3 Petinggi Terjerat Korupsi, Lolos dari Jerat Hukum karena Saksi Kunci

Estimasi Baca :

Ilustrasi Korupsi. Ilustrasi: Kriminologi.id - Kriminologi.id
Ilustrasi Korupsi. Ilustrasi: Kriminologi.id

Kriminologi.id - Keterangan saksi dalam pengusutan sebuah kasus sangat penting dan menentukan. Terlebih jika status saksi kunci yang keterangannya bernilai tinggi dan memiliki peran penting untuk mengungkap tuntas sebuah kasus. 

Termasuk kasus korupsi, kendati banyak pengusutan kasus yang menjerat elite negeri ini tak terungkap. Tembok kokoh penghalang kasus korupsi yang menimpa politikus atau orang penting di negeri ini adalah saksi kunci meninggal dunia saat proses penyidikan.

Akibatnya keterangan dan bukti penting yang menjadi persyaratan dalam menentukan tersangka menjadi hilang begitu saja sehingga terkesan kaum elite sulit tersentuh hukum.  

Penelusuran singkat Kriminologi.id, terkait tiga petinggi terjerat kasus korupsi yang lolos dari jeratan hukum karena saksi kunci meninggal dunia sebagai berikut:

1. Muhaimin Iskandar, Korupsi Kardus Durian

Muhaimin Iskandar atau Cak Imin tersandung kasus korupsi proyek infrastruktur di Papua yang dikerjakan oleh Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi atau dikenal “kardus durian” pada tahun 2011, saat dirinya menjabat sebagai menterinya.

Ketua Umum PKB, Muhaimin Iskandar
Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa, Muhaimin Iskandar atau Cak Imin.

Namun dirinya lolos dari jeratan hukum karena sang saksi kunci, yakni Bupati Lumajang Ali Mudhori, meninggal dunia. Kasus ini pun tidak dilanjutkan karena ada yang hilang dalam jalannya proses penyelidikan.

Keterlibatan Muhaimin dalam kasus ini terungkap saat KPK melakukan operasi tangkap tangan (OTT) terhadap tiga orang di lokasi berbeda pada Agustus 2011. Mereka adalah Sekretaris Direktorat Jenderal Pembinaan dan Pembangunan Kawasan Transmigrasi (Ditjen P2TK) I Nyoman Suisnaya, Kabag Program Evaluasi Ditjen P2TK Dadong Irbarelawan, dan seorang Kuasa Direksi PT Alam Jaya Papua Dharnawati.

Penyidik berhasil mengamankan uang sebesar Rp 1,5 miliar yang diduga suap untuk memuluskan infrastruktur itu. Dharnawati menegaskan uang yang disimpan dalam kardus durian itu akan diberikan kepada Muhaimin sebagai commitment fee. Namun, Muhaimin selalu membantah tuduhan tersebut.

Pada kasus ini, I Nyoman dan Dadong masing-masing divonis tiga tahun penjara oleh Majelis Hakim. Namun hingga kasus ini dianggap selesai, Muhaimin tetap tidak tersentuh jeratan hukum. Padahal selama proses persidangan namanya kerap muncul dan disebut-sebut menjadi orang yang akan menerima paket kardus durian tersebut.

2. Wali Kota Bogor Bima Arya, Kasus Lahan Jambu Dua

Nama Walikota Bogor Bima Arya disebut-sebut terlibat dalam kasus korupsi penggelembungan harga lahan Jambu Dua atau yang lebih dikenal sebagai kasus Angkahong pada tahun 2014.

Wali Kota Bogor Bima Arya
Wali Kota Bogor, Bima Arya.

Namun, Pemilik lahan sekaligus saksi kunci dalam kasus pembelian lahan sebesar Rp 43,1 miliar itu, Kawidjaya Hendricus Ang atau Angka Wijaya alias Angkahong meninggal dunia sehingga mempersulit pengungkapan kasus secara tuntas.

