Ilustrasi Hakim Agung Artidjo Alkostar. Ilustrasi: Amin H. Al Bakki/Kriminologi.id

Hentakan Palu Artidjo Alkostar Bikin 8 Tokoh Besar Ini Tak Berkutik

Estimasi Baca:
Rabu, 23 Mei 2018 13:35:35 WIB

Kriminologi.id - Ketua Muda Kamar Pidana Mahkamah Agung (MA) Indonesia Artidjo Alkostar pensiun hari ini. Selama bertugas, Artidjo kerap menjadi hakim agung yang menangani perkara-perkara korupsi kelas kakap.

Ketukan palu Artidjo pun selalu menghentak para koruptor kelas kakap yang duduk dikursi pesakitan. Termasuk delapan tokoh besar di bawah ini yang sama sekali tak berkutik menghadapi kesaktian palunya.

Vonis lebih berat menanti para terpidana korupsi yang kasasinya ditangani hakim bernyali segudang itu. Dalam menjatuhkan hukuman, Artidjo seperti yang tak takut mati.

Sejumlah nama beken yang terjerat kasus korupsi pernah merasakan ketukan palu sakti hakim yang disebut Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sebagai manusia langka itu.

Kalau Komisi Yudisial melalui juru bicaranya Farid menyebut sosok Artidjo ini sangat langka. Pangkal kelangkaannya adalah karena sikap kerasnya yang tidak mengenal kata kompromi. Oleh karenanya, Artidjo dinilai sebagai hakim yang berintegritas tinggi.

Berikut deretan tokoh beken yang tak sanggup menahan kesaktian ketukan palu Artidjo:

1. Mantan Presiden PKS, Luthfi Hasan Ishaaq

Artidjo memperberat hukuman Luthfi Hasan Ishaaq dari 16 tahun menjadi 18 tahun penjara di tingkat kasasi dalam kasus korupsi daging sapi import. Tidak hanya itu, putusan kasasi juga mencabut hak politik dari mantan Ketua Umum Partai Keadilan Sejahtera (PKS) tersebut.

Artidjo menyatakan Luthfi sebagai anggota DPR melakukan hubungan transaksional dengan mempergunakan kekuasaan eletoral demi fee. Perbuatannya itu dinilai menjadi ironi demokrasi. Sebagai wakil rakyat, dia tidak melindungi dan memperjuangkan nasib petani peternak sapi nasional. Pertimbangan ini yang memberatkan vonis Luthfi.

2. Mantan Ketua Umum Partai Dekomrat, Anas Urbaningrum

Nama lain yang juga diperberat vonisnya oleh Artidjo adalah mantan Komisioner Komisi Pemilihan Umum Anas Urbaningrum. Artidjo menolak kasasi yang diajukan oleh mantan Ketua Umum Partai Demokrat itu dan memperberat hukumannya yang semula 7 tahun penjara menjadi 14 tahun penjara.

Tidak hanya itu, hak politiknya untuk dipilih dalam menduduki jabatan publik pun dicabut. Anas juga diwajibkan membayar denda sebesar Rp 5 miliar subsider 1 tahun 4 bulan kurungan.

3. Mantan Wasekjen Partai Demokrat, Angelina Sondakh

Nama lain yang merasakan ganasnya palu Artidjo adalah anggota DPR dari Fraksi Partai Demokrat, Angelina Sondakh alias Angie, yang terlibat dalam korupsi Kementerian Pendidikan Nasional serta Kementerian Pemuda dan Olahraga.

Mantan Wakil Sekjen Partai Demokrat yang juga Puteri Indonesia itu divonis 12 tahun penjara dan hukuman denda Rp 500 juta dari vonis sebelumnya 4 tahun 6 bulan.

Menurut Artidjo, majelis kasasi juga mempertimbangkan peran aktif Angie yang memprakarsai pertemuan dan memperkenalkan Mindo dengan Haris Iskandar, sekretaris Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan Nasional untuk mempermudah penggiringan anggaran Kemendiknas.

