Supporter bola. Foto: Unsplash.com

5 Aksi Fanatik Suporter Sepak Bola Berujung Petaka

Estimasi Baca:
Sabtu, 30 Jun 2018 12:05:56 WIB

Kriminologi.id - Seorang suporter Persija atau yang dikenal dengan Jakmania berulah dengan melakukan pemukulan terhadap anak Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Imam Nahrawi. Selain peristiwa itu, aksi fanatisme pendukung kesebelasan juga pernah berbuat brutal yang merugikan pihak lain.

Pemukulan yang dilakukan terhadap anak Imam Nahrawi tersebut terjadi saat berlangsungnya laga antara Persija Jakarta melawan Persebaya Surabaya di Stadion PTIK, Jakarta, Selatan, pada Selasa, 26 Juni 2018. Insiden pemukulan itu terekam dalam video yang viral di media sosial.

Dalam video yang pertama kali diunggah oleh akun @extragreentime pada Kamis, 28 Juni 2018, itu tergambar detik-detik pemukulan. Pemukulan itu diketahui dipicu oleh aksi selebrasi gol salah seorang Bonek, saat pemain Persebaya Rishad Fauzi mencetak gol pada menit ke-20.

Fanatisme terhadap klub sepakbola yang didukung membuat kelompok suporter kerap bertindak berlebihan dalam mempertahankan harga diri kelompok dan klub.

Fanatisme memang bagaikan dua sisi mata uang, bisa berbuah positif, bisa pula berbuah negatif. Sayangnya, sisi negatif justru yang melekat dan juga kerap diperlihatkan oleh kelompok suporter sepakbola di Indonesia. Karena terlalu fanatiknya pada klub yang dibela, para suporter sepakbola bisa sampai melakukan tindakan-tindakan yang berujung petaka. 

Infografik Deretan Aksi Brutal Suporter Sepak Bola Indonesia. Infografik: Amin H. Al Bakki/Kriminologi.id

Berikut Kriminologi.id rangkum 5 aksi brutal yang melibatkan suporter sepakbola di Indonesia.

1.  Ricuh Stadion Kanjuruhan, Seorang Aremania Tewas

Laga antara Arema FC melawan Persib Bandung di Stadion Kanjuruhan, Minggu, 15 April 2018, diwarnai kericuhan suporter di masa injury time. Ribuan penonton tiba-tiba berusaha turun ke lapangan, hingga laga pun terpaksa dihentikan. Pascakericuhan, ratusan Aremania, suporter Arema FC, luka-luka dan 1 tewas.

Perisitwa itu dipicu karena kekecewaan suporter atas kinerja wasit Handri Kristanto. Baku hantam tak terhindarkan antara petugas keamanan dan suporter. Suasana pun terus memanas, keributan melebar sampai menuju bangku staf pemain. 

Gas air mata yang ditembakkan oleh pihak kea Dhuhamanan membuat suporter semakin brutal. Akibat peristiwa ricuh itu, lebih dari 200 Aremania mengalami luka-luka, 8 di antaranya harus menjalankan perawatan intensif.

Nahas dialami Dimas Dhuha Ramli, salah seorang Aremania yang tewas pascakericuhan. Dimas tidak termasuk dari Aremania yang mendapat perawatan, dan berhasil pulang ke rumahnya. Namun, kondisi Dimas memburuk setelah sebelumnya terinjak-injak saat kericuhan terjadi.

Akibatnya, Dimas mengalami sesak nafas dan patah dilengannya. Sempat dirawat di dua rumah sakit, nyawa Dimas tak tertolong. Dimas menghembuskan nafas terakhir pada Senin, 17 April 2018.

2.  2 Suporter Bola Bacok Pengendara Motor

Selasa, 27 Februari 2018, dua pemuda suporter sepakbola Persitara Jakarta Utara mengeroyok seorang pengendara motor hanya karena masalah sepele. AK (22) dan RE (18) mengeroyok dan membacok Ahmad Syahrudin (24) lantaran tak terima korban menggeber gas sepeda motornya ke arah bus yang ditumpangi suporter Persitara.