Kasus ini muncul setelah adanya kejanggalan dalam pembelian lahan Pasar Warung Jambu seluas 3.000 meter persegi milik pengusaha Angkahong oleh Pemkot Bogor pada akhir 2014. Pembelian lahan tersebut diperuntukan tempat relokasi PKL di Jalan MA Salmun, Kota Bogor.

DPRD Kota Bogor meluluskan senilai Rp 17,5 miliar untuk pembelian lahan itu, namun pada akhirnya nilai pembelian lahan yang ditetapkan melambung menjadi Rp 43,1 miliar.

Pada kasus ini, mantan Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Kota Bogor Hidayat Yudha Priatna, mantan Camat Tanah Sereal Irwan Gumelar dan mantan Ketua Tim Apraisal Roni Nasrun Adnan menjadi terdakwa dengan vonis hukuman beragam.

Namun, Ketua Jaringan Pengacara Publik (JPP) Maradang Hasoloan mengungkapkan ketiganya hanyalah tumbal, dirinya mengendus ada dalang yang memberi perintah. Putusan Hakim menyebutkan korupsi tersebut dilakukan bersama-sama dengan Wali Kota Bogor Bima Arya dan Sekda Ade Sarip Hidayat.

Namun, dalam kasus ini Bima hanya dimintai keterangan sebatas saksi di persidangan. Padahal dalam Berita Acara Pemeriksaan (BAP) maupun dakwaan Jaksa, nama Bima Arya disebut sebanyak 17 kali. 

3. Mantan Wapres Boediono, Kasus Bank Century

Pengungkapan kasus pemberian bailout Bank Century yang kemudian dianggap bermasalah mengalami kemacetan selama bertahun-tahun.

Mantan Wakil Presiden Boediono
Mantan Wakil Presiden Boediono.

Salah satu yang menghambat adalah meninggalnya salah satu saksi kunci Siti Chalimah Fadjriah, mantan Deputi Gubernur Bank Indonesia Bidang Pengawasan pada 2015.

Sebelumnya, KPK menyebut Siti dan mantan Deputi Bidang 4 Pengelolaan Moneter Devisa BI Budi Mulya melakukan penyalahgunaan kewenangan dalam penetapan Bank Century sebagai bank gagal berdampak sistemik.

Selain itu, Siti dan Budi Mulya juga diduga menyalahgunakan wewenang secara bersama-sama dengan pejabat Bank Indonesia lainnya, yaitu Boediono selaku Gubernur BI, Miranda Goeltom selaku Deputi Gubernur Senior BI, Budi Rochadi (alm) selaku Deputi Gubernur Bidang 7 Sistem Pembayaran, Pengedaran Uang, BPR dan Perkreditan, serta bersama-sama dengan Robert Tantular dan Hermanus Hasan.

Kasus ini juga melibatkan nama pejabat lainnya, yakni Muliaman Darmansyah Hadad selaku Deputi Gubernur Bidang 5 Kebijakan Perbankan/Stabilitas Sistem Keuangan dan selaku Anggota Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), Hartadi Agus Sarwono selaku Deputi Gubernur Bidang 3 Kebijakan Moneter, dan Ardhayadi Mitroatmodjo selaku Deputi Gubernur Bidang 8 Logistik, Keuangan, Penyelesaian Aset, Sekretariat dan KBI, serta Raden Pardede selaku Sekretaris Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) dalam proses penetapan PT Bank Century, Tbk. sebagai bank gagal berdampak sistemik.

Namun demikian, KPK hingga saat ini baru menjerat Budi Mulya yang divonis 15 tahun penjara. Sementara 10 nama lainnya yang disebut dalam dakwaan Budi Mulya masih menghirup udara bebas. MSA

Baca Selengkapnya

Home Lapor & Waspada Peta Kejahatan 3 Petinggi Terjerat Korupsi, Lolos dari Jerat Hukum karena Saksi Kunci

KOMENTAR

Tulis Komentar Kamu

Silahkan tulis komentar kamu