Ilustrasi Narapidana, Foto: pixabay.com

Jejak Para Bos Pengendali Peredaran Narkoba dari Balik Penjara

Estimasi Baca:
Sabtu, 25 Nov 2017 13:00:59 WIB

Kriminologi.id - Sepak terjang Amir Aco sebagai bos sindikat narkoba tidak berhenti walaupun dirinya tengah mendekam di dalam Lapas Kelas I Makassar. Amir Aco telah dijatuhi hukuman mati atas kasus narkoba sejak Agustus 2015. Baru-baru ini diketahui bahwa Aco menjadi pemesan dan mengatur masuknya pil ekstasi jenis baru yang berwarna hijau dari Belanda.

Tidak hanya Amir Aco yang menjadi bos sindikat narkoba dibalik jeruji penjara. Seorang narapidana Rumah Tahanan (Rutan) di Bandung, Jawa Barat berinisial YN juga menjadi ketua sindikat jaringan narkoba. Penangkapan salah seorang pengedarnya memberikan petunjuk keterlibatan YN dalam masuknya sabu-sabu senilai Rp 3 miliar dari Aceh ke Bandung.

Baca: Terpidana Mati Amir Aco Atur Peredaran Ekstasi dari Penjara

Infografik Deretan Bos Pengendali Narkoba di Balik jeruji Besi. Infografik: S. Dwiangga Perwira/Kriminologi.id

Bos sindikat jaringan narkoba ini banyak yang sedang berada di balik terali besi. Terungkapnya informasi ini karena hasil pengembangan dari penangkapan para pengedar yang akhirnya merujuk pada nama-nama narapidana. Berdasarkan penelusuran Kriminologi, rupanya selama  2017 hampir setiap bulan terungkap bos sindikat jaringan narkoba itu merupakan narapidana. Mereka mengatur, memesan, dan mengontrol peredaran narkoba dari balik Lapas. Inilah daftar peristiwanya:

* Januari 2017

Seorang warga negara Pakistan yang menjadi narapidana di Lapas Cipinang rupanya ogah berhenti dari bisnis narkobanya. Penyelundupan sabu-sabu seberat 441 gram yang disembunyikan di dalam laptop digagalkan oleh pihak bea cukai. Barang ini masuk dari Malaysia melalui jalur udara. Ketika barang tersebut tiba di Bandara Soekarno-Hatta Tangerang dan melewati mesin x-ray, petugas mencurigai barang tersebut dan membongkarnya. Berdasarkan pengembangan diketahui bahwa pengendali sindikat jaringan ini adalah narapidana AG.

* April 2017

Ada 9 narapidana yang tengah mendekam di Lapas Cipinang turut diperiksa terkait sindikat jaringan peredaran narkoba internasional. Ini diawali dengan tertangkapnya seorang warga negara Jerman yang menyelundupkan sabu-sabu di dalam kopernya. Dari pengembangan polisi ini kemudian ditemukan keterlibatan 9 narapidana di Lapas Cipinang.

* Mei 2017

Dua orang penghuni Lapas Tanjung Gusta Medan dijemput oleh Badan Narkotika Nasional. Mereka berdua diduga berperan sebagai pengendali jaringan sindikat narkoba internasional di Aceh, Malaysia, dan Medan. Kedua narapidana ini adalah Togiman alias Toge dan Thomson Hutabarat. Toge sendiri sebenarnya adalah narapidana hukuman mati atas kasus narkoba.

Selain itu, seorang narapidana Lapas Kesambi Cirebon juga menjadi aktor pengendali peredaran narkoba di wilayah Jawa Barat. Penangkapan empat orang pengedar secara berurutan di lokasi yang berbeda ternyata merupakan satu sindikat jaringan di bawah narapidana berinisial J, yang telah dijatuhi vonis hukuman penjara 15 tahun untuk kasus serupa.

Baca: Dikendalikan Amir Aco, Pil Ekstasi Jenis Baru Dijual Rp 300 Ribu

* Juli 2017

Narapidana Lapas Batu Nusakambangan bernama Aseng menjadi pengendali atas masuknya narkoba jenis ekstasi. Aseng diduga memesan ekstasi sebanyak 1,2 juta dari Belanda. Berdasarkan temuan polisi dari ponsel milik Aseng, diketahui bahwa dialah yang berkoordinasi dengan temannya di luar Lapas untuk mengurus pesanan itu ketika datang.

Narapidana Lapas Kelas IIB Pati bernama Bambang Budianto alias Londo juga menjadi aktor di balik peredaran narkoba. Londo menyuruh anak perempuannya yang bernama Ira untuk mengedarkan narkoba di daerah Blora, Jawa Tengah.

* Agustus 2017

Narapidana bernama Amirul Huda, penghuni Lapas kelas II Sragen, Jawa Tengah menjadi pengendali peredaran narkoba di daerah Semarang. Keterlibatan Huda terungkap saat dua pengedarnya ditangkap BNN Provinsi Jawa Tengah. Barang Bukti penangkapan tersebut adalah sabu-sabu seberat 300 gram.

* September 2017

Seorang narapidana di Lapas Tarakan, Kalimantan Utara menjadi pemodal, pemesan, dan juga pengendali atas masuknya narkoba jenis sabu-sabu seberat 11, 4 kilogram. Sabu-sabu ini dipesan langsung dari Malaysia dan masuk ke Indonesia melalui jalur laut.

* Oktober 2017

Sutrisno Babe, narapidana di Lapas Kedungpane Semarang menjadi otak peredaran narkoba di daerah Solo. Berdasarkan pemeriksaan di sel Sutrisno, ditemukan adanya 3 ponsel yang disembunyikan di bawah ranjangnya. Koordinasi dengan para pengedar dilakukan melalui ponsel. Jaringan narkoba yang dikendalikan oleh Sutrisno adalah jaringan Nigeria. Dalam mengendalikan bisnisnya ini, Sutrisno dibantu oleh anak kandungnya dan juga seorang pria kenalannya. Setiap hari Sutrisno mendapatkan transfer Rp 70 juta  hingga Rp 90 juta.

Baca: Usut Peredaran Narkoba Rp 3 Miliar, Polisi Masuk ke Rutan Bandung

* November 2017

Dulah, narapidana hukuman mati yang menghuni Lapas Langsa Aceh juga menjadi pengendali jaringan sindikat narkoba. Salah seorang anggota sindikat jaringan Dulah ditangkap oleh Badan Narkotika Nasional (BNN). Barang bukti yang diamankan adalah 30 bungkus sabu-sabu seberat 38,9 kilogram dan satu bungkus pil Happy Five sebanyak 10 ribu butir.

Penulis: Orisa Shinta Haryani
Redaktur: Nula
KOMENTAR
500/500