Ilustrasi bentrok opang dan ojol. Ilustrasi: Dwiangga Perwira/Kriminologi.id

Bentrokan Ojol dan Opang di Tiga Negara Asia Tenggara

Estimasi Baca:
Rabu, 1 Ags 2018 09:30:43 WIB

Kriminologi.id - Keributan hingga bentrokan fisik antara sopir ojek online dan ojek pangkalan bukan hal asing di Asia Tenggara. Setidaknya tiga negara di Asia Tenggara pernah mengalami gejolak antara kedua sopir itu. 

Layanan penyedia transportasi ojek online di satu sisi mendorong terciptanya lahan kerja baru bagi masyarakat, namun keberadaan layanan ojek online kerap memunculkan ketegangan dengan pengemudi ojek pangkalan.

Berdasarkan penelusuran Kriminologi.id, konflik antara ojek online dengan ojek pangkalan maupun angkutan umum pernah terjadi di 3 negara Asia Tenggara.

1. Indonesia

Bentrokan antara ojek online dengan ojek pangkalan di Indonesia bukanlah fenomena baru. Ada beberapa daerah di Jakarta yang melarang ojek online untuk mengambil penumpang, inilah kemudian yang umumnya menjadi awal mula terjadinya konflik hingga berujung pada bentrokan.

Salah satunya adalah bentrokan yang terjadi di depan Balai Kota Solo pada 15 maret 2017.  Bentrokan terjadi antara segerombolan ojek online dengan para supir transportasi online yang sedang menggelar demonstrasi. Peristiwa ini mengakibatkan beberapa motor ojek online rusak diamuk massa. Bentrokan selesai setelah adanya kesepakatan untuk ojek online pergi dari tempat itu.

Selain itu, keributan yang nyaris berakhir bentrokan terjadi pada Jumat, 27 Juli 2018 di Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Kejadian tersebut dilatarbelakangi adanya pemukulan oleh ojek pangkalan terhadap pengemudi ojek online yang mengakibatkan seorang pengemudi ojek online terluka parah.

Selain itu,  beberapa motor juga rusak karena dibuang ke sungai. Terkait peristiwa tersebut, polisi telah menangkap 4 orang.

2. Vietnam

Sejak Desember 2016 ada sekitar 65 supir ojek online Grabbike terluka akibat bentrok  dengan ojek pangkalan Xe Om  di Vietnam. Seluruh bentrokan antara pengemudi ojek online dengan pengemudi ojek pangkalan terjadi di terminal bus yang tersebar di beberapa wilayah Vietnam

Bentrokan yang paling parah terjadi di salah satu terminal bus di kota Ho Chi Minh pada Juni 2017. Peristiwa ini menyebabkan seorang pengemudi Grabbike terluka di bagian dada.

Bentrokan antara pengemudi ojek online dengan pengemudi ojek pangkalan begitu susah dipisahkan hingga akhirnya kepolisian Vietnam mengeluarkan tembakan peringatan. Barulah kemudian bentrokan berhenti.

3. Thailand

Pada tahun 2017 terjadi konflik antara kelompok pengemudi ojek pangkalan bernama Motosai dengan pengemudi Grabbike. Dua orang kelompok Motosai mengeroyok seorang pengemudi hingga luka-luka. Konflik ini terjadi diduga karena perebutan penumpang antara kedua kelompok.

Kelompok pengemudi ojek pangkalan Motosai juga pernah melakukan demonstrasi di depan kantor Grabbike Thailand yang terletak di New Petchaburi pada 18 Mei 2018.

Mereka menuntut agara pihak penyedia layanan Grabbike mematuhi aturan tenyang transportasi umum di Thailand. Jika permintaan mereka tidak dituruti maka mereka mengancam akan membuat keributan dengan para pengemudi ojek online.

Hampir semua konflik yang terjadi antara pengemudi ojek pangkalan dengan pengemudi ojek online didasarkan pada aturan yang tidak jelas mengenai layanan tersebut. Legalitas penggunaan kendaraan pribadi sebagai angkutan umum juga menjadi masalah yang cukup rumit untuk diselesaikan oleh pihak penyedia layanan maupun oleh pihak pemerintah.

Satu sisi masyarakat merasa sangat terbantu dengan keberadaan sarana transportasi online ini, namun di sisi lain dengan tidak adanya aturan yang jelas justru memperuncing konflik antara kelompok pengemudi ojek pangkalan dengan pengemudi ojek online. (Farhan Dzakwan) AS

KOMENTAR
500/500