4. Mantan Ketua MK, Akil Mochtar

Ketukan palu ganas Artidjo menolak kasasi Mantan Ketua Mahkammah konstitusi (MK), Akil Mochtar dan menguatkan putusan sebelumnya yang menghukum Akil dengan pidana seumur hidup. Akil terlibat dalam sederet kasus pengamanan sengekta Pilkada di Kalimantan.

Akil divonis seumur hidup karena dinilai sebagai orang yang melek hukum, namun bertindak melanggar hukum. Akil telah menyalahgunakan kewenangannya di lembaga yang menjadi benteng terakhir keadilan rakyat Indonesia. Dia memanfaatkan benteng konstitusi untuk memperkaya dirinya sendiri.

5. Mantan Gubernur Banten, Ratu Atut Chosiyah

Dalam kasus dugaan suap terhadap hakum konstitusi terkait penanganan sengekta Pilkada di MK, mantan Gubernur Banten Ratu Atut Chosiyah tidak luput dari ganasnya ketukan palu Artidjo. Di tingkat kasasi, hukuman pidana Ratu Atut diperberat dari sebelumnya 4 tahun menjadi 7 tahun penjara.

Ratu Atut sebelumnya divonis pidana penjara 4 tahun oleh Pengadilan Tipikor Jakarta. Pada tingkat banding, Pengadilan Tinggi DKI Jakarta menguatkan putusan tersebut dengan tetap memvonis Ratu Atut selama 4 tahun.

6. Adik Gubernur Banten, Tubagus Chaeri Wardana

Adik dari mantan Gubernur Banten Ratu Atut Chosiyah, Tubagus Chaeri Wardana alias Wawan, juga diperberat hukumannya oleh mejalis hakim yang dipimpin Artidjo pada tingkat kasasi. Dalam kasus suap sengketa Pilkada Lebak, Banten, permohonan kasasi Wawan ditolak dan hukumannya diperberat menjadi 7 tahun penjara.

Sebelumnya, Wawan mengajukan kasasi karena tidak puas atas putusan banding dari Pengadilan Tinggi DKI Jakarta, yang menguatkan putusan Pengadilan Tipikor, yang menjatuhi vonis 5 tahun penjara. Wawan dinilai berperan sebagai sponsor bagi penyedia dana untuk calon Bupati Lebak Amir Hamzah.

7. Mantan Kakorlantas Polri, Irjen Pol Djoko Susilo

Pengajuan kasasi mantan Kakorlantas Polri, Irjen Pol Djoko Susilo, ditolak oleh majelis kasasi yang dipimpin oleh Artidjo. Dalam kasus korupsi dan pencucian uang terkait pengadaan alat simulator di Korlantas Polri itu, putusan MA justru memperkuat putusan banding yang diambil Pengadilan Tinggi DKI Jakarta.

Djoko Susilo tetap harus menjalani hukuman pidana penjara selama 18 tahun dan membayar pidana denda sebesar Rp 1 miliar. Kemudian dibebani pula pidana tambahan dengan membayar uang pengganti sebesar Rp 32 miliar.

8. Pengacara Kondang, OC Kaligis

Pengacara terkenal OC Kaligis juga pernah merasakan keganasan Artidjo. Majelis kasasi yang dipimpin Artidjo memperberat vonis OC Kaligis dari 7 tahun penjara menjadi 10 tahun penjara. OC Kaligis terbukti menjadi otak penyuapan terhadap Ketua Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Medan, Tripeni dan kawan-kawan.

Hal yang memperberat vonis OC Kaligis adalah profesinya sebagai seorang advokat yang seharusnya steril dari perbuatan memberikan atau menjanjikan sesuatu kepada hakim, pejabat pengadilan atau pejabat lain dalam menjalankan profesinya sesuai sumpah jabatan yang harus dipatuhi setiap advokat.

Penulis: Aditia Tjandra
Redaktur: Syahrul Munir
KOMENTAR
500/500