Dok. Pintu masuk ke komplek apartemen Kalibata City. Foto: Rizky Aditya/Kriminologi.id

Deretan Kasus Prostitusi ABG di Apartemen Kalibata City

Estimasi Baca:
Selasa, 14 Ags 2018 13:30:17 WIB

Kriminologi.id - Polisi kembali melakukan penggerebekan di Tower Flamboyan lantai 21 apartemen Kalibata City, Kamis malam, 2 Agustus 2018. Sebanyak 32 orang diamankan terdiri dari 17 PSK dan 15 pelanggan. Lima di antaranya masih anak-anak.

Pengungkapan praktik prostitusi di apartemen Kalibata City sudah beberapa kali terjadi sepanjang 2018 ini. Kriminologi.id mencatat setidaknya ada lima pengungkapan kasus serupa. 

Berikut lima kasus prostitusi di apartemen Kalibata City yang berhasil terungkap oleh pihak kepolisian di tahun 2018.

5 Juli 2018

Polisi berhasil menangkap dua mucikari yang menjalankan bisnis prostitusi di apartemen Kalibata City pada Kamis, 5 Juli 2018 sekitar pukul 20.00 WIB. Kedua pelaku tersebut adalah Nico Richardo (20) dan MS alias Ipin (17). 

Penangkapan ini mengungkap bahwa keduanya mempekerjakan tiga anak dibawah umur sebagai PSK. Ketiga anak tersebut berinisial NI (17), IF (16) dan ASW (15), yang diketahui berasal dari Depok, Jawa Barat.

Dalam menjalankan bisnisnya, pelaku menggunakan Facebook sebagai media pemasarannya. Dengan akun bernama IPINSEPT yang dimiliki Ipin, bisnis prostitusi tersebut menjajakan ketiga perempuan dibawah umur. 

Dari tangan keduanya, polisi berhasil menyita barang bukti berupa uang sebanyak Rp 700 ribu dan alat kontrasepsi yang akan digunakan oleh pelanggannya. Dari keterangan polisi juga diketahui bahwa mereka memasang tarif kisaran Rp 500 ribu hingga Rp 700 ribu. Harga tergantung kesepakatan antara pelaku dan pelanggan.

6 Mei 2018

Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya berhasil mengungkap bisnis prostitusi onlie berkedok pijat tradisional di apartemen Kalibata City. Polisi menangkap H alias A (31), laki-laki, dan M alias R (35), perempuan. 

Keduanya menjajakan bisnisnya di Tower Akasia Dan Tower Herbras. Untuk menarik para pelanggan, mereka mencari konsumen dengan menggunakan aplikasi WeChat.

Dari konferensi pers yang dilakukan kepolisian pada Minggu, 6 Mei 2018, disebutkan bahwa bisnis prostitusi ini telah berjalan selama satu tahun. Diketahui juga bisnis prostitusi online tersebut mempekerjakan PSK sebanyak 10 orang. Mereka beroperasi dari pukul 09.00 pagi hingga pukul 03.00 subuh. 

Tarif menyewa jasa prostitusi tersebut diketahui sebesar Rp 500 ribu per 1,5 jam. Dari hasil tersebut, kedua pelaku mendapatkan bagian sebesar Rp 200 ribu dan sisanya diberikan kepada terapis.

13 Februari 2018

Pada 13 Februari 2018 lalu polisi berhasil mengungkap transaksi yang diduga terkait dengan prostitusi di apartemen Kalibata City. Polisi menahan empat pelaku yang merupakan mucikari dengan peran yang berbeda beda. Keempat pelaku tersebut adalah M (50) perempuan, IP alias R (27) perempuan, MP alias N (21) perempuan dan YP alias Y (19) laki-laki.

Wakil Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya, AKBP Ade Ary, menjelaskan bahwa keempat pelaku tersebut memiliki peran membagi kamar dan mencari PSK yang dibutuhkan. 

Para pelaku diketahui mendapatkan uang berkisar antara Rp 100-500 ribu per pelanggan. Uang tersebut didapat dari potongan uang yang diterima oleh perempuan pekerja seks. Dalam menjalankan bisnisnya, keempat pelaku diketahui dapat menyediakan kamar apartemen sebanyak 5 kamar.

Terungkap bahwa tarif yang berlaku untuk satu kali menyewa jasa PSK adalah Rp 500 ribu dan untuk sewa kamar Rp 350 ribu. Sedangkan untuk jasa PSK longtime dihargai Rp 2,5 Juta sudah termasuk sewa kamar dengan durasi selama 9 Jam. 

25 Januari 2018

Kamis, 25 Januari 2018, jajaran Polres Metro Jakarta Selatan berhasil membongkar praktik prostitusi dengan kedok jasa pijat di apartemen Kalibata City. Pelakunya yang diamankan adalah NHT (45), bersama dengan enam PSK yang berusia antara 16 hingga 17 tahun. Dalam menjalankan bisnisnya, pelaku menggunakan aplikasi WeChat, dengan akun bernama Daun Muda.

Diketahui bahwa tarif yang dipasang untuk sekali pijat dipatok dengan harga Rp 250 ribu. Dengan tarif tersebut, NHT mendapatkan bagian sebesar Rp 200 ribu, sementara anak buahnya hanya mendapatkan Rp 50 ribu. 

Untuk berhubungan seksual, pelaku mengaku tidak ada tarif pasti yang dipasang. Tarif tergantung kesepakatan harga dan waktu dengan anak buah NHT.

Para korban prostitusi yang tak lain adalah anak buah dari NHT semuanya berasal dari Bogor, Jawa Barat, dan memang sudah saling mengenal satu sama lain sebelumnya. Mereka diketahui putus sekolah dan memiliki latar belakang keluarga yang kurang mampu. 

23 Januari 2018

Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri berhasil menangkap NYM (31), seorang Sales Promotion Girl atau SPG yang memiliki sampingan sebagai PSK. Ia diamankan oleh kepolisian pada Selasa, 23 Januari 2018, tepatnya pada pukul 15.30 di apartemen Kalibata City, Tower Flamboyan, Kamar 06AU.

Dalam praktiknya, pelaku menggunakan media sosial Twitter dengan akun Mist Clara Maniz @onenk_Lemot untuk memasarkan jasanya. Dari pengakuannya, pelaku telah menjalani praktik prostitusi online ini selama 2 tahun.

Dalam melayani pelanggannya, NYM mengaku juga membuka layanan dengan bersedia melakukan BDSM dengan tarif yang lebih mahal. Tarif jasa prostitusi regular dipatok seharga Rp 700 ribu, sementara untuk layanan BDSM tarif yang ditawarkan adalah Rp 800 ribu.

Dari penangkapan NYM, polisi berhasil mengamankan barang bukti berupa lima buah kondom, satu buah gunting berwarna hitam, satu ATM BCA, dua buah celana dalam, lilin, korek api, telepon genggam, lakban hingga tali jemuran. (Rizqi Ghiffari)

Penulis: Aditia Tjandra
Redaktur: Achmad Sakirin
KOMENTAR
500/500