ilustrasi pembunuh bayaran. Ilustrasi: Dwiangga Perwira/Kriminologi.id

Ketika Pembunuh Bayaran Berkemampuan Pasukan Elite TNI Jalankan Aksi

Estimasi Baca:
Sabtu, 4 Ags 2018 23:05:01 WIB

Kriminologi.id - Abdullah Sunandar, pembunuh bayaran yang menjadi eksekutor Herdi Sibolga diketahui adalah mantan anggota Tentara Nasional Indonesia (TNI) Angkatan Laut. Latar belakang pendidikan di dunia militer diduga menjadi modal Sunandar dalam menjalankan aksinya sebagai pembunuh bayaran.

Berdasarkan penelusuran kriminologi.id, tidak hanya Sunandar yang memiliki latar belakang sebagai anggota TNI dan memilih menjadi pembunuh bayaran. Beberapa kasus dilakukan oleh pembunuh bayaran yang berlatar belakang pernah bergabung dalam kesatuan elite TNI.

Pembunuhan Bos Asaba

Marinir merupakan pasukan elite TNI Angkatan Laut, semua prajurit Korps Marinir TNI AL dilatih dan digembleng untuk menjadi prajurit petarung yang handal. Baik bertarung menggunakan senjata maupun tanpa senjata alias tangan kosong.

Rupanya bekal kemampuan handal para prajurit Marinir ini justru disalahgunakan untuk tindak kejahatan seperti yang dilakukan oleh Kopda (Mar) Suud Rusli, Kopda (Mar) Fidel Husni, Letda (Mar) Syam Ahmad Sanusi, dan Pratu (Mar) Santoso Subianto.

Mereka justru menjalankan perintah sebagai pembunuh bayaran yang mengeksekusi Direktur Utama PT Aneka Sakti Bakti (Asaba), Boedyharto Angsono pada 19 Juli 2003. Terungkapnya kelompok pembunuh bayaran ini berawal dari kecurigaan penyidik kepolisian terhadap penemuan selongsong peluru dengan kaliber sembilan millimeter.

Kaliber sembilan millimeter ini adalah jenis senjata yang menjadi senjata standar para prajurit TNI walaupun tidak menutup kemungkinan warga sipil memiliki senjata tersebut. Berdasarkan saksi yang ada di lokasi kejadian, para pelaku awalnya memberondong pengawal Boedyharto yang bernama Edi Siyed saat membukakan pintu mobil bagi bosnya di halaman parkir Gelanggang Olahraga Pluit, Jakarta Timur.

Edi tewas seketika terkena tembakan di kepala bagian kanan, leher, dan dada. Melihat peristiwa itu, Boedyharto segera melarikan diri namun dirinya jelas kalah sigap dibandingkan para prajurit Marinir yang mengincarnya. Seorang pelaku langsung menembakkan senjatanya dan bersarang di kepala, dada, dan punggung.

Boedyharto tewas seketika. Setelah itu, para pelaku penembakan meninggalkan lokasi dengan menggunakan sepeda motor dan meninggalkan mayat para korbannya begitu saja. Kecurigaan penyidik terhadap keterlibatan militer akhirnya mendorong kepolisian menjalin kerja sama dengan Pomal Pangkalan utama Angkatan Laut (Lantamal) III Jakarta dalam melakukan penggerebekan terhadap para pelaku.

Seluruh pelaku berhasil ditangkap, namun penyergapan terhadap para pelaku diwarnai baku tembak dan menyebabkan tiga orang anggota Pomal terluka. Pengadilan Militer akhirnya menjatuhi hukuman mati terhadap Kopda (Mar) Suud Rusli dan Letda (Mar) Syam Ahmad Sanusi yang menjadi eksekutor pembunuhan Boedyharto.

Sedangkan Kopda (Mar) Fidel Husni dan Pratu (Mar) Santoso Subianto dipecat dari Korps Marinir TNI AL.

Pembunuhan Ketua Yayasan Dimas Kanjeng

Komando Pasukan Khusus atau Kopasus merupakan pasukan elite TNI Angkatan Darat. Anggota Kopassus memiliki kemampuan khusus untuk dapat bergerak secara cepat di setiap medan, kemampuan pengintaian, anti terror dan kemampuan menembak dengan tepat. Berbagai kemampuan bertempur dan peyelamatan.

Kemampuan yang tidak main-main ini rupanya menjadi bekal bagi segelintir orang dalam menjalankan profesi gelapnya sebagai pembunuh bayaran, seperti yang dilakukan oleh dua Letkol (Purn) Wahyudi dan Kapten Ahmad Suryuno.

Wahyudi sebenarnya adalah pensiunan anggota Kopassus dan Ahmad Suryono adalah anggota aktif Kopassus yang akhirnya dipecat secara tidak setelah terbukti terlibat dalam pembunuhan Abdul Gani. Korban yang bernama Abdul Gani sebelumnya menjabat sebagai Ketua Umum Yayasan Dimas Kanjeng Taat Pribadi.

Otak pembunuhan tersebut diduga kuat adalah Dimas Kanjeng yang menuduh Abdul Gani melaporkan praktik penipuan penggandaan uang miliknya ke kepolisian. Sehingga kemudian disewalah beberapa orang yang bersedia membunuh Abdul Gani dengan upah sekitar Rp 30 – 50 juta per orang. Ada sembilan orang yang akhirnya menyanggupi tugas tersebut, termasuk Wahyudi dan Ahmad Suryuno

Awalnya Abdul Gani dipancing untuk mendatangi padepokan Kiai Kanjeng. Setelah sampai di ruangan, muka Abdul langsung dibekap plastik dan kepalanya dihantam dengan batu. Setelah terjatuh, salah seorang pelaku menjerat leher Abdul hingga tak bergerak. Selanjutnya mayat Abdul ditelanjangi dan dimasukkan ke dalam boks plastik ukuran 90 sentimeter x 70 sentimeter.

Setelah itu, para pelaku membuang mayat Abdul ke Waduk Gajah Mungkur yang terletak di Wonogiri, Jawa Tengah. Kemudian pelaku membakar baju yang dikenakan oleh korban. Tindakan-tindakan ini dilakukan para pelaku untuk menghilangkan jejak dan barang bukti.

Berdasarkan hasil putusan pengadilan, Wahyudi yang merupakan pensiunan anggota Kopassus di vonis hukuman penjara selama 20 tahun. Sedangkan Achmad Suryono yang saat itu masih menjadi prajurit Kopassus divonis 10 tahun penjara.

KOMENTAR
500/500