Suasana di Rumah Dinas Mensos Idrus Marham. Foto: Marselinus Gual/Kriminologi.id

5 Rumah Dinas Pejabat yang Menjadi Tempat OTT KPK

Estimasi Baca:
Sabtu, 14 Jul 2018 06:00:24 WIB

Kriminologi.id - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) seakan tak pernah lelah melakukan operasi tangkap tangan (OTT) terhadap para pejabat negara maupun pejabat partai politik yang diduga melakukan ataupun terlibat korupsi. Tak pandang di mana lokasinya, mereka akan menciduk dan menggiring para terduga pelaku korupsi tersebut. Tempat OTT bisa saja di kantor, tempat publik, rumah pribadi, bahkan di rest area dan rumah dinas.

Menurut penulusuran kriminologi.id terdapat 5 rumah dinas pejabat yang dijadikan tempat OTT KPK. Walaupun sebenarnya ada lebih dari 5 rumah dinas yang pernah dijadikan tempat OTT KPK, namun kelima rumah yang dipilih memiliki kebaruan maupun hal spesial yang membedakan dengan yang lainnya.

1. Idrus Marham

Rumah dinas Menteri Sosial Idrus Marham menjadi tempat OTT KPK pada Jumat, 13 Juli 2018. Saat itu petugas KPK menangkap Wakil Ketua Komisi VII DPR dari Fraksi Partai Golkar Eni M Saragih dan delapan orang lainnya. Selain mengamankan orang-orang tersebut, diduga KPK juga mengamankan uang senilai Rp 500 juta sebagai barang bukti.

Saat dilakukan penangkapan, Idrus Marham ada di kediamannya. Menurut keterangan KPK, keberadaan Eni M Saragih dan kedelapan orang lainnya di rumah dinas Idrus Marham tak lain untuk menghadiri acara perayaan ulang tahun anak bungsu Idrus Marham yang bernama Raisa Ismani.

2. Eddy Rumpoko

Eddy Rumpoko diciduk di rumah dinasnya oleh KPK dalam OTT yang digelar pada 16 September 2017. Eddy yang merupakan Wali Kota Batu itu ditangkap bersamaan dengan dua orang lainnya. Selain menangkap tiga orang, KPK juga mengamankan uang senilai Rp 200 juta dalam pecahan Rp 50 ribu. Uang yang diserahkan oleh Filipus kepada Eddy dibungkus kertas koran dan dimasukkan ke dalam paper bag.

Saat ditangkap di rumah dinas, mereka tengah melakukan transaksi pemberian uang dari seorang pengusaha bernama Filipus Djap. Sebelumnya, Filipus bertemu dengan Kepala Bagian Unit Layanan Pengadaan Pemkot Kota Batu, Edi Setyawan di restoran sebuah hotel di daerah Batu, Malang. Setelah pertemuan tersebut, Filipus berangkat dengan ditemani sopirnya menuju rumah dinas Eddy dengan tujuan untuk menyerahkan sejumlah uang.

3. Imas Aryumningsih

KPK menciduk Imas Aryumningsih di rumah dinasnya yang terletak di Jalan Taman Sari No. 1 Kelurahan Pasirkareumbi, Kecamatan Subang, Kabupaten Subang pada Selasa, 13 Februari 2018. Imas ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus suap perizinan penggunaan lahan dan pembangunan pabrik di Subang.

Penangkapan Imas termasuk rentetan OTT yang digelar KPK di beberapa tempat di Subang seperti di rest area tol Cileunyi-Bandung, kediaman Imas, dan rumah Sutiana yang menjabat sebagai Kasi Pelayanan Perizinan Pemkab Subang. Dalam rentetan OTT tersebut KPK mengamankan uang sekitar Rp 337 juta serta dokumen penyerahan uang tersebut

4. Irman Gusman

Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD), Irman Gusman diciduk KPK di rumah dinasnya yang terletak di Jalan Denpasar, Kuningan Jakarta pada 16 September 2016. Pada OTT yang digelar KPK tersebut, Irman diduga telah menerima suap senilai Rp 100 juta terkait masalah kuota gula impor kepada CV SB pada 2016 di provinsi Sumatera Barat.

Jika dilihat, barang bukti yang diamankan KPK senilai Rp 100 juta bukanlah angka yang besar untuk posisi pejabat tinggi negara. Irman Gusman diduga menawarkan pengaruhnya untuk memperlancar urusan para pengusaha.

5. Akil Mochtar

Penangkapan Akil Mochtar yang saat itu menjabat sebagai Ketua Mahkamah Konstitusi memang mengejutkan. Akil Mochtar ditangkap dalam OTT yang digelar KPK pada 2 Oktober 2013 di rumah dinasnya yang terletak di Kompleks Widya Chandra III Nomor 7, Jakarta Selatan. Akil diciduk KPK bersama dengan Chaerun Nisa dan Cornellis yang saat itu sedang mengunjungi rumah Akil untuk menyerahkan sejumlah uang. KPK turut mengamankan uang sekitar Rp 3 miliar yang terdiri dari 284.050 dolar Singapura dan US$ 22 ribu.

Penyelidikan lanjutan KPK mengungkap bahwa Akil ternyata juga menyimpan uang senilai Rp 2,7 miliar di dalam tembok-tembok ruang karaoke yang ada di rumah dinasnya. Teknik penyimpanan ini sungguh mengagetkan sebab teknik tersebut biasa muncul dalam film layar lebar. Bahkan Machfud MD sempat berkomentar bahwa teknik penyimpanan yang dilakukan Akil mirip dengan yang dilakukan Presiden Tunisia, Ben Ali yang menyimpan uangnya di dalam tembok ruang perpustakaannya.

Infografik Rumah Dinas Pejabat tempat OTT KPK. Infografik: Dwiangga Perwira/Kriminologi.id

KOMENTAR
500/500