Ilustrasi peredaran narkoba di jeruji besi. Ilustrasi: Dwiangga Perwira/Kriminologi.id

Lapas Tak Steril dari Bisnis Narkoba, Ini Daftarnya Selama 2017

Estimasi Baca:
Minggu, 21 Jan 2018 09:00:09 WIB

Kriminologi.id - Penangkapan Kepala Rutan Purworejo, Cahyono Adhi Satriyanto oleh petugas Badan Narkotika Nasional (BNN) karena menerima uang sebesar Rp 313 juta dari narapidana narkotika Christia Jaya Kusuma alias Sancai telah mengungkap keterlibatan aparat dalam bisnis narkoba yang dikendalikan dari dalam Lapas.

Kepala BNN, Komjen Budi Waseso mengatakan bahwa uang yang diterima Cahyono agar Sancai bisa leluasa menjalankan bisnis narkoba di dalam Lapas.

“Uang yang diterima Cahyono sebagai ungkapan terimakasih Sancai karena bisa menjalankan bisnis haram tersebut di dalam Lapas,” ujar pria yang akrab disapa Buwas ini.

Baca: Karutan Purworejo Terima Duit Rp 313 Juta dari Napi Narkotika

Penangkapan Cahyono bukanlah hal yang baru. Kasus peredaran narkoba yang beredar di dalam Lapas tidak sekali dua kali terjadi di Indonesia. Temuan-temuan di mana narapidana, pengunjung, dan bahkan petugas lapas sendiri juga berperan dan terlibat dalam bisnis narkoba di dalam Lapas ini.

	Infografik Daftar Lapas Terlibat Bisnis Narkoba Sepanjang Tahun 2017. Infografik: Amin H. Al Bakki/Kriminologi.id

Sepanjang tahun 2017,  Kriminologi mencatat terdapat 16 Lembaga Pemasyarakatan dan Rumah Tahanan yang tersangkut masalah bisnis narkoba. Berikut daftar Lapas tersebut:

1. Lapas Jambi dan Lapas Kuala Tungkal, Provinsi Jambi

Dua orang petugas Lapas Jambi dan seorang petugas Lapas Kualatungkal diberhentikan secara tidak hormat oleh Kementerian Hukum dan HAM pada Oktober 2017. Penyebabnya karena mereka bertiga tertangkap tangan membawa masuk narkoba ke dalam lapas dan juga berperan sebagai kurir narkoba.

Ketiganya ditangkap di tempat dan waktu yang berbeda, namun peran yang dijalani ketiganya serupa. Ketiga petugas inilah yang menerima pesanan dari narapidana dan kemudian bertugas membawa masuk narkoba pesanan narapidana tersebut ke dalam lapas.

2. Lapas Bangkinang, Riau

Narapidana di Lapas Kelas II B Bangkinang ditangkap karena membawa narkoba pada 23 Desember 2017. Pelaku tertangkap tangan oleh petugas lapas dan langsung diserahkan kepada Polres Kampar untuk penyelidikan lebih lanjut. Berdasarkan pengembangan yang dilakukan diketahui ada 13 narapidana lain yang terlibat dalam peredaran narkoba di dalam lapas.

3. Lapas Rajabasa, Lampung

Narapidana dan petugas Lapas Rajabasa ditangkap oleh Ditnarkoba Polda Lampun pada 31 Juli 2017. Petugas lapas yang ditangkap menjabat posisi sebagai tamping di Lapas Rajabasa. Barang bukti yang disita dari pelaku adalah 4 paket sabu-sabu seberat 3,5 gram yang diletakkan dalam kotak rokok merk Surya 16.

4. Lapas Bengkulu

Seorang sipir Lapas Kelas II Curup, Rejang Lebong ditangkap oleh Direktorat Reserse Narkoba Polda Bengkulu. Pelaku ditangkap karena diduga menjadi kurir narkoba jenis sabu-sabu di lapas.

Pelaku menyimpan sabu-sabu di Asrama Lapas Curup dan di rumahnya yang terletak di Desa Bumi Sari Ujan Mas, Kabupaten Kapahiang. Penggeledahan yang dilakukan di kedua tempat tersebut ditemukan barang bukti 70 gram paket sabu-sabu, 17 butir pil ekstasi, dan 1 biji ganja seberat 10 gram.

5. Lapas Bireun, Aceh

Lima narapidana dan seorang petugas Rumah Tahanan Bireun, Aceh ditangkap oleh Satuan Narkoba Polres Bireun. Berdasarkan hasil pemeriksaan dan penggeledahan, polisi mengamankan barang bukti berupa paket sabu-sabu dari tangan tersangka.

6. Lapas Kelas III Sumatera Utara

Seorang petugas Lapas Narkoba Kelas III di Desa Campa, Langkat diamankan karena diduga terlibat peredaran narkoba di dalam lapas. Informasi ini didapatkan dari hasil pengembangan dan penyidikan yang dilakukan terhadap seorang narapidana kasus narkoba berinisial S. Petugas lapas ini terancam ditahan dan dipecat secara tidak hormat.

Baca: Jejak Para Bos Pengendali Peredaran Narkoba dari Balik Penjara

7. Lapas Kelas II A Pematang Siantar

Tujuh orang narapidana Lapas Kelas IIA Pematang Siantar diamankan lantaran ditemukan bungkus sabu-sabu di dalam salah satu sel di Blok BB pada 11 September 2017. Tidak hanya bungkus paket sabu-sabu, sebuah timbangan digital, sendok takar yang terbuat dari sedotan, sebuah kaca porex, da nsebuah bong yang terbuat dari botol lasegar turut diamankan.

