Ilustrasi: Pengadilan Foto: Pixabay

Selundupkan Tramadol ke Mesir, Warga Inggris Divonis 3 Tahun Penjara

Estimasi Baca:
Rabu, 27 Des 2017 09:35:29 WIB

Kriminologi.id - Seorang perempuan asal Inggris, Laura Plummer, divonis tiga tahun penjara karena terbukti di pengadilan Mesir menyelundupkan 300 tablet penghilang rasa sakit merek Tramadol. Laura mengaku dirinya tidak mengetahui jika Mesir memasukkan obat-obatan itu ke dalam jenis obat terlarang.

Pengadilan Mesir yang digelar, Selasa, 26 Desember 2017, menyatakan bersalah terhadap Laura Plummer, warga negara Inggris yang bekerja sebagai pegawai toko.

Pengacara Laura mengatakan kliennya akan mengajukan banding, sebagai upaya untuk mendapatkan pembatalan vonis atau pegurangan hukuman, yang mungkin bisa didapatkan dua bulan setelah vonis dijatuhkan. Menurutnya, Laura tidak tahu bahwa Tramadol dilarang di Mesir.

Baca: Pil PCC Sasar Pelajar, Dibagikan Gratis Saat Tanding Sepak Bola

Laura Plummer, perempuan berusia 33 tahun asal Hull, Inggris ditangkap pada Oktober setelah tablet-tablet penghilang rasa sakit dengan merek Tramadol itu ditemukan di dalam kopernya.

Laura ditangkap saat ia tiba dari Inggris pada Oktober dan penahanannya diperpanjang dua kali sebelum ia akhirnya dihadirkan dalam persidangan.

Pihak keluarga Laura mengatakan kepada surat kabar Inggris, Laura membeli tablet-tablet itu untuk pasangannya, yang merupakan warga Mesir dan tinggi di kota yang terletak di kawasan tempat berlibur Laut Merah, Hurghada.

Pengadilan juga menetapkan bahwa Laura harus membayar denda sebesar sekitar Rp 76 juta.

Di Inggris, Tramadol merupakan obat legal dan bisa dibeli dengan resep dokter. Namun di Mesir, Tramadol merupakan obat terlarang.

Keluarga Laura mengatakan, Selasa, mereka merasa kesal dengan cara peradilan dijalankan.

Baca: Kisah Korban Bom Mesir, Dikepung dan Ditembak Membabi-buta

"Sejak hari pertama, (pengadilan) ini sudah menjadi mimpi buruk. Kemarin di persidangan, dia (Laura, red) bahkan tidak diperbolehkan membawa penerjemah sendiri. Dia harus menerima penerjemah yang disediakan oleh pengadilan, yang memberikan terjemahan yang salah," kata saudara perempuan Laura, Jayne Synclair, di televisi BBC.

Pihak keluarga mengatakan bahwa Laura juga dipaksa menandatangani dokumen-dokumen berbahasa Arab, yang tidak dimengertinya.

"Mentalnya hampir jatuh. ini mengerikan," kata Jayne.

Redaktur: Achmad Sakirin
Sumber: Antara
KOMENTAR
500/500