Ilustrasi vonis. Foto: Pixabay.com

Penyeleweng Dana Santunan Kematian di Jembrana Divonis Empat Tahun

Estimasi Baca:
Kamis, 2 Ags 2018 07:30:04 WIB

Kriminologi.id - Terdakwa kasus penyelewengan dana santunan kematian di Kabupaten Jembrana, Provinsi Bali, Indah Suryaningsih (48), divonis empat tahun penjara dalam sidang di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Denpasar, Rabu, 1 Agustus 2018.

Ketua majelis hakim I Made Sukareni dalam sidang itu, juga menjerat terdakwa yang menjabat Seksi Rehabilitasi Kesejahteraan Sosial Dinas Kesejahteraan Sosial, Tenaga Kerja, dan Transmigrasi atau Kessosnakertrans Jembrana untuk membayar denda Rp 200 juta, subsider tiga bulan penjara, dan membebankan terdakwa untuk membayar uang pengganti sebesar Rp 171 juta.

Vonis majelis hakim kepada terdakwa ini lebih ringan dari tuntutan yang diajukan jaksa penuntut umum (JPU) Ni Wayan Mearthi dalam sidang sebelumnya yang menuntut pidana penjara selama lima tahun dan denda Rp 200 juta kepada terdakwa.

"Menjatuhkan pidana terhadap terdakwa untuk membayar uang pengganti sejumlah Rp 171 juta, dalam tempo waktu satu bulan setelah putusan ini memiliki kekuatan hukum tetap," kata I Made Sukareni.

Apabila tidak dibayarkan, maka harta benda milik terdakwa akan disita untuk mengganti kerugian negara dan dilelang untuk menutupi kerugian negara tersebut.

"Jika terdakwa tidak memiliki harta benda yang cukup, maka diganti penjara satu tahun," ujar hakim pula.

Terdakwa juga dituntut membayar uang pengganti sejumlah Rp 239 juta, dan jika tidak dibayar maka diganti harta benda dan apabila tidak mencukupi diganti penjara selama dua tahun.

Namun, hakim sependapat pasal yang dikenakan kepada terdakwa karena telah melanggar pasal 2 Undang Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dan ditambah dengan Undang Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas Undang Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP jo pasal 64 ayat 1 KUHP.

Mendengar putusan tersebut, jaksa dan terdakwa menyatakan pikir-pikir selama satu minggu ke depan atas putusan hakim itu.

Dalam surat dakwaan diuraikan, Indah Suryaningsih melakukan korupsi dana santunan kematian bagi warga yang berkartu tanda penduduk Kabupaten Jembrana pada 12 Januari 2015 hingga 31 Desember 2015.

Perbuatan terdakwa tersebut dilakukan bersama beberapa terdakwa lain di antaranya Dewa Ketut Artawan selaku Kelian Dinas Banjar Sari Kuning Tulungagung, Desa Tukadaya, Melaya, dan Ni Luh Sridani selaku Kepala Lingkungan Asri, Kelurahan Gilimanuk, Melaya yang dituntut secara terpisah.

Dalam menjalankan aksinya, terdakwa merekayasa dokumen pendukung pencairan seperti akta kematian, kartu keluarga, serta KTP warga yang meninggal atau ahli warisnya. Sebagian lagi ada yang sudah cair, tapi digandakan dan diajukan kembali untuk dicairkan.

Nilai kerugian itu rinciannya meliputi pencairan terhadap 242 dokumen pendukung yang direkayasa dengan nilai Rp 363 juta. Perhitungannya, satu ahli waris dari warga yang meninggal berhak atas santunan sebesar Rp 1,5 juta.

Selanjutnya, terdakwa menggandakan atau membuat duplikat terhadap 59 dokumen pendukung atas nama warga yang sudah meninggal dan ahli warisnya telah menerima santunan. Dengan cara ini, realisasi santunannya mencapai Rp 88,5 juta.

Redaktur: Syahrul Munir
Sumber: Antara
KOMENTAR
500/500