Ilustrasi kejahatan, Foto: Dwiangga Perwira/Kriminologi.id

5 Kejahatan yang Marak Saat Ramadan, dari Hipnotis hingga Pembiusan

Estimasi Baca:
Minggu, 10 Jun 2018 21:05:22 WIB

Kriminologi.id - Bulan Ramadan ternyata juga dijadikan kesempatan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab untuk melancarkan aksi kejahatan. Pasalnya mendekati Lebaran kebutuhan mendesak kerap dijadikan alasan untuk melakukan kejahatan. Tercatat sejumlah kejahatan seperti pencurian rumah kosong, perampokan, hipnotis dan pembiusan kerap mewarnai bulan Ramadan.

Penelusuran Kriminologi.id di berbagai sumber menemukan bahwa tingkat kejahatan konvensional selama bulan Ramadan terbilang terus meningkat. Seperti pada bulan Ramadan 2016, Polda Metro Jaya merilis angka kejahatan di wilayah Jakarta dan sekitarnya meningkat 3 persen di pekan pertama bulan puasa.

Sementara pada bulan Ramadan 2017 angka kejahatan kembali meningkat selama 2 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

Pada tahun 2018 ini, Polda Metro Jaya mengklaim presentase kejahatan konvensional pada pekan pertama Ramadan mengalami penurunan dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Tingkat penurunannya diklaim sebesar 3,5 persen.

Meskipun diklaim mengalami penurunan, masyarakat tentu harus tetap waspada dengan berbagai tindak kejahatan yang dapat terjadi di bulan Ramadan tahun ini. Terlebih menjelang hari raya, momen turunnya Tunjangan Hari Raya (THR), tingginya perputaran uang, serta banyak orang mudik ke kampung halaman, kerap dijadikan kesempatan oleh pelaku kejahatan untuk menjalankan aksinya.

Infografik 5 kejahatan marak di bulan Ramadan. Infografik: Amin H. Al Bakki/Kriminologi.id

Berikut Kriminologi.id merangkum 5 jenis kejahatan yang patut diwaspadai selama bulan suci Ramadan.

1. Pencurian Dengan Kekerasan

Pencurian dengan kekerasan alias curas menjadi bentuk kejahatan yang diakui mendominasi peningkatan aksi kejahatan saat bulan Ramadan tiba. Kapolres Metro Bekasi Komisaris Besar Candra Sukma Kumara mengungkapkan bahwa yang menjadi sasaran pelaku biasanya adalah warga yang membawa barang berharga atau nasabah bank.

Meningkatnya kasus curas ini disadari sebagai efek dari turunnya uang THR karyawan. Momen banyaknya nasabah bank yang baru mencairkan dan membawa uang THR dijadikan kesempatan oleh pelaku curas.

Sebagai langkah pencegahan, masyarakat bisa meminta pendampingan dari kepolisian ketika harus membawa uang dalam jumlah besar. Candra Sukma mengatakan jasa pengawalan dari kepolisian ini diberikan gratis kepada setiap nasabah bank yang khawatir menjadi korban curas.

2. Hipnotis

Kejahatan dengan modus hipnotis semakin marak beberapa tahun terakhir. Kejahatan dengan modus ini perlu diwaspadai karena kejahatan ini umumnya tidak menarik perhatian dan biasanya korban tidak sadar ketika barang berharganya dibawa kabur oleh pelaku.

Berkurangnya konsentrasi korban saat berpuasa menjadi salah satu celah para pelaku menjalankan aksinya. Oleh karena itu, saat anda hendak berbelanja atau mengambil uang di bank atau mesin ATM, usahakan selalu ada rekan atau kerabat yang menemani Anda.

Selain untuk mencegah Anda melamun saat beraktivitas, adanya rekan atau kerabat akan mengurangi kemungkinan pelaku menjadikan Anda sebagai sasaran kejahatannya. Bentuk pencegahan lainnya adalah dengan tidak berpenampilan mencolok, hindari menggunakan perhiasan yang berlebihan saat melakukan aktivitas.

3. Pembiusan

Kejahatan dengan modus pembiusan kerap terjadi saat masa-masa mudik Lebaran. Biasanya modus ini dilakukan dengan menawarkan korban makanan atau minuman, yang sudah dimasukan cairan bius sebelumnya. Pelaku kemudian akan mengambil dan membawa kabur barang berharga korban ketika korban sedang tak sadarkan diri karena pengaruh bius.

Oleh karenanya, jangan mudah menerima makanan atau minuman dari orang yang belum dikenal sebelumnya. Akan lebih aman jika Anda membawa makanan dan minuman sendiri ketika melakukan perjalanan mudik.

4. Pencurian Rumah Kosong 

Menyambut hari raya Lebaran, banyak orang meninggalkan rumahnya dalam keadaan kosong untuk pulang ke kampung halaman. Hal ini dilihat sebagai kesempatan besar bagi para pelaku pencurian yang menargetkan rumah kosong.

Pada pengungkapan aksi pencurian rumah kosong pada awal Mei 2018, terungkap bahwa pelaku kerap melancarkan aksinya pada waktu tertentu, seperti pada hari-hari menjelang bulan Ramadan dan Lebaran. Sebab, pada waktu itu, kondisi sekitar dinilai cukup aman karena sepi dari aktivitas warga.

Guna meminimalisir terjadinya perampokan, pastikan setiap sudut rumah Anda sudah tertutup rapat dan terkunci. Sebagai tambahan pengamanan, bisa gunakan kunci pengaman ganda seperti gembok rantai atau gembok yang memiliki kode.

Selain itu, lapor ke RT, tetangga dan petugas keamanan sekitar rumah Anda kalau rumah Anda dalam keadaan kosong selama mudik Lebaran. Dengan demikian, rumah Anda selalu dalam pengawasan mereka.

5. Uang Palsu

Jenis kejahatan lainnya yang perlu diwaspadai saat bulan Ramadan adalah peredaran uang palsu. Tingginya tingkat pertukaran uang selama bulan Ramadan menjadi celah bagi pelaku untuk menyusupkan uang palsu di antara uang asli yang beredar di masyarakat.

Modus yang kerap digunakan oleh pelaku adalah dengan berpura-pura menjadi pembeli di warung-warung kecil. Oleh karena itu, para pedagang harus ekstra hati-hati dengan memeriksa uang yang diterima dari setiap transaksi. Tidak hanya pedagang, pemeriksaan juga harus dilakukan oleh pembeli setiap menerima uang kembalian.

Secara mudah sebenarnya masyarakat bisa memeriksa keaslian uang dengan cara 3D: dilihat, diraba, dan diterawang. Uang yang asli memiliki kualitas cetak yang sangat baik, jika diraba terasa kasar, dan disertai dengan tanda air serta benang pengaman.

Penulis: Aditia Tjandra
Redaktur: Achmad Sakirin
KOMENTAR
500/500