Bisnis Narkoba Kampung Ambon Tetap Eksis, Ini Biang Keroknya!

Estimasi Baca :

Penggerebekan narkoba di Kampung Ambon, Cengkareng, Jakarta Barat (24/01/2018). Foto:Ist/Kriminologi.id - Kriminologi.id
Penggerebekan narkoba di Kampung Ambon, Cengkareng, Jakarta Barat (24/01/2018). Foto:Ist/Kriminologi.id

Kriminologi.id - Stigma sebagai sarang narkoba begitu lekat dengan Kampung Ambon. Kawasan permukiman yang terletak di kawasan Cengkareng, Jakarta Barat ini berulangkali menjadi sasaran penggerebekan aparat kepolisian yang ingin membasmi bisnis narkoba di kawasan itu. 

Penggerebekan terkini terjadi pada Rabu 24 Januari 2018 lalu. Aparat gabungan Polda Metro Jaya, Polres Jakarta Barat dan Polsek Cengkareng menggerebek kampung itu pada pagi hari dan menemukan sebanyak 18 kilogram bahan pembuat sabu-sabu. Sebanyak 6 orang diamankan dalam penggerebekan itu termasuk seorang wanita hamil. 

Baca: Kampung Ambon Digerebek, Polisi Sita 18 Kg Bahan Pembuat Sabu-Sabu

Penggerebekan di Kampung Ambon bukan satu dua kali dilakukan. Perjalanan Kampung Ambon menjadi kampung narkoba tak ada yang tahu pasti, namun seperti yang dilansir dalam Buku I Si Gahtan Polres Jakarta Barat tahun 2013 diperkirakan narkoba mulai merambah Kampung Ambon pada tahun 1990.

Awalnya terdapat beberapa pemuda yang menggunakan ganja untuk konsumsi pribadi. Akan tetapi setelah krisis moneter tahun 1998, perkembangan dan peredaran narkoba di Kampung Ambon berubah. Tidak hanya untuk konsumsi pribadi, narkoba pun diperjual belikan.

Donald Pattiwael alias Gatet disebut-sebut sebagai orang yang pertama kali mengedarkan narkoba secara besar-besaran di Kampung Ambon. Tidak bekerja seorang diri, Gatet merekrut tetangganya untuk bekerja sebagai pegawainya dalam memasarkan narkoba di Kampung Ambon.

Perkembangan narkoba di Kampung Ambon mengalami perkembangan yang begitu pesat dari tahun ke tahun. Pada sekitar tahun 2008-an, Kampung Ambon menjelma menjadi suatu wilayah One Stop Entertainment yang artinya segala kesenangan duniawi dapat ditemui di kampung tersebut.

Polisi sempat mengendus gelagat ini dan akhirnya pada tahun 2009 dilakukan operasi besar-besaran yang menangkap salah satu bandar besar di Kampung Ambon bernama Michael Glenn Manuputty.

Baca: Transaksi Sabu Di Kampung Ambon Mencapai Rp 50 Juta Per Hari

Setelah itu berbagai upaya razia pun dilakukan, namun nyatanya tak bisa serta merta mematikan bisnis narkoba di kampung ini. Hampir seluruh masyarakatnya terlibat dan diuntungkan dari adanya bisnis narkoba di kampung tersebut.

Banyak orang dari Jakarta hingga luar Jakarta datang mengunjungi Kampung Ambon hanya untuk merasakan sensasi, kemudahan, dan layanan yang disediakan oleh Kampung Ambon.

Pada tahun 2013, pemerintah mulai menunjukkan keseriusannya untuk menangani Kampung Ambon. Setiap pekan polisi menggelar operasi penggerebekan hingga akhirnya para konsumen enggan datang. Pada tahun ini juga akhirnya ditangkap lagi satu bandar besar Kampung Ambon yang bernama Morison Yunus alias Ison.

Pada tahun 2014, seorang polisi menyadari bahwa tidak mungkin serta merta meniadakan bisnis narkoba di Kampung Ambon sementara seluruh warganya mendapatkan penghasilan dari bisnis tersebut.

Mulai dari tukang ojek, penjual sabu-sabu, penyedia tempat karaoke dan jasa, dan bahkan tetangga pun ikut mereguk keuntungan dari bisnis tersebut. Bahkan tetangga saja ikut merasakan keuntungan yang disebut ‘Uang Berisik’ dari pemilik tempat atau yang biasa disebut dengan lapak.

Akhirnya Kapolres Metro Jakarta Barat saat itu yaitu Kombes M. Fadil Imran tidak hanya fokus untuk menangkap bandar besar Kampung Ambon tetapi juga fokus dalam tindakan preventif dengan melibatkan seluruh instansi pemerintah yang terlibat.

Lihat: Foto Penggerebekan Sarang Narkoba Kampung Ambon

Badan Narkotika Nasional (BNN) dilibatkan untuk melakukan penyuluhan dan sosialisasi masyarakat di Kampung Ambon, Perusahaan Listrik Negara (PLN) dilibatkan untuk meningkatkan penerangan di daerah-daerah yang gelap dan dapat dijadikan tempat transaksi narkoba secara sembunyi-sembunyi.

