ilustrasi korban pembunuhan. Foto: Pixabay

Pengadilan Vonis Mati Nenek Pembunuh Lansia di Jepang

Estimasi Baca:
Jumat, 10 Nov 2017 16:15:10 WIB

Kriminologi.id - Lebih dari 600 orang mengantre di luar Pengadilan Distrik Kyoto, Jepang. Mereka antre masuk ke ruang sidang untuk menyaksikan hasil persidangan maraton yang menjerat Chisako Kakehi. Persidangan janda berusia 70 tahun itu menyedot perhatian warga Jepang. Sebab, pengadilan ini merupakan terpanjang kedua yang melibatkan dewan juri sejak 2009, ketika Jepang memperkenalkan sistem hakim juri.

Persidangan yang dipimpin oleh Hakim Ayako Nakagawa itu menyatakan, menghukum Kakehi dengan vonis hukuman mati. Dia dinyatakan terbukti bersalah atas pembunuhan berencana dan percobaan pembunuhan lainnya.

“Kasus-kasus itu dipersiapkan dengan baik sebelumnya, licik dan berbahaya. Saya tidak punya pilihan selain menjatuhkan hukuman maksimal,” kata Nakagawa.

Baca: Tergiur Asuransi, Nenek 70 Tahun Racuni 4 Pria dengan Sianida

Menyikapi putusan tersebut, pengacara terdakwa mengatakan kesaksian kliennya tidak dapat dipercaya. Menurutnya, Kakehi tidak bisa dinyatakan bertanggung jawab secara kriminal atas peristiwa pembunuhan tersebut karena menderita demensia. Namun, Nakagawa tetap pada pendiriannya, menolak pembelaan tersebut. 

Dalam fakta persidangan, Kakehi menggunakan sianida untuk membunuh para korbannya. Total ada tiga orang yang dibunuhnya menggunakan racun tersebut, yang salah satunya merupakan suami keempatnya berusia 75 tahun bernama Isao Kakehi pada 28 Desember 2013, atau sebulan setelah mereka menikah. 

Kemudian, dua pacarnya yang masing-masing berusia 71 tahun bernama law Masanori Honda, dan Minoru Hioki, 75 tahun. Selain itu, Kakehi juga dituduh melakukan percobaan pembunuhan dan perampokan terhadap pacar lainnya bernama Toshiaki Suehiro, 79 tahun--yang kemudian meninggal karena kanker--pada tahun 2007 dan 2013.

"Terdakwa membuat para korban minum senyawa sianida dengan niat membunuh dalam kasus tersebut," ujar Nakagawa.

Baca: Nenek 75 Tahun Hilang Usai Maraton, Topi Jadi Petunjuk

Selain itu, Kakehi terungkap menyimpan beberapa sianida di pot tanaman yang kemudian dibuangnya. Racun itu ditemukan di tubuh setidaknya dua orang yang berhubungan dengannya. Polisi dilaporkan menemukan jejak sianida di dalam sampah di rumahnya di Kyoto, termasuk perlengkapan obat-obatan dan buku medis di apartemennya

Terkait kematian suaminya, Kakehi awalnya menolak untuk berbicara saat persidangan yang berlangsung sejak Juni lalu. Belakangan, pernyataannya mengejutkan pengadilan karena dia mengakui telah membunuh suami itu pada 2013. 

"Saya membunuhnya, karena dia memberi wanita lain puluhan juta yen tapi tidak memberi saya sepeser pun," dalih Kakehi dalam persidangan tersebut.

Sementara pembunuhan pacarnya didasari oleh motif uang. Persidangan yang melibatkan lebih dari 50 saksi itu mengungkap, Kakehi mengenal para kekasihnya melalui layanan perjodohan. Dalam layanan itu, Kakehi secara khusus meminta untuk bertemu dengan pria kaya berusia lanjut atau sakit-sakitan yang tak mempunyai anak.

Baca: Terduga Pembunuh Nenek Tiamah Dibekuk di Batam

Jaksa mengatakan, pelaku melakukan kejahatan tersebut atas dasar untuk mewariskan kekayaan para korbannya. Setelah para korbannya menjadikan Kakehi sebagai penerima manfaat asuransi atas jaminan kematian, barulah Kakehi membunuh para korbannya. Jaksa mengatakan, Kakehi pernah menelepon sebuah layanan untuk membuka brankas salah satu korban sehari setelah meninggal.

Selama melancarkan aksinya, Kakehi sudah mendapatkan 1 miliyar yen atau sekira Rp 119 miliar. Namun, uang tersebut sebagian raib akibat kegagalannya saat mencoba peruntungan pada perdagangan finansial dan saham. 

Sebelum Kakehi terkenal di Jepang karena membunuh para korbannya, dia merupakan penduduk asli Prefektur Fukuoka. Kakehi pertama kali menikah pada usia 24 tahun. Setelah menikah dia membuka usaha percetakan kain di Prefektur Osaka. Tapi, setelah kematian suaminya sekitar 1994, usahanya gulung tikar. Sejak itulah, kehidpan Kakehi berubah drastis. Sembari menangis, dia sempat memjam sejumlah uang dari tetangganya, sebelum akhirnya melelang rumahnya untuk bertahan hidup.

Baca: Sering Dimarahi Tak Jaga Kebersihan, Rizky Bunuh Nenek Maria

Kakehi pertama kali ditangkap pada November 2014. Di bulan berikutnya pengadilan mendakwanya atas tuduhan membunuh Isao, suami keempatnya. 

Tiga tahun kemudian, sembari menggunakan alat bantu pendengaran dan meminta hakim berbicara keras-keras dalam membacakan hasil persidangan yang berlangsung selama tiga tahun itu, tidak ada emosi yang ditunjukkan Kakehi saat hukuman dijatuhkan kepadanya. Kepada hakim, Kakehi mengatakan siap untuk digantung.

"Bahkan, jika saya dieksekusi besok, saya akan mati tersenyum," kata Kakehi.

Sementara pengacaranya, dilaporkan berencana mengajukan banding ke pengadilan yang lebih tinggi. Alasannya, sidang profil tinggi masih dapat diajukan. TD

KOMENTAR
500/500