Ilustrasi Gula. Foto: Pixabay

Beredar di 56 Hotel, Begini Bahaya Gula Rafinasi

Estimasi Baca:
Jumat, 3 Nov 2017 15:04:23 WIB

Kriminologi.id - Badan Reserse Kriminal Mabes Polri menetapkan Direktur Utama PT Crown Pratama berinisial BB sebagai tersangka atas dugaan pelanggaran undang-undang perlindungan konsumen. Tersangka disangka mendistribusikan secara ilegal gula rafinasi yang hanya boleh digunakan untuk industri.

BB dijerat Pasal 62 tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen dengan ancaman hukuman 5 tahun penjara. Polisi menegarai PT Crown mengemas gula kristal rafinasi dalam bentuk sachet. Gula itu dijual ke beberapa hotel mewah dan kafe di Jakarta. Sementara gula rafinasi tersebut diperoleh dari dua distributor.

Kasatgas Pangan Mabes Polri berikan keterangan terkait gula rafinasi di Mapolda Jabar, Foto: Arief Putra/Kriminologi.id

Terkait peredaran gula rafinasi di sejumlah hotel, spesialis penyakit dalam Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Ari Fahrial Syam mengatakan mengonsumsi secara langsung gula rafinasi dapat menimbulkan efek negatif bagi kesehatan tubuh manusia, seperti terganggunya metabolisme tubuh.

Baca: Kasus Gula Rafinasi, Bareskrim Tersangkakan Dirut PT Crown Pratama

"Sebenarnya gula rafinasi tetap gula, hanya saja dia lebih murni. Karena lebih murni, maka indeks glikemik dalam gula tersebut kadarnya lebih tinggi sehingga bila dikonsumsi dapat meningkatkan gula darah seseorang," kata Ari kepada Kriminologi pada Kamis malam, 3 November 2017.

Menurut Ari, yang dimaksud dengan indeks glikemik ukuran untuk mengindikasikan seberapa cepat karbohidrat yang terdapat dalam makanan dapat diubah menjadi gula oleh tubuh manusia. Dengan meningkatnya gula darah dalam tubuh akan berdampak pada timbulnya beragam penyakit, di antaranya kolesterol tinggi dan risiko terjadinya kencing manis.

Infografik bahaya mengintai di balik gula rafinasi. Ilustrasi: Dwiangga Perwira/Kriminologi.id

Ari menjelaskan, kegemukan atau obesitas juga bisa terjadi karena dengan mengonsumsi gula rafinasi secara berlebihan, sama saja kita mengonsumsi karbohidrat. Jika kolesterol dalam tubuh manusi memiliki kadar yang tinggi, maka gula rafinasi akan mengonversikannya menjadi lemak.  

"Dampak dari konsumsi gula rafinasi lebih kepada penyakit metabolik atau penyakit noninfeksi. Memang tidak mengakibatkan kanker, tapi tetap saja berbahaya bagi tubuh," ujar Ari. Seseorang yang mengonsumsi gula rafinasi terutama dalam kemasan tidak bisa menakar seberapa besar jumlah gula yang harus dia konsumsi sesuai dengan kebutuhannya.

Baca: Jual Gula Rafinasi ke Hotel dan Kafe, Polisi Periksa Distributor

Sebabnya, Ari menambahkan, bila gula tersebut disuguhkan dalam bentuk kemasan, seseorang secara otomatis langsung mencampurkannya dengan jumlah setengah atau langsung satu bungkus ke dalam minuman kopi atau tehnya, tanpa ia sadari kalau gula ini bukan gula biasa. 

"Ini yang menjadi masalahnya. Kita enggak bisa mengontrol seberapa besar kadar karbohidrat dalam satu saschet gula rafinasi ini, karena gula ini tidak seperti gula biasa. Kalau di luar negeri, sudah jelas, setiap makanan harus ada labelling tentang berapa kandungan karbohidrat, serat, atau protein. Kalau kita kan belum ada," ujar Ari menjelaskan.

Ari menjelaskan, gula rafinasi disebut juga sebagai gula murni. Karena gula tersebut mengalami proses pemurnian dengan mengeluarkan komponen tertentu pada gula sehingga membuat gula tersebut terlihat lebih putih dan jernih. Dari segi rasa, Ari menjelaskan, gula rafinasi mampu mengeluarkan rasa yang lebih manis daripada gula biasa. 

Dengan adanya rasa manis yang terlalu berlebihan ini, menurut Ari, akan menjadi masalah bila kita mengonsumsinya untuk kebutuhan sehari-hari, seperti minum teh atau kopi. Sebab, indeks glikemik pada gula tersebut mampu meningkatkan gula darah dalam tubuh manusia.

Baca: Polisi: Gula Rafinasi Mengalir ke 56 Hotel di Jakarta

Ari menegaskan, sebenarnya gula rafinasi hanya diperbolehkan untuk digunakan oleh industri makanan dalam kapasitas yang besar, bukan untuk dikonsumsi langsung oleh manusia. Biasanya, gula rafinasi rafinasi digunakan untuk mendapatkan rasa manis yang lebih tinggi.

Ari mencontohkan dengan penggunaan gula rafinasi pada sirup. Ketika seseorang minum sirup, kata Ari, maka ia akan mendapati rasa manis yang berlebih, dan akhirnya rasa manis tersebut berubah menjadi pahit.

Adapun dalam penggerebekan gudang milik PT Crown Pratama polisi menyita 20 sak gula kristal rafinasi seberat 50 kilogram dan 82.500 sachet gula rafinasi siap dikonsumsi. Petugas kepolisian juga menemukan bungkus kosong kemasan sachet yang bertuliskan hotel dan kafe.

Sejak 2008, PT Crown hanya memproduksi gula rafinasi dalam kemasan 2 ton per bulan. Namun, mulai 2016 PT Crown menambahkan jumlah produksi 20 ton per bulan. Masing-masing kemasan berisi gula rafinasi seberat 6 hingga 8 gram. PT Crown diduga melanggar aturan menteri yang hanya mengizinkan gula rafinasi untuk industri. BC

Reporter: Yenny Hardiyanti
Penulis: Yenny Hardiyanti
Redaktur: Bobby Chandra
KOMENTAR
500/500