Alasan Polisi Periksa Kejiwaan Seorang Pelaku Kejahatan

Estimasi Baca :

Ilustrasi tes kejiwaan. Ilustrasi: Dwiangga Perwira/Kriminologi.id - Kriminologi.id
Ilustrasi tes kejiwaan. Ilustrasi: Dwiangga Perwira/Kriminologi.id

Kriminologi.id - Penembakan dr. Letty Sultri di Klinik Az-zahra Medical Center, Cawang, Jakarta Timur pada 9 November 2017 menggemparkan masyarakat. Pasalnya pelaku penembakan tersebut adalah suaminya sendiri, dr. Ryan Helmi. Setelah melakukan penembakan itu, dr. Helmi mendatangi Polda Metro Jaya untuk menyerahkan diri.

Namun selama penyidikan dilakukan, ternyata dr. Helmi dianggap tidak kooperatif karena keterangan yang diberikan berubah-ubah. Sebab itu penyidik akan membawa dr. Helmi ke RS Polri untuk melakukan pemeriksaan kondisi kejiwaannya.

Tidak hanya Helmi yang diperiksa kondisi kejiwaannya, Novi Wanti yang menjadi tersangka kasus penyiksaan anak berujung maut juga akan diperiksa kondisi kejiwaannya. Novi menyiksa anaknya sendiri, Grenial Wijaya yang berusia 5 tahun hingga tewas.

Novi sendiri tega mengikat, memukul, menampar, dan menjerat leher anaknya dengan tali rafia. Tidak hanya itu, dia juga menendang dan menyemprotkan secara berulang-ulang obat anti nyamuk ke wajah Grenial. Penyiksaan ini disebabkan perkara yang sepele, Grenial sering mengompol di tempat tidur dan tidak menggubris perintah ibunya.

Baca: Ibu Pembunuh Anak Jalani Tes Kejiwaan di RS Polri

Pada dua kasus tersebut, semua pelakunya akan menjalani pemeriksaan kejiwaan untuk memastikan kondisi kejiwaannya. Sebenarnya pemeriksaan kondisi kejiwaan ini dilakukan dengan dasar pasal 71 ayat 1 Undang-Undang nomr 18 tahun 2014 tentang Kesehatan Jiwa yang menyatakan;

Untuk kepentingan penegakan hukum, seseorang diduga Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) yang melakukan tindak pidana harus mendapatkan pemeriksaan Kesehatan Jiwa

Infografik Alasan Polisi Kerap Periksa Kejiwaan Pelaku Kejahatan. Infografik: Amin H. Al Bakki/Kriminologi.id

Sehingga mengacu pada aturan ini, jika muncul dugaan bahwa pelaku kejahatan memiliki gangguan jiwa maka penyidik akan mengajukan dilakukannya pemeriksaan kejiwaan. Berdasarkan penelusuran Kriminologi, ini adalah beberapa alasan yang memunculkan dugaan gangguan kejiwaan dan akhirnya dilakukan pemeriksaan;

1.  Inkonsistensi jawaban dan tidak kooperatif

Jika selama masa pemeriksaan dan penyidikan ternyata pelaku memberikan jawaban yang berubah-ubah, tidak konsisten dan tidak kooperatif  biasanya polisi akan melakukan pemeriksaan kejiwaan. Salah satu contoh perilaku tidak kooperatif adalah tidak menjawab dan tetap bungkam terhadap semua pertanyaan yang diajukan penyidik.

Salah satu contohnya pada kasus Saracen, salah satu tersangka yaitu Jasriadi akan menjalani pemeriksaan kejiwaan. Penyebabnya karena keterangan yang diberikan berubah-ubah. Perlunya dilakukan pemeriksaan kejiwaan untuk mengetahui apakah tindakannya itu terjadi karena memang masalah psikologis atau justru menjadi dalih untuk mengelabui penyidik.

2. Pembunuhan dan kekerasan dalam keluarga

Kasus-kasus pembunuhan dan kekerasan di dalam keluarga biasanya pelaku akan menjalani pemeriksaan kejiwaan. Misalnya seperti kasus suami membunuh istri, ayah membunuh anaknya, ibu menyiksa anaknya, dan kasus-kasus lainnya yang serupa.

Sebenarnya alasan dilakukannya pemeriksaan kejiwaan lebih kepada anggapan dasar kenapa pelaku bisa begitu tega melakukan kekerasan dan bahkan hingga berujung kematian terhadap anggota keluarganya sendiri.

Contohnya tidak hanya Novi, Faisal Amir yang membunuh anak kandungnya sendiri yang masih berumur tiga bulan di Apartemen Gading Nias juga menjalani pemeriksaan kejiwaan.

Selain itu Andi Erni Astuti, pelaku pembunuhan Ketua DPRD Kolaka Utara yang tak lain adalah suaminya sendiri juga menjalani pemeriksaan kejiwaan.

Baca: Mendadak Gila ala Helmi Usai Menembak Istrinya Sendiri

3. Pelaku bugil

Pelaku yang tidak mengenakan sehelai pakaian pun atau bugil saat melakukan kejahatan atau pelanggaran selalu akan menjalani pemeriksaan kejiwaan. Pada dasarnya, setiap orang akan malu jika berada di luar rumah tanpa mengenakan sehelai pakaian pun.

Oleh karena itu, jika ada pelaku kejahatan yang bugil dalam melakukan kejahatannya diduga kuat mengalami gangguan kejiwaan.

Jika masih ingat sebuah video viral tentang wanita bugil yang menabrak dua sepeda motor di Mangga Dua, pelakunya telah diamankan oleh polisi dan akan menjalani pemeriksaan kejiwaan.

Lihat: Video: Wanita Bugil Kabur Usai Tabrak Motor di Mangga Dua

4. Pencabulan anak

Pelaku pencabulan anak atau sodomi juga biasanya akan menjalani pemeriksaan kejiwaan. Ini dilakukan karena anggapan bahwa ketertarikan secara seksual terhadap anak-anak adalah bentuk penyimpangan seksual. Oleh karena itu, untuk memastikannya maka pemeriksaan kejiwaan perlu dilakukan.

Komarudin, pelaku pencabulan 9 anak di daerah Tangerang juga menjalani pemeriksaan kejiwaan. Jumlah korban pencabulan Komarudin diduga akan terus bertambah.

5. Kasus-kasus yang tidak umum

Pada kasus-kasus yang tidak umum atau tidak lazim, pelakunya akan menjalani pemeriksaan kejiwaan. Misalnya saja kasus pencurian mayat yang dilakukan oleh Resi Rokis Suhana di Cilacap. Resi mengaku melakukan pencurian itu untuk melakukan ritual-ritual tertentu agar keinginannya tercapai.

Kasus lain, Sentot Setiadi yang mencuri Bus Transjakarta dan membawanya kabur ke Pekalongan juga menjalani pemeriksaan kejiwaan.

Kasus pencurian Bus Transjakarta ini dinilai tidak lazim karena memang bus ini cukup mencolok dan pasti akan segera ditemukan oleh polisi. Selain itu, alasan Sentot mencuri bus ini adalah untuk menjemput anaknya dari sekolah.

Baca Selengkapnya

Home Lapor & Waspada Peta Kejahatan Alasan Polisi Periksa Kejiwaan Seorang Pelaku Kejahatan

KOMENTAR

Tulis Komentar Kamu

Silahkan masuk terlebih dahulu
Silahkan tulis komentar kamu