Sebulan sebelumnya, petugas juga menemukan 973 paket ganja di dalam lapas tersebut. Semua penghuni kamar sel yang berjumlah 13 orang diserahkan kepada Polres Simalungun untuk penyelidikan lebih lanjut untuk mengetahui siapa pemiliknya dan bagaimana keterlibatan para penghuni sel tersebut.

8. Lapas Kelas I Jambe, Tangerang

Seorang pengunjung Lapas Kelas I Jambe, Tangerang kedapatan membawa sabu-sabu seberat 1 gram ke dalam lapas. Menurut penuturannya, pelaku hendak memberikan barang tersebut kepada salah satu narapidana berinisial AG. Narapidana AG adalah tahanan titipan yang menempati sel di Blok B lapas tersebut.

9. Lapas Porong Kelas I Surabaya

Petugas Lapas Porong Kelas 1 Surabaya ditangkap oleh aparat Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Jawa Timur. Penangkapan dilakukan pada 15 Juli 2017 dengan barang bukti sabu-sabu seberat 20 gram yang disembunyikan dalam bungkus rokok.

Petugas lapas berinisial AR tersebut kerap membawa narkoba ke dalam Lapas Porong. Menurut pengakuan AR, dia bertugas sebagai kurir dengan imbalan Rp 1 juta – Rp 3 juta setiap pengambilan barang.

10. Lapas Cipinang

Direktorat Reserse Narkoba Polda Metro Jaya mengungkap kasus peredaran narkoba di dalam lapas. Seorang petugas Lapas Cipinang ditangkap karena menjadi kurir untuk memasukkan narkoba ke dalam lapas. Pada saat penangkapan, pelaku sedang mengambil barang kepada seseorang berinisial MS di RSUD Persahabatan, Jakarta Timur pada 20 Juni 2017. Barang bukti yang diamankan adalah sabe-sabu seberat 510 gram.

11. Lapas Kelas II Pemuda Tangerang

Seorang petugas Lapas Kelas II Pemuda Tangerang ditangkap karena turut berperan dalam peredaran narkoba di dalam lapas. Petugas ini ditangkap berdasarkan hasil pengembangan. Sebelumnya, Direktorat Reserse narkoba Polda Metro Jaya menangkap HS yang mengaku menjadi pemasok bagi seorang sipir di Lapas Kelas II Pemuda Tangerang.

Ketika dilakukan penangkapan terhadap petugas lapas tersebut diketahui bahwa dia adalah suruhan narapidana khusus narkoba berinisial AG. Barang bukti sabu-sabu seberat 20 gram diamankan dari kamar yang dihuni AG di dalam lapas.

12. Rumah Tahanan Kelas IIB Depok

Kesatuan Pengamanan Rutan Depok melakukan pemeriksaan dan penggeledahan terhadap sel di Blok C pada 13 Juni 2017. Penggeledahan tersbeut membuahkan hasil, ditemukan sebungkus sabu-sabu seberat 3 gram milik salah satu narapidana berinisial DS.

Temuan tersebut akhirnya mendorong petugas lapas untuk melakukan pemeriksaan dan penggeledahan kamar sel di blok lainnya. Akhirnya, di sebuah kamar sel di Blok A ditemukan sepuluh bungkus kecil sabu-sabu yang siap edar. Bungkusan tersebut diketahui juga milik salah satu narpidana berinisial MA.

13. Lapas Kelas III Bekasi

Polres Metro Bekasi Kabupaten menangkap dua orang sipir yang menjadi pengedar di Lapas Kelas III Bekasi. Keduanya diduga adalah kunci dari peredaran sabu-sabu di dalam lapas. Lapas Kelas III Bekasi ini memang mayoritas dihuni oleh narapidana khusus kasus narkoba. Saat penangkapan, polisi menyita barang bukti sabu-sabu seberat 2,72 gram.

14. Lapas Narkotika Kelas IIIA Bayur, Samarinda

Badan Narkotika Nasional Kota (BNNK) Samarinda pada Mei 2017 menangkap seorang kurir yang mengaku mendapatkan pesanan dari salah seorang narapidana di Lapas Narkotika Kelas IIIA Bayur, Samarinda.

Pelaku ditangkap ketika hendak mengambil barang di sebuah Anjungan Tunai Mandiri (ATM) di kawasan Samarinda Seberang. Barang bukti yang diamankan dari penangkapan tersebut adalah sabe-sabu seberat 51 gram.

Selanjutnya pada 24 Oktober 2017 petugas lapas menangkap salah seorang pengunjung yang kedapatan meyembunyikan sabe-sabu seberat 5,48 gram dalam bungkus kopi dan diletakkan di dalam kotak roti.

Baca: Riset: Peredaran Narkoba, Narapidana, dan Lapas

Begitu banyaknya kasus-kasus yang menunjukkan peran narapidana dan petugas lapas dalam peredaran narkoba di dalam lapas merupakan bukti bahwa sistem kontrol dan pengawasan yang dilakukan di dalam lapas sangat lemah.

Lemahnya pengawasan ini terjadi hampir di seluruh lapas yang ada di Indonesia. Tentu saja ini membutuhkan perhatian khusus dari pemerintah pusant untuk menetapkan standar pengawasan dan kontrol terkait masalah peredaran narkoba di dalam lapas baik yang berfokus pada narapidana dan pengunjung maupun yang berfokus pada petugas lapas sendiri. RZ

KOMENTAR
500/500