Ilustrasi Kekerasan Anak. Foto: Pixabay.com

Hari Anak Nasional, Kasus Kekerasan Anak Indonesia Tertinggi di Jatim

Estimasi Baca:
Senin, 23 Jul 2018 21:30:54 WIB

Kriminologi.id - Hari Anak Nasional 2018 tepat pada hari ini menjadi momen pengingat bagi Indonesia terkait pemenuhan hak-hak dan perlindungan anak Indonesia.

Berdasarkan data Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak atau Kemenpppa tahun 2018, kasus kekerasan anak paling tinggi di Jawa Timur. Sedangkan DKI Jakarta merupakan provinsi terendah dengan 7 kasus dan Papua 12 kasus. Tingkat kekerasan pada anak di seluruh Indonesia masih terbilang tinggi.

Kekerasan yang dialami oleh anak akan sangat berpengaruh pada proses pertumbuhan anak ke depannya. Dampak fisik dan psikologis yang diterima anak dari kekerasan yang dialaminya jelas berpengaruh buruk pada anak sehingga akan menghambat tumbuh kembang anak secara optimal.

Data Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menunjukkan angka kekerasan pada anak masih tinggi tiap tahunnya. Data KPAI mencatat sepanjang periode 2011-2018 jumlah total anak yang menjadi korban kekerasan sebanyak 30.462 anak.

Ironisnya, angka anak korban kekerasan justru memiliki kecenderungan meningkat per tahunnya. Penurunan angka yang sempat dialami pada tahun 2015 dan 2017 pun tidak terlalu signifikan.

Merujuk data KPAI, tahun 2014 menjadi tahun paling buruk bagi anak, mengingat angka anak korban kekerasan di tahun itu sebesar 5.066 anak, merupakan paling tinggi.

Sementara untuk tahun 2018, data KPAI mencatat per 31 Mei 2018 ada sebanyak 1.885 anak yang menjadi korban kekerasan.

Infografik Jumlah Kekerasan Kepada Anak. Infografik: Amin H. Al Bakki/Kriminologi.id

Berbicara jumlah anak korban kekerasan di sepanjang 2018, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemenpppa) menghadirkan data lainnya. Data tersebut dikeluarkan oleh Kemenpppa melalui Sistem Informasi Online Perlindungan Perempuan dan Anak (SIMFONI-PPA 2018).

Berdasarkan data Kemenpppa, sebanyak 3.307 anak di seluruh Indonesia menjadi korban kekerasan sepanjang pertengahan tahun 2018. Merujuk data itu, lima provinsi dengan jumlah anak korban kekerasan tertinggi dihuni oleh Jawa Timur, Jawa Tengah, Sumatera Utara, Sulawesi Selatan dan Banten.

https://cdn.kriminologi.id/news_picture_thumb/infografik-peta-jumlah-kekerasan-pada-anak-tahun-2018-infografik-amin-h-al-bakki-kriminologi-id-1532349959.jpg

Jawa Timur menjadi provinsi dengan jumlah korban  tertinggi dengan angka 424 anak, diikuti oleh Provinsi Jawa Tengah dengan selisih 16 kasus lebih sedikit. Di posisi ketiga ditempati Sumatera Utara dengan jumlah anak korban kekerasan mencapai 309 anak.

Infografik Peta Jumlah Kekerasan pada Anak Tahun 2018. Infografik: Amin H. Al Bakki/Kriminologi.id

Sementara untuk Provinsi Sulawesi Selatan dan Banten berturut-turut memiliki jumlah anak korban kekerasan sebanyak 237 dan 164 anak di sepanjang pertangahan tahun 2018. 

Kemudian, data Kemenpppa juga menunjukkan bahwa anak perempuan masih sangat rentan untuk menjadi korban kekerasan. Merujuk pada Kemenpppa, hingga pertangahan tahun 2018 ada sebanyak 2.294 anak perempuan menjadi korban kekerasan. Sementara untuk anak laki-laki tercatat sebanyak 1.159 anak. 

 https://cdn.kriminologi.id/news_picture_thumb/infografik-jumlah-kekerasan-pada-anak-berdasarkan-jenis-kelamin-infografik-amin-h-al-bakki-kriminologi-id-1532350091.jpg

Dari data yang sama, dapat disimpulkan juga bahwa anak dengan rentang usia 13 tahun hingga 18 tahun menjadi kelompok umur yang paling tinggi untuk menjadi korban kekerasan. Sebanyak 1.306 anak perempuan dalam kelompok umur tersebut menjadi korban kekerasan. Sementara untuk anak laki-laki tercatat sebanyak 523 anak menjadi korban hingga pertengahan tahun 2018. 

Masih merujuk pada data Kemenpppa, simpulan fakta yang berbeda ditemukan jika melihat angka anak korban kekerasan berdasarkan tingkat pendidikannya. Untuk korban perempuan, anak dengan tingkat pendidikan Sekolah Menengah Atas (SMA) menjadi kelompok yang paling tinggi menjadi korban. Sedangkan untuk laki-laki, anak korban kekerasan paling banyak dialami oleh mereka yang tingkat pendidikannya Sekolah Dasar (SD).

Infografik Jumlah Kekerasan pada Anak Berdasarkan Tingkat Pendidikan. Infografik: Amin H. Al Bakki/Kriminologi.id

Berdasarkan beberapa paparan data di atas, sangat jelas bahwa masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan oleh pemerintah untuk mewujudkan Indonesia yang ramah anak. Hal ini tentu bukan hanya menjadi beban dari pemerintah pusat, melainkan juga mencakup pemerintah daerah atau kota, penegak hukum, serta seluruh lapisan masyarakat untuk menekan angka kekerasan pada anak.

Penulis: Aditia Tjandra
Redaktur: Syahrul Munir
KOMENTAR
500/500