Ilustrasi ujaran kebencian (Amin H. Al Bakki/Kriminologi.id)

Lelucon Berujung Perkara Hukum, dari Ancam Jokowi Sampai Bom

Estimasi Baca:
Minggu, 27 Mei 2018 13:00:24 WIB

Kriminologi.id - Bercanda tidak dilarang, namun harus ada batasannya. Sebuah lelucon akan menjadi tidak lucu lagi jika menimbulkan keresahan bagi khalayak ramai. Jika tidak berhati-hati dalam memperhitungkan dampak dari lelucon yang disampaikan, tidak jarang perkara hukum pun akan menanti. Hal ini yang dialami oleh dua anggota DPRD Banyuwangi belum lama ini.

Dua anggota DPRD Banyuwangi yakni Basuki Rahmad dan Nauval Badri diamankan petugas Bandara Banyuwangi karena bercanda mengenai bom saat hendak naik pesawat Garuda rute Banyuwangi-Jakarta di Bandara Banyuwangi pada Rabu 23 Mei 2018.

Candaan mengenai bom itu membuat seorang pramugari panik dan melaporkan hal itu ke pilot, dan pilot tidak berani terbang kalau penumpang tersebut tidak turun.

Mirisnya, saat petugas memberitahukan bahwa bercanda mengenai bom adalah di larang, kedua penumpang tersebut justru marah dan mengancam petugas. Oleh karenanya, kedua penumpang tersebut diserahkan kepada aparat kepolisian.

Akibat candaan itu, keduanya dijerat pasal 437 ayat (1) jo pasal 344 huruf e Undang-undang RI Nomor 1 Tahun 2009 tentang Penerbangan dengan ancaman hukuman maksimal 1 tahun penjara.

Ternyata candaan yang akhirnya berujung pada perkara hukum tidak hanya kali ini saja terjadi. Berikut adalah tiga candaan tidak bijak lainnya yang pernah terjadi, mulai dari ancaman ke presiden hingga lelucon mutilasi.

1. Menghina dan Mengancam Jokowi sebagai Bahan Lelucon, Remaja Dibekuk Polisi

Sebuah video yang menampilkan remaja menghina dan menunjuk-nunjuk foto Presiden Jokowi viral di media sosial. Bahkan, pada video yang diunggah oleh akun Facebook bernama Eris Riswandi, Rabu, 23 Mei 2018, itu juga berisi ancaman terhadap Jokowi.

Dalam video berdurasi 20 detik itu, tampak seorang remaja berkacamata sambil bertelanjang dada mengeluarkan kata-kata kasar bernada ancaman pembunuhan, dengan cara menembak kepala Presiden Jokowi.

"Gua tembak kepalanya. Gua pasung kepalanya. Liat nih. Ini kacung gua nih. Dia kacung gua. Gua pasung kepalanya. Liat mukanya tuh. Jokowi gila. Gua bakar rumahnya. Presiden, gua tantang lu, cari gua 24 jam, lu ngga nemuin gue, gue yang menang. Salam Jordani," kata remaja tersebut sembari memegang bingkai foto Presiden Jokowi dan menunjuk-nunjuk wajahnya.

Setelah diusut, remaja dalam video teridentifikasi berinisial RJT, berusia 16 tahun. Pihak kepolisian pun langsung mengamankan RJT untuk dimintai keterangan dengan didampingi oleh orang tuanya.

Beruntung, polisi memafkan RJT dan berencana menutup kasus ini. Keputusan itu diambil setelah mengetahui motif sebenarnya di balik aksi remaja tersebut dan menimbang usia RJT yang masih remaja, sebagaimana diungkapkan Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Susanto, di Polda Metro Jaya, Kamis, 24 Mei 2018.

Menurut Susanto, RTJ tidak bermaksud menghina Jokowi, Aksinya itu hanya sekadar lucu-lucuan bersama lima temannya, terutama karena RJT ditantang untuk melakukan hal tersebut. Polisi akhirnya tidak melakukan penahanan terhadap RJT, namun dititipkan ke Panti Sosial Marsudi Putra Handayani.

