan sengaja dan melanggar Pasal 365 Ayat 2 KUHP," kata hakim.

Sementara tiga terdakwa lainnya dinyatakan bersalah melanggar Pasal 365 ayat 2 ke-2, ayat 3 KUHP dalam dakwaan alternatif kedua penuntut umum dalam sidang tersebut.

Menanggapi putusan majelis hakim itu, keempat terdakwa yang didampingi penasihat hukumnya dari Posbakum PN Denpasar menyatakan pikir-pikir selama sepekan. Demikian juga dengan jaksa penuntut umum.

Keluarga dan anak korban yang menyaksikan jalannya persidangan tersebut terlihat histeris atas putusan hakim. Mereka menilai hukuman yang dijatuhkan tidak setimpal dengan perbuatan yang dilakukan keempat terdakwa.

Saat keempat terdakwa hendak dibawa ke mobil tahanan, keluarga korban yang sengaja menunggu melampiaskan emosinya dengan melontarkan kata-kata bernada kesal. Melihat situasi yang tidak kondusif itu, puluhan aparat kepolisian dan jaksa mengamankan keempat terdakwa untuk menghindari amukan massa dari keluarga korban.

Aiptu I Made tewas pada Jumat, 15 Desember 2017, sekitar pukul 12.00 Wita. Ia dibunuh di dalam rumah kontrakan pelaku Gede Ngurah Astika di Perum Nuansa Utama Nomor 30, Ubung Kaja, Denpasar Utara.

Motif pembunuhan adalah ingin menguasai mobil Honda Jazz dengan nomor polisi DK-1985-CN milik korban. Adapun modus yang dilakukan pelaku yakni dengan berpura-pura sebagai pembeli mobil korban.

Dalam aksinya, terdakwa I Gede Ngurah Astika mengajak Dewa Putu Alit Sudiasa alias Alit, Putu Veri Permadi alias Veri, Dewa Made Budianto alias Tonges ke rumah kontrakannya tersebut.

Tiba di kontrakan terdakwa Ngurah Astika, korban diberi kopi yang telah dicampur obat tidur. Pembicaraan pun dilanjutkan hingga disepakati harga jual mobil sebesar Rp 158 juta.

Namun, terdakwa Astika menjanjikan pembayaran cash akan dilakukan setelah ibunya datang mengambil uang dari bank.

Sayangnya, belum sempat ibunya tiba kopi yang telah dicampur obat tidur itu sama sekali tidak memberikan efek apa-apa. Merasa lama, Astika kemudian memukul muka korban sampai terjatuh dan kepala belakang membentur tembok. 

Kemudian pelaku memegang leher korban dan membenturkan mukanya berkali kali ke lantai. Aksi penganiayaan ini dibantu oleh rekan lainnya.

Selanjutnya, terdakwa Astika memukul kepala korban dengan helm hingga korban meninggal dunia dan diseret ke dalam kamar.

Melihat korbannya tak berkutik, terdakwa Astika mengambil BPKB mobil dan membawa mobil sedan milik korban. Sedangkan terdakwa lainnya membuntuti dari belakang. 

Setelahnya mereka menjual mobil tersebut seharga Rp 182 juta. Namun Astika hanya memberikan uang Rp 10 juta kepada tiga tersangka lainnya, Dewa Made Sudiana, Dewa Made Budianta, dan Putu Veri Permadi.

Setelah membagikan uang secara tak merata itu, Astika kemudian menggunakan uang haram itu membeli mobil Daihatsu Ferroza dengan nomor polisi DK 435 IN warna biru metalik seharga Rp 62 juta.

Sebagian uang juga digunakan membayar rumah kontrakannya di Tabanan. MSA

Baca Selengkapnya

Home Investigasi Vonis Keluarga Polisi Histeris Saat Otak Pembunuh Ayahnya Dihukum 17 Tahun

KOMENTAR

Tulis Komentar Kamu

Silahkan masuk terlebih dahulu
Silahkan tulis komentar kamu