Ilustrasi pelaku kejahatan, Foto: Pixabay.com

8 Cara Polisi Bongkar Kejahatan

Estimasi Baca:
Jumat, 20 Okt 2017 10:00:05 WIB

Kriminologi.id - Kejahatan adalah fenomena sosial yang tidak dapat dipisahkan dari masyarakat. Berdasarkan data yang dihimpun oleh Badan Pusat Statistik (BPS), terdapat 352,936 kasus kejahatan yang terjadi di Indonesia selama 2015. Cukup banyak kasus yang berhasil diungkapkan oleh kepolisian.

Kasus yang paling menggemparkan adalah temuan mayat pasangan suami istri yang terbungkus selimut di bawah  jembatan Sungai Klawing, Purbalingga, Jawa Tengah pada 11 September 2017. Acungan jempol untuk polisi yang berhasil mengungkap siapa pelaku pembunuhan tersebut. Padahal jarak antara tempat tinggal korban dan lokasi pembungan mayat sekitar 360 kilometer. 

Baca: Polisi Bekuk Pembunuh Pasutri Benhil Ketika Asyik Karaoke

Terdapat beberapa poin penting yang harus diperhatikan dalam melakukan pencarian terhadap pelaku kejahatan, seperti yang dilansir oleh listverse.com berikut ini;

  • Deoxyribonucleic acid (DNA)

Deoxyribonucleic acid atau dalam bahasa Indonesia disebut dengan asam deoksiribonukleat adalah salah satu jenis asam nukleat. Asam nukleat merupakan senyawa-senyawa polimer yang menyimpan semua informasi genetika. Pada pengungkapan suatu kejahatan, DNA dapat digunakan untuk mengidentifikasi pelaku. Informasi genetika seorang individu pasti berbeda dengan individu lainnya. Inggris memiliki database DNA orang-orang yang pernah melakukan kejahatan. Sehingga ketika terjadi kejahatan dengan modus dan wilayah yang sama maka polisi bisa langsung mencocokkan DNA yang ditemukan dengan database yang ada. Kejahatan yang terjadi bisa saja dilakukan oleh residivis.

  • Jarak Jangkauan (Proximity)

Ketika kejahatan terjadi di suatu tempat, polisi akan menetapkan perimeter wilayah. Ini dilakukan untuk mencari hubungan-hubungan yang berkaitan dengan korban. Misalnya di dalam perimeter wilayah tersebut siapa saja yang terlibat dan melakukan kontak dengan korban. Apa saja yang dilakukan korban dalam rentang waktu sebelum kematiannya. Polisi dapat memperluas atau memperkecil perimeter wilayah yang diinvestigasi tergantung pada temuan.

  • Hubungan Kedekatan (Relationship)

Biasanya polisi juga akan memeriksa keluarga dan teman terdekat korban. Pada jenis kejahatan tertentu, pelakunya adalah orang yang dikenal korban. Salah satunya adalah kejahatan pembunuhan. Jarang sekali pelaku kejahatan memilih korban yang benar-benar acak.  

Baca: Pembunuhan Dini Oktaviani, Polisi: Pelakunya Orang Dekat Korban

  • Tipe Kejahatan (Type of Crime)

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, terdapat beberapa jenis kejahatan yang proses penyelidikannya berbeda. Pada kasus kejahatan pembunuhan, kekerasan seksual, pencabulan, dan pemerkosaan maka polisi akan memulai penyelidikan dengan orang-orang dekat korban. Sedangkan untuk kasus perampokan dan pencurian kendaraan bermotor polisi akan mencari ciri khusus dalam modusnya.

  • Barang Bukti (Evidence)

Bukti tentu saja menjadi penting dalam prose penyelidikan. Bukti bisa mengarahkan polisi pada pelaku kejahatan. Barang bukti ini bisa berupa barang apa saja. Salah satu bukti yang sangat memudahkan bagi polisi dalam mengungkap kejahatan adalah bukti rekaman Closed Circuit Television (CCTV). Rekaman CCTV dengan kualitas yang baik bisa menampilkan gambar yang jelas dari pelaku kejahatan.

  • Alat (Tools)

Alat yang digunakan dalam melakukan kejahatan menjadi penting dalam penyelidikan kejahatan. Alat yang digunakan dalam kejahatan dapat menunjukkan siapa pemiliknya, dan siapa yang menggunakannya. Pelaku kejahatan seringkali meninggalkan jejak DNA di alat yang digunakan melakukan kejahatan. 

Baca: Polisi Telusuri Pistol Walther Dokter Koboi Anwari???????

  • Waktu (Timing)

Pada kasus pembunuhan, waktu kematian menjadi penting untuk diketahui. Sebab mayat bisa saja ditemukan beberapa jam atau bahkan beberapa hari setelahnya. Waktu ini penting untuk mengidentifikasi informasi apa saja yang penting dan terkait dengan peristiwa kejahatan tersebut.

  • Alibi

Polisi akan mencurigai beberapa orang yang dianggap memiliki hubungan yang sangat kuat dengan peristiwa kejahatan. Selanjutnya, polisi akan menanyakan tentang alibi orang-orang yang dicurigai. Alibi ini meliputi apa yang dilakukan saat terjadinya kejahatan, sedang berada dimana, dan apakah ada orang yang bisa membuktikan kebenaran tentang keberadaannya itu. Polisi akan mengecek kebenaran dan kecocokan alibi tersebut. Inilah yang akan menunjukkan adanya kesesuaian lini waktu antara korban dan pelaku di satu tempat tertentu sebelum terjadinya kejahatan.

Penulis: Orisa Shinta Haryani
Redaktur: Nula
KOMENTAR
500/500