Terdakwa kasus dugaan teror bom Thamrin Aman Abdurrahman alias Oman Rochman (tengah) menjalani sidang dengan agenda pembacaan tuntutan di PN Jakarta Selatan, Jakarta, Jumat (18/5). Foto: Antara

Kegaduhan di Momen Aman Abdurrahman, Penundaan Tuntutan Hingga Pledoi

Estimasi Baca:
Sabtu, 26 Mei 2018 09:05:10 WIB

Kriminologi.id - Aman Abdurrahman, otak sekaligus pelaku bom Thamrin, Jakarta menjadi sosok yang menyita perhatian masyarakat belakangan ini.

Pimpinan Jamaah Ansharut Daulah (JAD) ini dikait-kaitkan menjadi orang di belakang layar peristiwa kegaduhan yang memicu terjadinya teror bom bunuh diri dan penyerangan terhadap petugas. 

Hampir setiap momen penting yang menyangkut Aman Abdurrahman kerap diiringi kegaduhan. 

Mulai dari kericuhan di Markas Komando Brigade Mobil atau Mako Brimob Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat, sejak Selasa, 8 Mei 2018 malam hingga Kamis, 10 Mei 2018 dini hari, hingga terakhir menjelang sidang pledoinya di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Jumat, 25 Mei 2018. 

Menjelang sidang pentolan Jamaah Ansharut Daulah (JAD) itu terdengar bunyi ledakan keras sebanyak dua kali. Sontak ledakan tersebut membuat sejumlah pengunjung sidang panik dan membuat sidang sempat diskors.

Sempat muncul dugaan sumber ledakan itu bagian dari aksi teror. Akan tetapi, setelah dilakukan penyelidikan ternyata bunyi ledakan tersebut berasal dari pengelasan sebuah drum oleh pekerja proyek yang terletak di seberang PN Jakarta Selatan.

Kapolres Metro Jakarta Selatan, Kombes Indra Jafar, memastikan sumber ledakan itu hanya dari tong berisi cairan kimia yang meledak karena kelalaian pekerja proyek.

"Bukan aksi teror, jadi tukang pekerja mau potong drum untuk dijadikan tempat sampah. Tapi drum itu masih ada cairan kimianya, karena mau dilas untuk dipotong akhirnya kena percikan api," jelas Indra di depan Gedung PN Jaksel.

Meskipun demikian, insiden ledakan drum tersebut sempat membuat polisi menutup Jalan Ampera sebagai upaya mensterilkan wilayah. 

Kegaduhan sebelumnya terjadi di Markas Komando Brigade Mobil atau Mako Brimob Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat, sejak Selasa, 8 Mei 2018 malam hingga Kamis, 10 Mei 2018 dini hari.

Kericuhan itu sempat dikaitkan dengaan tuntutan para narapidana teroris yang meminta bertemu dengan Aman Abdurrahman, selaku pimpinannya.

Akibat kericuhan itu juga, sidang pembacaan tuntutan Aman Abdurrahman oleh jaksa ditunda. Meski pada akhirnya Aman dituntut hukuman mati oleh jaksa penuntut umum. 

Pada kerusuhan itu, lima anggota Kepolisian gugur. Kelima anggota yang gugur adalah, Iptu Luar Biasa Anumerta Yudi Rospuji Siswanto, Aipda Luar Biasa Anumerta Deni Setiadi, Brigpol Luar Biasa Anumerta Fandi Setyo Nugroho, Briptu Luar Biasa Anumerta Syukron Fadli dan Briptu Luar Biasa Anumerta Wahyu Catur Pamungkas.

Kelima anggota Polri tersebut mendapat kenaikan pangkat luar biasa, anumerta berdasarkan Surat Keputusan Kapolri Nomor 615/V/2018.

Akibat ulah Aman Abdurrahman juga menyeret ke semua lini. Hingga legislatif pun ikutan gerah karena dikait-kaitkan dengan rancangan undang-undang terorisme yang sempat tertunda beberapa tahun di DPR. 

Terhitung hanya saat sidang perdana Aman Abdurrahman yang berjalan mulus tanpa menimbulkan riak-riak. Sidang perdananya pada Kamis, 15 Februari 2018 silam berjalan tanpa disertai kegaduhan. 

Kegaduhan yang mencolok saat kerusuhan yang terjadi di rutan Mako Brimob Kelapa Dua, Depok, sekitar dua pekan yang lalu. Kerusuhan yang terjadi di Blok B dan Blok C itu pun menjadi catatan paling mencekam dalam rekam jejak kericuhan yang dilakukan oleh napi teroris.

Kericuhan yang merenggut enam korban jiwa, lima di antaranya adalah anggota Polri terjadi hanya beberapa hari sebelum sidang lanjutan Aman, yang seharusnya digelar hari Jumat, 11 Mei 2018.

Namun, sidang itu akhirnya diundur sepekan kemudian, Jumat, 18 Mei 2018, yang menghasilkan putusan tuntutan hukuman mati terhadap Aman.

Sidang Aman menjadi sorotan lantaran dirinya disebut menjadi salah satu bahan negosiasi para napi teroris untuk menghentikan aksi ricuh di rutan Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok.

Kadiv Humas Mabes Polri, Irjen Setyo Wasisto, mengungkapkan memang ada tuntutan napi teroris yang ingin bertemu dengan pimpinan ISIS di Indonesia itu.

Kegaduhan lainnya terjadi beberapa hari setelah kerusuhan selama 36 jam di Mako Brimbo, Kelapa Dua Depok. Yakni serangan bom bunuh diri yang terjadi di 3 gereja di Surabaya dan Mapolrestabes Surabaya, Jawa Timur.

Spekulasi keterlibatan Aman pun muncul dari berbagai pihak, mengingat dirinya menjadi otak sejumlah serangan teroris di berbagai daerah di Indonesia sebelumnya.

Namun, kuasa hukum Aman, Asrudin Hatjani, sesaat usai sidang tuntutan mengungkapkan bahwa peristiwa teror yang terjadi belakangan seperti kericuhan di Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat, lalu serangan bom bunuh diri di Surabaya, Jawa Timur, tak ada hubungannya dengan terdakwa terorisme bom Thamrin tersebut.

Selain itu, Asrudin juga mengatakan pada saat insiden kerusuhan di Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok, kliennya itu memang sedang ditahan dalam rutan napiter Mako Brimob. Namun, Aman ditahan di rutan yang berbeda dengan pada waktu kerusuhan terjadi.

Aman Abdurrahman dituntut hukman mati oleh jaksa penuntut umum dalam persidangan di PN Jakarta Selatan. Pendiri Jamaah Ansharut Daulah (JAD) itu didakwa menjadi otak sejumlah serangan teroris di berbagai daerah di Indonesia, mulai dari Kampung Melayu dan Sarinah Thamrin, Jakarta, hingga bom Gereja Samarinda.

Aman seharusnya bebas pada 17 Agustus 2017 setelah menjalani masa hukuman Sembilan tahun atas keterlibatannya dalam pelatihan militer kelompok Jamaah Islamiyah (JI) di pegunungan Jalin, Kabupaten Aceh Besar, pada tahun 2010 silam.

Namun polisi menetapkan kembali Aman sebagai tersangka pada 18 Agustus 2017, karena diduga terlibat dalam serangan bom Thamrin.

Penulis: Aditia Tjandra
Redaktur: Syahrul Munir
KOMENTAR
500/500