Ledakan Bom di Pasuruan Tak Sedahsyat Aksi Teror Sidoarjo dan Surabaya

Estimasi Baca :

Ilustrasi bom bangil Pasuruan. Ilustrasi: Dwiangga Perwira/Kriminologi.id - Kriminologi.id
Ilustrasi bom bangil Pasuruan. Ilustrasi: Dwiangga Perwira/Kriminologi.id

Kriminologi.id - Teror bom kembali meledak dan meresahkan masyarakat di daerah Jawa Timur, Kamis, 5 Juli 2018. Tiga ledakan bom terjadi di rumah kontrakan yang berada di kelurahan Pogar Kidul, Bangil, Pasuruan, Jawa Timur.

Ledakan bom di Pasuruan ini tak sedahsyat aksi teror sebelumnya di Sidoarjo dan Surabaya, Jawa Timur. Rentetan bom di kedua lokasi yang terjadi bulan Mei 2018 itu memiliki daya ledak yang luar biasa dengan jumlah korban 25 tewas dan 57 menjalani perawatan di rumah sakit setempat. 

Sedangkan ledakan di Pasuruan ini hanya melukai seorang bocah  berusia 6 tahun yang langsung dibawa ke rumah sakit. Kepolisian Daerah Jawa Timur masih menyelidiki insiden ledakan tersebut.

Menurut polisi, ledakan yang berasal dari bahan peledak di rumah kontrakan tersebut memiliki daya ledak rendah atau low explosive.

Akibat ledakan tersebut, seorang bocah berusia 6 tahun terluka dan langsung dibawa ke rumah sakit. Peristiwa ledakan bom di Pasuruan ini menambah panjang daftar aksi teror bom yang pernah terjadi di wilayah Jawa Timur.

Masih lekat di ingatan kita peristiwa rentetan teror bom yang terjadi di beberapa daerah di Jawa Timur lainnya pada bulan Mei 2018 yang lalu. Rentetan ledakan bom terjadi dalam kurun waktu yang berdekatan, setidaknya terjadi 5 ledakan ditemukan di Surabaya dan Sidoarjo.

Rentetan teror bom tersebut terjadi mulai Minggu, 13 Mei 2018, sekitar pukul 07.00 WIB di Gereja Katolik Santa Maria Tak Bercela di Jalan Ngagel Madya, saat jemaat gereja akan melangsungkan misa pagi.

Tak berselang lama, ledakan susulan terjadi di Gereja Pantekosta Pusat Surabaya, di Jalan Arjuno, dan di Gereja Kristen Indonesia, di Jalan Raya Diponegoro. Ketiga lokasi ledakan bom tersebut berada di daerah Surabaya, Jawa Timur.

Ketiga ledakan tersebut diketahui merupakan aksi teror bom bunuh diri yang melibatkan satu keluarga sebagai pelakunya. Teror tersebut dilakukan oleh pimpinan Jamaah Ansharut Daulah (JAD) Surabaya bernama Dita Oepriato, bersama dengan istrinya, Puji Kuswati, dan empat anaknya.

Tidak berhenti di situ, ledakan bom lainnya terjadi di sebuah rumah susun di kawasan Wonocolo, Sidoarjo, pada Minggu malam sekitar pukul 21.20 WIB. Ledakan bom itu terjadi diduga karena kesalahan dari pelaku teror saat tengah merakit bom.

Dari peristiwa itu, terduga pelaku teroris bernama Anton (47) tewas, berserta istrinya bernama Puspita Sari (47) dan anak sulungnya LAR (17). Istri dan anaknya diketahui tewas akibat ledakan. Sementara Anton tewas ditembak polisi lantaran melawan dan mengancam akan meledakkan bom lainnya saat dilakukan penyergapan.

Keesokan harinya, aksi teror bom bunuh diri yang melibatkan satu keluarga kembali terjadi. Senin, 14 Mei 2018, ledakan yang berasal dari bom bunuh diri terjadi di Mapolrestabes Surabaya, sekitar pukul 08.50 WIB.

Adapun bom meledak di pos pemeriksaan di depan Mapolrestabes. Serangkaian aksi teror yang terjadi itu membuat pihak kepolisian bertindak semakin tegas dalam upaya memerangi terorisme di Indonesia.

Sejak terjadinya bom bunuh diri yang menghantam tiga gereja dan Mapolrestabes di Surabaya, dan satu di Sidoarjo, puluhan terduga teroris yang diburu berhasil diamankan dari berbagai tempat.

Sebanyak 74 orang terduga teroris telah diamankan pihak kepolisian hingga akhir Mei 2018, 14 di antaranya tewas saat proses pengamanan.

Jauh sebelum rentetan aksi teror bom bunuh diri yang melibatkan satu keluarga itu, masyarakat Surabaya juga pernah digegerkan dengan ledakan yang berasal dari sebuah paket di sebuah warung di Jalan Laksda M Nasir, Surabaya, pada Senin, 11 Desember 2017.

Paket tersebut ternyata memang berisi bahan peledak. Pascaledakan ditemukan rangkaian baterai yang terhubung dengan kabel, karton pembungkus, serta ada pecahan kaca. Beruntung tidak ada korban jiwa dari peristiwa tersebut.

Kemudian, ancaman teror bom di daerah Jawa Timur juga pernah terjadi di Kabupaten Malang pada tahun 2014. Sebuah paket bom meledak di bilik ATM Mandiri di Kabupaten Malang, sekitar pukul 02.52 WIB.

Beruntung tidak ada korban jiwa dari ledakan tersebut. Berdasarkan hasil olah tempat kejadian perkara (TKP), bahan peledak saat itu dimasukkan ke dalam paket berukuran 10x15x25 cm. Adapun paket tersebut berisi dua potongan besi berukuran 10 milimeter dan 12 milimeter.

Selain itu, juga berisikan bahan peledak belerang. Di tahun yang sama, ledakan bom juga pernah terjadi di sebuah rumah di Pasuruan, Jawa Timur, pada 12 Februari 2014.

Saat itu, warga sekitar sempat mengira ledakan berasal dari ledakan elpiji. Namun belakangan diketahui bahwa yang meledak adalah bom.

Insiden tersebut menewaskan tiga orang, antara lain satu pemilik rumah dan lainnya adalah tamu. Selain itu, seorang perempuan juga terluka di wajah dan kakinya. Korban langsung dilarikan ke Rumah Sakit Sudarsono, Pasuruan. MSA

Baca Selengkapnya

Home Lapor & Waspada Peta Kejahatan Ledakan Bom di Pasuruan Tak Sedahsyat Aksi Teror Sidoarjo dan Surabaya

KOMENTAR

Tulis Komentar Kamu

Silahkan masuk terlebih dahulu
Silahkan tulis komentar kamu