Ilustrasi penyandang difabel. Foto: Pixabay

Kekerasan Terhadap Difabel, Kasus Ian Bukan Pertama Kali

Estimasi Baca:
Sabtu, 25 Ags 2018 19:00:25 WIB

Kriminologi.id - Ali Achmat Firmansyah alias Ian (20), pemuda berkebutuhan khusus menjadi korban penganiayaan yang dilkukan sejumlah petugas keamanan saat menghadiri acara Flora dan Fauna di Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, pada Jumat, 17 Agustus 2018. Penganiayaan itu diterima pria yang memiliki penyakit epilepsi itu lantaran petugas menuduhnya mencuri uang.

Kekerasan yang diterima Ian beragam, dari diseret dan dipukul, hingga disundut rokok dan ditumpahi lelehan botol plastik yang dibakar. Semua itu dilakukan oleh sejumlah petugas keamanan guna memaksanya mengakui telah mencuri uang sebesar Rp 2,4 juta saat ditangkap. Padahal uang itu milik Ian dari hasil menabung.

Tidak terima dengan tindak kekerasan yang dialami Ian, pihak keluarga melaporkan kasus ini ke Polres Jakarta Pusat. Sebanyak delapan orang ditetapkan sebagai tersangka. Enam pelaku sudah dibekuk polisi, sementara dua pelaku lainnya masuk dalam daftar pencarian orang.

Kekerasan yang dialami Ian sangatlah miris, melihat bagaimana tidak manusiawinya para petugas keamanan dalam melakukan interogasi. Terlebih dilakukan terhadap orang dengan berkebutuhan khusus atau difabel.

Kasus kekerasan yang menyasar orang difabel sudah beberapa kali terjadi. Pandangan sebagai masyarakat kelas dua membuat para penyandang disabilitas rentan untuk mengalami perlakuan yang semena-mena.

Kekerasan yang diterima bisa berbentuk fisik maupun nonfisik. Kekerasan bisa dilakukan oleh siapa pun, mulai dari oknum petugas keamanan, seperti yang dialami Ian, juga oleh teman bahkan keluarga sendiri.

Berikut beberapa kasus kekerasan terhadap penyandang disabilitas lainnya yang berhasil Kriminologi.id rangkum.

1. Penyandang Difabel Dianiaya Satpol PP Karena Dituduh Mabuk

Sebelum munculnya kasus Ian, seorang penyandang difabel lainnya bernama Andi Takdir (30) mengalami penganiayaan oleh sejumlah petugas Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, pada 23 Desember 2017. Ia dianiaya setelah dituduh mabuk saat menonton temannya berlatih break dance di Lapangan Merdeka.

Saat itu, sekelompok petugas Satpol PP yang dipimpin Kepala Seksi Trantip berinisial Br menghentikan kegiatan break dance di lapangan tersebut.

Pria penyandang tuna daksa kinetik itu sempat mempertanyakan alasan petugas menghentikan latihan itu, namun justru menerima pemukulan dari para petugas. Sebelumnya, Takdir juga dituduh mabuk, lalu disuruh duduk dan dibentak oleh petugas.

Tidak berhenti di situ, para petugas juga memukuli dan menendang Takdir. Para petugas menganiayanya secara membabi buta padahal dirinya seorang penyandang disabilitas yang butuh perlindungan. Mirisnya, pemukulan oleh sejumlah Satpol PP itu juga disaksikan anaknya.

2. Intimidasi dan Bullying Terhadap Mahasiswa Difabel di Depok

Kekerasan yang diterima oleh penyandang disabilitas juga bisa berbentuk nonfisik. Seperti yang dialami oleh Muhammad Fauzan, mahasiswa berkebutuhan khusus di Universitas Gunadarma Depok, Jawa Barat. 

Pada 15 Juli 2017, jagat media sosial diramaikan oleh video bullying yang viral. Video itu memperlihatkan seorang mahasiswa yang mengenakan jaket abu-abu tengah dikelilingi oleh tiga mahasiswa lainnya. Salah seorang pelaku menarik tas ransel korban sehingga ia tidak bisa melangkah. Sementara kedua pelaku lainnya berdiri di depan korban sambil meledek. Tidak hanya itu, sekitar sepuluh mahasiswa lainnya yang menonton juga terlihat ikut mengejek korban.

Setelah dilakukan penelusuran lebih lanjut, diketahui korban dalam video itu adalah mahasiswa berkebutuhan khusus bernama Muhammad Fauzan. Ia mengaku sudah sering menerima perlakuan tidak baik dari teman-teman mahasiswanya.
Fauzan mengaku bahwa teman satu kampusnya juga kerap melakukan perlakuan intimidatif lainnya, seperti menahan pintu kelas sehingga dirinya tidak bisa keluar kelas, sampai dengan menarik tasnya. 

Salah satu rekan Fauzan juga menuturkan mahasiswa berkebutuhan khusus tersebut kerap di-bully, baik secara verbal maupun nonverbal, di kelasnya. Hampir setiap hari mahasiswa berkebutuhan khusus itu menjadi bahan olokan teman sekelas.

3. Anak Berkebutuhan Khusus Disetrika Ibu Tiri

Seorang anak berkebutuhan khusus bernama Denis Aprilian (10) menjadi korban kekerasan dari ibu tirinya pada 22 Maret 2015. Seorang ibu bernama Suheni (33) tega menyetrika wajah anak tirinya yang mengidap autis hingga melepuh, lantaran kesal sang anak suka bermain dan pulang hingga larut malam.

Peristiwa keji itu terjadi di kediaman mereka di Jalan Masjid Al-Wusto, Kelurahan Bambu, Kecamatan Duren Sawit, Jakarta Timur. Suheni mengaku kekesalannya memuncak karena Denis tak mengenal waktu saat bermain, malas belajar dan suka buang air besar di celana.

Tidak hanya menyetrika pipi kiri anak tirinya, Suheni juga sempat menendang dan menginjak kepala bagian belakang, mencubit dan menginjak tangan bagian kanan korban sehingga mengalami luka lecet pada jari korban.

Uka (42), ayah kandung Denis, yang mengetahui hal tersebut langsung melaporkan istrinya ke Polres Jakarta Timur untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya. Akibat perbuatannya, pelaku dikenakan Pasal 80 UU RI No 23 tahun 2002 tentang kekerasan fisik terhadap anak dengan ancaman hukuman 15 tahun penjara.

Penulis: Aditia Tjandra
Redaktur: Reza Yunanto
KOMENTAR
500/500