Shoko Asahara, pemimpin sekte aliran sesat di Jepang, Aum Shinrikyo, . Foto: Ist/Kriminologi.id

Serangan Gas Beracun, Pemimpin Sekte Kiamat Jepang Dihukum Gantung

Estimasi Baca:
Jumat, 6 Jul 2018 15:30:34 WIB

Kriminologi.id - Shoko Asahara, seorang pemimpin sekte kiamat Aum Shinrikyo di Jepang dijatuhi hukuman mati hari ini, Jumat, 6 Juli 2018. Dia dijatuhi hukuman mati terkait serangan gas beracun di kereta bawah tanah Tokyo pada 1995 yang menewaskan 13 orang dan melukai ribuan orang.

Shoko Asahara (63) adalah salah satu dari 13 orang yang dijatuhi hukuman mati sehubungan dengan serangan itu. Dia digantung Jumat, 6 Juli 2018, pagi bersama enam pengikutnya terkait dengan serangan itu.

Menurut media Jepang, Kyodo, anggota aliran Aum Shinrikyo membawa kantung gas sarin ke lima kereta yang ramai di tiga jalur kereta bawah tanah selama jam sibuk, 20 Maret 1995. Serangan itu mengejutkan Jepang dan mendorong pengawasan ketat terhadap citra negara yang kaya dan aman.

Asahara mendirikan Aum Shinrikyo pada tahun 1987. Ia ditangkap dua bulan setelah serangan di salah satu bangunan kultus. Kelompok ini menggabungkan beberapa ajaran agama dan memiliki lebih dari 10.000 pengikut di Jepang dan lebih dari 30.000 di Rusia pada saat serangan itu.

Menurut Komisi Keselamatan Publik Jepang, sekte Aum Shinrikyo kemudian mengganti namanya menjadi Aleph dan beberapa kelompok sempalan lainnya yang masih memiliki sekitar 1.650 anggota. Yoshihide Suga, ketua sekretaris kabinet, mengatakan pihak berwenang harus waspada untuk mencegah pembalasan setelah Asahara eksekusi.

Dilaporkan nytimes.com, selama persidangannya, Asahara lebih banyak diam, menguap dan bergumam dengan tidak jelas ketika dinyatakan bersalah dan dijatuhi hukuman mati pada tahun 2004. Hakim mengatakan serangan itu direncanakan untuk mencegah polisi menindak kultus.

Sebelum serangan tahun 1995, kelompok itu dikaitkan dengan lebih dari puluhan kasus kematian. Polisi Jepang dikritik karena tidak bergerak lebih cepat untuk menghentikan kelompok itu. Terutama setelah serangan gas yang lebih kecil di prefektur (provinsi) Nagano pada tahun 1994 yang menewaskan delapan orang. Asahara juga dinyatakan bersalah merencanakan serangan itu.

Pengadilan terhadap Asahara dan tokoh-tokoh sesat lainnya memakan waktu bertahun-tahun, dan para anggota keluarga korban mengatakan eksekusi tersebut menandai berakhirnya sebuah proses panjang.

"Saya mengharapkan ini akan terjadi segera. Dan setelah 23 tahun, waktunya akhirnya tiba. Itu saja yang saya rasakan" kata Shizue Takahashi yang kehilangan suaminya dalam serangan kereta bawah tanah.

Minoru Kariya, yang ayahnya dibunuh oleh anggota aliran sesat, mengatakan, "Saya pikir eksekusi dilakukan dengan benar mengikuti hukum. AS

Penulis: Marselinus Gual
Redaktur: Achmad Sakirin
KOMENTAR
500/500