Pelaku perampokan minimarket di Depok yang terekam CCTV. Foto: Ist/Kriminologi.id

Alasan Minimarket Jadi Sasaran Empuk Perampokan

Estimasi Baca:
Minggu, 19 Nov 2017 11:00:37 WIB

Kriminologi.id - Perampok minimarket di Pondok Cabe, Tangerang Selatan pada 15 November 2017 berhasil diringkus oleh kepolisian. Saat melakukan penyergapan, polisi harus menggunakan senjata api untuk melumpuhkan pelaku. Seorang pelaku tewas tertembus peluru, dan tiga orang lainnya telah ditangkap polisi. Kerugian akibat perampokan tersebut diperkirakan mencapai Rp 50 juta.

Aksi perampokan di minimarket bukan terjadi kali ini saja. Berdasarkan data yang dihimpun Kriminologi, ada 4 peristiwa  lain yang terjadi di wilayah hukum Polda Metro Jaya dalam 3 bulan terakhir. Ini menggambarkan bahwa minimarket memang menjadi target empuk para perampok.

Baca: Perampok Kuras 4 Minimarket dalam Tiga Bulan

Tingkat keamanan yang minim pada minimarket menjadi penyebab utama terjadinya perampokan. Konsep Crime Prevention Through Environment Design (CPTED) yang dipaparkan oleh Ronald V. Clarke dalam naskahnya yang berjudul Theoritical Background to Crime Prevention Through Environmental Design (CPTED) and Situational Prevention menyebutkan keamanan fisik adalah fokus utama dalam pencegahan kejahatan. 

Mengacu pada pernyataan Clarke, kejahatan dapat terjadi karena dorongan tiga faktor, yakni pelaku (offender), tempat (place), dan target atau korban (victim). Dalam kasus perampokan minimarket, tempat dapat dipahami sebagai kesempatan yang muncul karena dukungan keamanan terhadap suatu tempat tertentu memang minim.

Infografik Alasan Minimarket Jadi Sasaran Empuk Perampokan. Infografik: Amin H. Al Bakki/Kriminologi.id

Mengacu pada konsep yang dipaparkan Clarke dan hasil observasi Kriminologi di tempat kejadian, inilah celah-celah yang menyebabkan minimarket menjadi sasaran empuk perampokan;

1. Jumlah transaksi dan uang tunai yang besar

Perkembangan minimarket yang sangat pesat mengindikasikan bahwa bisnis ini memiliki keuntungan yang tidak sedikit. Meskipun penjualan terbatas pada barang-barang kebutuhan sehari-hari, hasil transaksi di minimarket tidak dapat dipandang sebelah mata. Ditambah lagi, hasil transaksi berupa uang tunai tersebut biasanya akan disimpan terlebih dulu di dalam brankas yang ada di dalam minimarket.

Uang tunai menjadi sasaran utama dalam setiap kejahatan perampokan. Uang tunai lebih mudah untuk digunakan dan dibelanjakan. Jika dibandingkan dengan merampok bank, maka merampok minimarket lebih mudah sebab keamanannya tidak seketat bank. Padahal jumlah uang tunai yang tersedia cukup besar.

2. Barang yang mudah dijual

Beberapa perampokan minimarket terjadi ketika telah tutup sehingga tidak tersedia uang tunai di dalam bangunan tersebut. Namun yang perlu diingat, barang-barang yang dijual minimarket adalah barang kebutuhan sehari-hari sehingga mudah untuk diuangkan. Seperti modus pelaku perampokan di Pondok Cabe yang menyasar barang-barang dan kemudian menjualnya kembali ke masyarakat dengan murah ataupun separuh harga.

Baca: Polisi: Perampok Minimarket Jual Hasil Kejahatan Setengah Harga

3. Jam operasional 24 jam

Pada umumnya, perampokan terjadi di malam hari. Situasi malam hari yang cenderung sepi merupakan peluang bagi perampok untuk beraksi dengan lebih mudah karena risiko terdeteksi dan tertangkap tentu lebih rendah. Meskipun perampok juga menyasar minimarket yang sudah tutup, namun minimarket yang beroperasi 24 jam memiliki risiko yang lebih besar. Pada minimarket 24 jam, uang tunai masih ada di dalam brankas dan belum disetorkan kepada perusahaan.

