Foto Lambang Bitcoin, Foto: Pixabay.com

5 Kasus Kriminal Bitcoin, Mulai dari Video Porno Hingga Teroris

Estimasi Baca:
Sabtu, 17 Mar 2018 17:40:25 WIB
Lima kasus kejahatan di Indonesia menggunakan bitcoin atau mata uang elektronik. Tiga kasus kejahatan teror, dua sisanya adalah kasus video porno dan narkoba.

Kriminologi.id - Bitcoin menjadi satu modus baru dalam melakukan pencucian uang. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memang menyebutkan bahwa bitcoin menjadi modus baru dalam Tindak Pidanan Pencucian Uang (TPPU). Terungkapnya modus baru ini berdasarkan hasil laporan Federal Bureau Investigation (FBI).

Bitcoin adalah salah satu jenis cryptocurrency atau yang disebut mata uang elektronik. Namun tak ada satu negara pun yang mengatur bitcoin atau bersifat universal. 

Karena sifatnya sebagai mata uang elektronik, bitcoin tidak memiliki wujud nyata, sebab dia adalah mata uang elektronik. Aktivitas pengiriman dan segala pembayaran dengan bitcoin melalui internet. Tidak ada bank atau lembaga yang memproduksi dan mengatur bitcoin.

Individu maupun kelompok dapat menghasilkan bitcoin dengan cara menambang bitcoin di dunia siber, walaupun cara ini cukup rumit dan membutuhkan spesifikasi komputer yang canggih. Bitcoin bisa digunakan untuk transaksi seperti bayar hotel dan penerbangan di berbagai negara, bitcoin juga dapat dijadikan sebagai aset dalam berinvestasi.

Sebab bitcoin juga memiliki kurs nilai tukar yang juga fluktuatif. Misalnya saja saat ini nilai tukar 1 Bitcoin (BTC) adalah sekitar Rp 133 juta, beberapa bulan yang lalu nilai bitcoin bahkan pernah mencapai sekitar Rp 200 juta untuk setiap bitcoin.

Baca: KPK Temukan Modus Baru Cuci Uang Korupsi via Judi Online dan Bitcoin

Saat ini bitcoin seringkali digunakan dalam tindak kejahatan. Selain kemudahannya dalam mengirimkan uang, bitcoin juga menawarkan anonimitas (tanpa nama) bagi para pemiliknya. Pengguna dapat mencantumkan nama alias di dalam market bitcoin. Selain itu, Indonesia juga belum memiliki aturan yang jelas terkait dengan penggunaan bitcoin.

Infografik Lima Kejahatan yang Gunakan Bitcoin. Infografik: Dwiangga Perwira/Kriminologi.id

Selain menjadi modus baru dalam TPPU, bitcoin juga digunakan dalam melakukan kejahatan. Menurut penelusuran kriminologi.id ada 5 kasus kejahatan menonjol yang selama ini terjadi di Indonesia dengan bitcoin.

1. Pemerasan dan Ancaman Terhadap Mall Alam Sutera

Bom meledak di pusat perbelanjaan Mall Alam Sutera pada 28 Oktober 2015 dan mengakibatkan seorang pengunjung luka-luka. Setelah bom pertama meledak, pelaku mengancam pihak manajemen mall akan meledakkan 5 bom lagi jika tidak memenuhi permintaan pelaku.

Pelaku meminta pengiriman 100 BTC ke alamat yang telah diberikannya. Saat itu, harga 1 bitcoin sekitar Rp 3,2 juta sehingga jumlah dana yang diminta pelaku adalah Rp 320 juta. Akan tetapi pihak manajemen hanya mengirimkan 0,25 BTC atau kira-kira senilai dengan Rp 700 ribu. Meski pengiriman BTC jauh di bawah permintaan, pelaku tetap mencairkan mata uang elektronik tersebut sebelum akhirnya ditangkap polisi. 

Baca: Dibayar Bitcoin, Sutradara Video Asusila Tak Bisa Bahasa Inggris

2. Pendanaan Teroris

Pada awal Januari 2017, Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) menemukan aliran dana dari simpatisan ISIS yang bernama Bahrun Naim ke anggota jaringannya di Indonesia untuk pembiayaan teror.

Penggunaan bitcoin dalam melakukan pengiriman dana merupakan modus yang baru dilakukan oleh para teroris. Karena kesulitan sistem ini sehingga tidak semua anggota jaringan teroris memahaminya. Aliran dana bitcoin ke jaringan teroris ini merupakan temuan pertama kali. Sebelumnya juga sempat ditemukan aliran dana terhadap jaringan teroris dengan menggunakan paypal.

3. Serangan Perangkat Pemeras

Pada bulan Mei 2017, Indonesia digemparkan dengan pemberitaan tentang serangan perangkat pemeras yang bernama Ransomware Wannacrypt atau yang dikenal di Indonesia dengan sebutan Ransomware WannaCry.

Salah satu korbannya adalah Rumah Sakit Kanker Dharmais. Data pasien di rumah sakit tersebut dikunci dan tidak dapat diakses. Pelaku penyerangan akan memberikan jangka waktu tertentu untuk membayarkan sejumlah uang tebusan. Pelaku meminta RS Dharmais membayar US$ 300 atau sekitar Rp 4,1 juta untuk membebaskan data-data yang dikunci.

Pelaku meminta pihak RS Dharmais membayarkan tebusannya menggunakan bitcoin. Jika tidak dilakukan atau melewati batas waktu yang ditentukan, pelaku mengancam data-data tersebut akan dimusnahkan secara otomatis. Tidak hanya RS Dharmais yang menjadi korban Ransomware tetapi juga Kementerian Agama dan juga perseorangan.

Baca: Bayar Pakai Bitcoin, Pembeli Bahan Ekstasi Via Online Diciduk BNN

4. Produksi Video Porno

Kasus video porno yang melibatkan anak dibawah umur di Bandung, Jawa Barat sempat menggemparkan publik. Berdasarkan hasil penyelidikan yang dilakukan rupanya pembuatan video tersebut adalah pesanan pihak lain.

Pelaku pembuat video porno tersebut mengaku pihaknya dijanjikan menerima bayaran Rp 30 juta dengan bitcoin atas jasanya membuat video yang akan dijual ke luar negeri. Polisi mencium adanya keterlibatan pihak ketiga yang berperan sebagai perantara antara pembuat dengan pemesan video. Sebab pembuat video tidak mengerti sama sekali bahasa Inggris sehingga agak disangsikan bahwa pembuat video porno tersebut memahami Bitcoin.

5. Transaksi Narkoba

Badan Narkotika Nasional atau BNN Provinsi Banten menangkap seseorang berinisial RU usai membeli bahan baku ekstasi jenis Methylenedioxymethamphetamine (MDMA) yang dipesan secara online dari Belanda.

RU ditangkap di salah satu kantor Pos di Tangerang Selatan pada Rabu, 31 Januari 2018 sekitar pukul 11.30 WIB. Dari tangan pelaku, petugas mengamankan satu paket bahan baku ekstasi seberat 5,8 gram atau diperkirakan dapat menghasilkan lebih dari 3.000 butir pil ekstasi.

Jual beli obat-obatan terlarang yang dilakukan pelaku melalui website khusus tersebut menggunakan Bitcoin sebagai alat pembayarannya. Kasus ini terungkap atas informasi dari pihak Bea Cukai yang mencurigai kiriman paket dari Belanda. SM

KOMENTAR
500/500