Peristiwa fanatisme buta dari dua suporter sepakbola itu terjadi di Jalan Danau Sunter Selatan, Sunter Jaya, Jakarta Utara. Saat itu, kedua pelaku sedang dalam perjalanan pulang usai menghadiri acara ulang tahun klub Persitara di Stadion Tugu, Koja, dengan rombongan suporter lainnya, kedua pelaku menumpangi bus Kopaja.

Korban yang melintas di jalan yang sama, menggeber gas sepeda motornya saat berada di belakang bus rombongan suporter. Merasa tak terima, kedua pelaku langsung turun dan megejar korban, lalu mengeroyoknya.  AK yang ternyata membawa golok, juga membacok korban di bagian punggung. Akibatnya, korban ambruk bersimbah darah.

3. Jakmania Tewas Dikeroyok Viking

Nasih nahas dialami oleh Rizal Yanwar Saputra, seorang anggota Jakmania, sesaat setelah menyaksikan pertandingan antara Persija Jakarta melawan Bhayangkara FC di Stadion Patriot Bekasi, Minggu, 12 Oktober 2017.

Pemuda 20 tahun itu tewas usai dikeroyok oleh sejumlah anggota Viking, suporter Persib Bandung. Peristiwa itu terjadi saat korban melintas di Jalan Raya Pilar Sukatani, Kecamatan Karang Bahagia, Kabupaten Bekasi, usai menyaksikan pertandingan sepakbola.

Korban yang saat itu sudah berpisah dengan rombongan Jakmania lainnya diserang oleh balasang anggota Viking. Korban pertama kali dilempar batu hingga terjatuh. Setelah korban tersungkur, para pelaku memukuli korban hingga babak belur.

Pelaku juga melukai korban dengan menggunakan senjata tajam. Korban yang pingsan sempat dievakuasi ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan. Nahas, nyawa korban tak tertolong. Rizal menghembuskan nafas terakhirnya saat berada di rumah sakit.

4. Bentrok Bonek Vs PSHT, 2 Pendekar Tewas

Awal Oktober 2017, anggota Bonek sempat terlibat bentrok dengan anggota perguruan silat Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT), hingga menewaskan dua anggota perguruan. Rombongan Bonek yang hendak menonton sepak bola di Gelora Bung Tomo, Surabaya, bertemu dengan rombongan PSHT yang sedang menuju Gresik. Kedua kubu pun terlibat bentrok. Saat bentrok tersebut, sejumlah anggota Bonek luka-luka.

Sehari setelahnya, kelompok Bonek melakukan aksi balas dendam. Minggu siang, 1 Oktober 2017, Bonek Mania menghadang dan memukul dengan bambu secara beramai-ramai kepada dua anggots PSHT, yakni Eko Tristanto dan Anis, yang tengah melintas di Jalan Raya Tandes Lor.

Mereka mengeroyok dua korban hingga tewas. Tak hanya itu, motor yang ditumpangi korban juga dibakar di lokasi pengeroyokan terjadi. 

5. Anggota Jakmania Tewas di Tangan Anggota Viking

Nasib nahas dialami Ricko Andrean (22) saat hendak menolong salah seorang temannya seusai laga Persib Bandung melawan Persija Jakarta, di Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA), pada Sabtu, 22 Juli 2017.

Pelaku WFR mengaku mengeroyok karena mengira Ricko merupakan anggota The Jakmanja yang menyusup ke stadion Gelora Bandung Lautan Api.

Peristiwa itu bermula saat korban, yang tengah berisitirahat usai laga pertama dua kesebelasan itu selesai, melihat seorang anggota Jakmania dikeroyok sejumlah anggota Viking. Korban lantas berlari menuju sumber keributan, setelah itu suporter Persija berlindung di balik badannya.

Di tengah keributan, korban sempat menunjukkan KTP dan berkali-kali berteriak bahwa dirinya adalah warga Bandung. Namun, massa Viking yang sudah tidak terkendali terus menghajar korban sampai gegar otak.

Ricko akhirnya meninggal dunia lima hari setelah peristiwa pengeroyokan itu, pada Kami, 26 Juli 2017. Sebelumnya, ia sempat menjalani perawatan di Rumah Sakit Santo Yusuf, Bandung.

Penulis: Aditia Tjandra
Redaktur: Achmad Sakirin
KOMENTAR
500/500