Selain itu, program ini juga melibatkan Dinas Ketenagakerjaan untuk melakukan pelatihan kerja dan melibatkan pemerintah daerah untuk menyalurkan warga Kampung Ambon yang telah mengikuti pelatihan tersebut.

Upaya yang dilakukan dengan serius ini akhirnya membuahkan hasil. Pada akhir 2013 hingga 2014 nama Kampung Ambon pun mulai redup. Puncak keberhasilannya ditandai dengan adanya seremonial dan perayaan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia pada tahun 2013 dan perayaan tersebut adalah perayaan hari kemerdekaan yang pertama kali dilakukan di kampung tersebut.

Setelah hampir 3 tahun tak terdengar namanya, ternyata peredaran dan perdagangan narkoba di Kampung Ambon mulai menggeliat lagi pada tahun 2016. Tim Satuan Reserse Narkoba Polres Jakarta Barat melakukan penggerebekan Kampung Ambon pada 23 Januari 2016 lalu. Sayangnya penggerebekan ini tidak optimal. Ada indikasi informasi penggerebekan ini sudah bocor ke para bandar narkoba.

Kepolisian semakin lama semakin gerah dengan peredaran narkoba yang kembali marak di Kampung Ambon. Akhirnya pada 7 Agustus 2017, Satuan Reserse Narkoba Polres Jakarta Barat yang saat itu berada dibawah komando Kapolres Kombes Roycke Harrie Langie menggerebek Kampung Ambon.

Hasilnya ada 29 orang yang diamankan dengan barang bukti 11,8 gram sabu-sabu yang sudah dikemas dalam 22 paket, uang tunai Rp 6 juta, 4 buah sajam, satu senapan angin, dan berbagai alat hisap bong, plastik kosong, dan timbangan.

Infografik Cataran Merah Kampung Ambon Terkait Narkoba. Infografik: Dwiangga Perwira/Kriminologi.id

Baca: Warga Kampung Ambon Nggak Pernah Kapok Meski Digerebek

Penanggulangan terhadap masalah narkoba tidak bisa dilakukan hanya dengan tindakan-tindakan represif dan penangkapan terhadap para bandar narkoba. 

Kriminolog Universitas Indonesia, Kisnu Widagso menyebutkan bahwa penangkapan tidak efektif untuk mematikan bisnis narkoba di Kampung Ambon.

“Memang tidak bisa cuma tangkap-tangkap (bandar) saja. Harus disertai program pencegahan lainnya yang dilakukan secara berkesinambungan dengan melibatkan semua stakeholder yang ada.” ujarnya.

Kisnu Widagso adalah akademisi yang turut terlibat dalam program pencegahan kejahatan narkoba di Kampung Ambon pada tahun 2013-2014. Kisnu juga mengapresiasi tindakan penggerebekan Polres Metro Jakarta Barat yang dilakukan 24 Januari 2018 lalu.

“Polres Metro Jakbar baguslah kemaren penggerebekan dilakukan, setelah sekian lama tidak ada gaungnya. Paling tidak sudah ada kepedulian dari Polres sendiri,” kata Kisnu dalam wawancara dengan Kriminologi di Jakarta, Kamis, 25 Januari 2018.

Mengacu pernyataan Kisnu, dibutuhkan tindakan preventif lainnya untuk menghentikan masalah narkoba di Indonesia. United Nations Office on Drugs and Crime (UNODC) telah memformulasikan tiga strategi dalam penanggulangan narkoba.

Strategi ini tertulis dalam Political Declaration and Plan of Action On International Cooperation Towards an Integrated and Balanced Strategy to Counter The World Problem. Ketiga strategi ini adalah supply reduction, demand reduction, dan harm reduction.

Upaya represif dengan penangkapan merupakan salah satu bentuk kegiatan dari strategi supply reduction. Sedangkan program sosialisasi dan pencegahan merupakan bentuk strategi demand reduction. Terakhir harm reduction adalah strategi untuk meminimalisasi dampak buruk narkoba terhadap para pengguna narkoba.

Sayangnya, penanggulangan narkoba di Indonesia masih menemui banyak hambatan. Salah satunya masih kurangnya kerjasama antar stakeholder sehingga program yang dijalankan kurang komprehensif karena dijalankan sendiri-sendiri di masing-masing institusi.

Baca: Yeni, Srikandi Kampung Ambon Rela Dicaci Demi Perubahan

Selain itu, penanggulangan narkoba memang dibutuhkan komitmen jangka panjang untuk tetap menjaga wilayah tersbeut bebas dari narkoba.

Belajar dari Kampung Ambon, tindakan preventif dan preemtif dengan melibatkan berbagai pihak menjadi suatu kunci yang penting dalam melakukan pemberantasan bisnis narkoba.

Namun, program ini juga harus dilakukan dalam jangka waktu yang panjang dan selalu dilakukan kontrol terhadap kegiatan dan kondisi di wilayah tersebut. Sehingga wilayah tersebut dapat bebas narkoba dalam jangka waktu yang panjang pula. RZ

Baca Selengkapnya

Home Lapor & Waspada Peta Kejahatan Bisnis Narkoba Kampung Ambon Tetap Eksis, Ini Biang Keroknya!

KOMENTAR

Tulis Komentar Kamu

Silahkan tulis komentar kamu