Memang, merampok minimarket yang masih buka memerlukan kemampuan dan keberanian yang lebih besar. Sebab, perampokan minimarket yang buka 24 jam tentu saja masih ada pegawai yang bekerja dan tidak menutup kemungkinan masih ada orang yang berbelanja. Pilihan waktu dan tempat biasanya dihitung secara cermat oleh perampok.

4. CCTV tidak maksimal

Setiap minimarket memang memiliki CCTV yang dipasang di dalam toko. Namun CCTV ini dipasang di lokasi-lokasi yang dapat dilihat oleh konsumen dan layar monitor CCTV tersebut juga terletak di dekat kasir. Memang tujuan dari pemasangan CCTV di minimarket adalah untuk mencegah terjadinya pengutilan atau pencurian barang.

Letak CCTV yang terpampang jelas dan pusat monitor justru ada di dekat kasir, justru memudahkan perampok. Dalam beberapa kasus, pelaku telah menyadari hal tersebut sehingga mereka akan mengambil hasil rekaman CCTV yang ada di minimarket tersebut. Caranya tentu saja dengan memaksa pegawai memberikannya atau mereka akan mengambilnya sendiri. Ini menyulitkan kepolisian karena sulit mengidentifikasi pelaku perampokan tersebut lantaran rekaman CCTV telah raib dibawa pelaku.

5. Tidak ada panic button

Panic button merupakan salah satu dukungan pengamanan yang sudah diterapkan di berbagai lokasi yang dianggap rentan terjadi perampokan, seperti bank. Meskipun memiliki fungsi yang sangat baik, panic button belum banyak diterapkan di minimarket-minimarket di Indonesia. Upaya pemasangan panic button sebagai sarana dukungan pengamanan baru diinisiasi oleh Alfamart,. Itupun belum di semua gerai.

Baca: Sebelum Beraksi, Perampokan Minimarket Ambil Perangkat CCTV

6. Tidak ada petugas penjagaan

Keberadaan petugas pengamanan atau satpam merupakan hal yang langka di minimarket. Pemilik minimarket umumnya tidak menempatkan petugas pengamanan, melainkan membebankan tugas pengamanan pada pelayannya. Masing-masing pelayan merangkap sebagai pelayan, petugas keamanan, hingga petugas kebersihan. Di samping itu, mereka juga tidak terlatih untuk menghadapi kemungkinan terjadi aksi kejahatan. Sehingga, perampok akan dengan mudah menekan atau melakukan ancaman.

7. Minim koordinasi dengan aparat kepolisian

Absennya keberadaan petugas penjagaan di minimarket sayangnya juga tidak didukung dengan koordinasi yang baik dengan pihak kepolisian. Di beberapa kasus, aksi perampokan bahkan terjadi pada minimarket yang hanya berjarak kurang dari 1 kilometer dari pos polisi. Dengan jumlah transaksi yang tidak sedikit, pengawasan oleh pihak kepolisian seharusnya perlu dilakukan meskipun secara tidak langsung. Sebab, pengawasan yang demikian tentu hanya akan semakin meyakinkan pelaku perampokan untuk melancarkan aksinya.

8. Terletak di sisi jalan besar

Umumnya, minimarket terletak di sisi jalan besar. Pemilihan posisi ini dapat dipahami sebagai upaya memudahkan konsumen, terlebih jika membawa kendaraan pribadi. Tapi, posisi ini berisiko besar. Letak minimarket di sisi jalan akan memudahkan pelaku perampokan dalam melancarkan aksinya karena akses mereka untuk melarikan diri setelah merampok menjadi sangat mudah.

Baca: Terjebak Perampokan Minimarket: Ini Tips Agar Selamat

9. Pintu yang terstandardisasi

Pintu merupakan pengamanan utama yang digunakan oleh minimarket. Pintu berlapis, yakni pintu kaca di bagian dalam dan pintu besi di bagian luar, merupakan standard pengamanan yang umumnya diterapkan minimarket. Pintu yang sudah terstandardisasi ini merupakan peluang bagi perampok karena mereka dapat dengan mudah “membaca” bagian-bagian mana saja yang perlu mereka rusak. Dengan pintu yang selalu seragam, mereka dapat mempelajari akses masuk tanpa harus datang ke miminarket yang menjadi tujuan mereka.

KOMENTAR
500/500