2. Bercanda Bom di Bandara, Eka Gagal Pulang Kampung

Perkara hukum akibat candaan mengenai bom di bandara juga pernah dialami Eka Friendi, seorang calon penumpang pesawat Lion Air rute Tarakan-Surabaya di Bandara Juwata. Eka diamankan polisi setelah mengeluarkan lelucon tentang bom kepada petugas Avsec Bandara Juwata Tarakan, Jumat, 18 Mei 2018.

Lelucon itu berawal saat tas milik Eka berbunyi ketika masuk di pintu SCP II di lantai II Terminal Bandaa Juwata Tarakan. Petugas pun menanyakan apa isi dari tas tersebut. Namun, tanpa diduga Eka menyebut di dalam tasnya adalah bom.

Petugas menanyakan perihal isi tas tersebut sebanyak dua kali, namun Eka lagi-lagi menjawab isinya adalah bom. Akibatnya, petugas Avsec langsung menahan Eka dan menyerahkannya kepada Polres Tarakan.

Saat ditahan, Eka mengaku senang bercanda sehingga saat ditanya oleh petugas bandara terkait isi tasnya dia pun dengan nada bercanda dan menjawab seenaknya bahwa isi tasnya bom. Eka mengira nanti ptugas bandara juga dapat melihat isi tasnya pada saat dibuka. Namun dirinya tidak menduga leluconnya akan membuatnya berurusan dengan kepolisian. Akibat ulahnya, Eka terpaksa batal berangkat ke kampung halamannya.

3. Bercanda Status “Marthabak Telor”, Pria di Mamuju Ditangkap Polisi

Lantaran iseng menulis status di media sosial Facebook, seorang pria berinisial H (32) di Kota Mamuju, Sulawesi Barat, terpaksa harus berurusan perkara hukum. Pemilik akun bernama Ancha Evus itu ditangkap kepolisian Mamuju pada Senin, 17 Juli 2017, lantaran statusnya berjudul “Marthabak Telor” di Facebook yang membuat warga resah.

Melalui akunnya, H menulis status bahwa Kota Mamuju saat ini berstatus siaga 1 karena ada kasus mutilasi terhadap seseorang bernama Martha. Pada statusnya itu juga diunggah foto rumah dengan garis polisi yang penuh dengan kerumunan warga, serta gambar perempuan dalam keadaan terikat. Statusnya itu ditulis pada Sabtu, 16 Juli 2018.

Status yang dituliskan tersebut agak panjang sehingga banyak pengguna Facebook lainnya yang tidak membaca hingga tuntas. Akibatnya, status tersebut membuat resah warga Mamuju. Meskipun sebenarnya di akhir tulisan H mengungkapkan bahwa “Martha” yang dimaksud adalah “Marthabak Telor.”

Berikut status yang dituliskan oleh H di akun Facebooknya:

"IMAMUJU siaga 1. Info dari polres MAMUJU, untuk masyarakat MAMUJU dan sekitarnya diharapkan waspada bila berjalan di malam hari. Tadi malam sekitar jam 00.30 WITA di daerah pasar lama MAMUJU telah ditemukan korban mutilasi bernama Martha. Dia ditemukan dengan kondisi fisik terpotong-potong menjadi 12 bagian. Korban ditemukan warga dengan kondisi terbungkus. Kabarnya sebelum dimutilasi korban dimasukkan ke dalam minyak panas. TRAGISS Polisi sedang menyelidiki identitas MARTHA secara lengkap. Menurut info dari warga setempat nama lengkap korban adalah MarthaBak Telor. #slamat ya,, Wkkkwkkk… Hanya hiburan"

Karena ulahnya tersebut, H harus berurusan dengan polisi lantaran perbuatannya dinilai telah meresahkan masyarakat Mamuju, dan melanggar Undang-undang Nomor 19 tahun 2016 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE). RZ

KOMENTAR
500/500