Ilustrasi Penjara. Foto: Pixabay

Otaibi dan Attawi, Aktivis HAM Saudi Pertama yang Dihukum 14 Tahun

Estimasi Baca:
Senin, 29 Jan 2018 12:08:46 WIB

Kriminologi.id - Dua pegiat Hak Asasi Manusia, Mohammad al-Otaibi dan Abdullah al-Attawi menjadi yang pertama dijatuhi hukuman penjara masing-masing 14 tahun oleh pengadilan Arab Saudi terkait perjuangan hak asasi manusia. Keduanya divonis bersalah karena telah membentuk sebuah organisasi independen dan membuat pernyataan yang dinilai membahayakan kerajaan.

Mohammad al-Otaibi ditangkap di bandara Doha dan dideportasi dari Qatar ke Arab Saudi pada bulan Mei 2017. Ia ditangkap saat mencoba terbang bersama istrinya ke Norwegia dimana dia diberi suaka politik.

Amnesti Internasional mengatakan, Otaibi dan Attawi merupakan pembela hak asasi manusia pertama yang dijatuhi hukuman di bawah kepemimpinan Putra Mahkota Mohammad Bin Salman. Amnesti juga menyatakan, salah satu tuntutan terhadap keduanya adalah mendirikan sebuah organisasi yang tidak memiliki izin, menyebarkan kekacauan, serta memicu opini publik dan membentuk sebuah penerbitan.

Baca: Ahed Tamimi, Aktivis Perempuan Palestina Ditangkap Israel

Selain itu, keduanya juga terbukti mengeluarkan pernyataan berbahaya bagi kerajaan dan institusi-institusinya. Vonis tersebut dijatuhkan oleh pengadilan di ibu kota Arab Saudi, Riyadh pada Kamis, 25 Januari 2018.

"Hukuman berat pada Mohammad al-Otaibi dan Abdullah al-Attawi, yang seharusnya tidak dihukum, menegaskan ketakutan kita bahwa kepemimpinan baru Mohamed Bin Salman bertekad untuk membungkam masyarakat sipil dan pembela hak asasi manusia di kerajaan itu," kata direktur Amnesti Internasional Timur Tengah, Samah Hadid dalam sebuah pernyataan.

Putra Mahkota Mohamed Bin Salman telah mengambil alih kekuasaan di Arab Saudi yang bersekutu dengan Barat. Ia mendorong sebuah agenda reformasi yang bertujuan untuk melepaskan negara itu dari ketergantungan pada kekayaan minyak dan memperkenalkan perubahan sosial.

Baca: Dituduh Makar, Aktivis HAM Taiwan Divonis 5 Tahun Penjara

Namun, Human Rights Watch yang berkantor di New York mengatakan pekan lalu lebih dari selusin pegiat politik terkemuka dijatuhi hukuman penjara karena tuduhan yang tidak jelas karena aksi damai mereka.

Sejak kampanye Kebangkitan Arab 2011, pihak berwenang Saudi telah meningkatkan upaya untuk mencegah pembangkangan dengan undang-undang kejahatan siber yang baru. 

Otoritas Arab Saudi menjatuhkan hukuman penjara kepada para aktivis atas tuduhan menghina kerajaan atau mengancam ketertiban umum.

Arab Saudi yang menganut sistem monarki absolut melarang partai politik dan bentuk demonstrasi publik serta telah menghukum anggota organisasi yang memperjuangkan hak-hak sipil.

Baca: Via Facebook, Aktivis Feminis Tuduh Profesor Oxford Perkosa Dirinya

Penuntutan Otaibi dan Attawi sendiri menurut sejumlah aktivis dinilai tidak masuk akal. Awalnya, keduanya membentuk sebuah serikat untuk Hak Asasi Manusia pada April 2013. Organisasi itu kemudian mengeluarkan pernyataan-pernyataanya melalui media sosial. 

Mereka kemudian dipanggil untuk penyelidikan satu bulan kemudian. Usai pemanggilan itu keduanya berjanji untuk menutup organisasi yang telah dibentuk. Otaibi dan Attawi kemudian mengajukan izin resmi untuk membuka organisasi non-pemerintah namun tidak disetujui. 

Otaibi dan Attawi kembali mendapat peringatan dari pemerintah Arab Saudi untuk menghentikan aktivitas mereka pada tahun 2014. Kemudian pada 2016, kasus ini dibuka kembali. 

Pada bulan Maret 2017, Otaibi meninggalkan Arab Saudi menuju Qatar. Dia kemudian mendapatkan suaka di Norwegia. Saat bersiap berangkat ke Norwegia, dia ditangkap di bandara Doha dan diportasi ke Arab Saudi.

Redaktur: Achmad Sakirin
KOMENTAR
500/500